Are you the publisher? Claim or contact us about this channel


Embed this content in your HTML

Search

Report adult content:

click to rate:

Account: (login)

More Channels


Channel Catalog


(Page 1) | 2 | newer

    0 0


    cerita sex Pada sore hari itu, dari sebuah sudut bangunan sebuah sekolah dasar yang terletak di pinggir kota “A”, terdengar suara desah-desahan yang nyaris tak terdengar oleh orang lain. Desahan-desahan itu erdengar seperti tertahan pada balik pintu kamar mandi guru sekolah MA ( Madrasah Aliyah ) di kota “A” itu. Karena mendengar desahan itu, pada waktu itu sesosok pria yang tengah berdiri dan menempelkan telinganya. Dengan seksama dia-pun mendengarkan desahan-desahn yang terdengar nampak seru sekali.

    Sebut saja nama Pria itu Jaka, dia adalah seorang guru olahraga pada sekolah itu yang umurnya sekitar 26 tahun. Didalam kamar mandi ada sesosok perempuan dengan berbusana islamik dan rok panjang berwarna coklat muda nampak sedang terduduk di pinggir bak mandi dengan memakai jilbab panjang membalut kepalanya. Dengan jari lentik dan rok panjang yang telah tersingkap, terlihat memainkan klitorisnya.

    Dengan mata yang tertutup, seakan-akan wanita itu telah melayang ke dunia lain. Bibir tipis dari guru cantik yang berjilbab itu sesekali mengeluarkan desahan-desahan kecil kenikmatan-nya. Dan Sekarang perempuan cantik berjilbab itu nampak berpindah posisi menghadap tembok sembari membungkuk menahan tubuhnya di tembok kamar mandi dengan posisi sedikit menungging.

    Dengan diikuti tangan kanannya yang tertopang dinding dan dengan tangan satunya memainkan klitorisnya dari depan, wanita cantik itu mulai mendesah.

    “ Uuuh… mmhhh… Sss… Aghhh… … ”, desah wanita berjilbab itu pelan tertahan. 

    Mulailah aliran keringat mengalir mengaliri keningnya. Ketika GURU berjilbab itu hampir mendapatkan tiba klimaks-nnya, dengan tiba-tiba terdengar suara,

    “ Gubraaak… ”,

    Rupanya suara itu adalah bunyi pintu kamar mandi yang didobrak dengan paksa, lalu,

    “ Hah… Ustazah Lisa… ”, ucap kaget pria yang berdiri di depan pintu kamar mandi itu.

    Mata Pria itu saat itu tidak berkedip sedikitpun ketika melihat perempuan cantik berseragam itu sedang memaikan klitorisnya. Lalu wanita itupun tersentak kaget,

    “ Apa…. Ustad Jaka…. ”, katanya kaget setengah berteriak.

    Karena terpergok oleh ustad Jaka wanita itupun tidak tahu akan berbuat apa pada saat itu. Yang dipanggil Ustazah Lisa alias perempuan berjilbab itu, dia langsung jongkok merapatkan kakinya untuk menutupi Kewanitaanya dari penglihatan Ustad Jaka. Tapi percuma saja Lisa menutupi kewanitaanya, dia yang ketika itu kaget pada saat itu tangannya masih berada diantara pahanya, tepatnya di Area Kewanitaan Lisa.

     

    “ Apa yang Ustad Jaka lakukan, cepat pergi dari sini !!! ”, ucap panik Lisa mengusir Jaka.

     

    Pada saat itu wajahnya yang cantik terbungkus jilbab hitam sedada itu nampak pucat karena takut dan malu. Yang dihardik, bukannya keluar tapi malah cepat-cepat masuk dan menutup pintu kamar kamar mandi dan menguncinya.

     

    “ Ngapain pak??!!… Keluar!! ”, hardik Lisa sekali lagi sembari tetap berjongkok sambil merapikan rok panjangnya ke bawah yang tadinya tersingkap sampai sepinggul.

     

    “ Ustazah Lisa ”, kata Jaka sembari mendeka dan mendekap tubuh guru perempuan berjilbab itu. Perempuan itu terhenyak kaget, tapi tidak berani berteriak karena takut kalau-kalau ada orang yang mengetahui kalau dia bermasturbasi di kamar mandi sekolah.

     

    “ Jangaan pak ”, ronta Lisa sembari berusaha melepaskan dekapannya.

     

    Perempuan berjilbab itu menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri dari dekapan pria tersebut, namun dia tetap mendekap Lisa erat-erat. Sampai-sampai GURU berjilbab itu hampir menabrak dinding.

     

    “ Tolong… jangan paak ”, pintanya dengan suara memelas ketakutan.

     

    Namun pria separuh baya tersebut tidak menggubris rengekan wanita berjilbab yang berumur 23 tahun itu, bahkan dia malah mendekatkan wajahnya serta menciumi leher Lisa yang tertutup jilbab.

     

    “ Jangaaan Pak, tolong jangan lakukan ini…. ”, pinta Lisa merengek.

     

    Ketika itu Jaka nampak begitu beringas dengan nafas mendengus sambil menciumi leher yang tertutup jilbab hitam.

     

    Tangannya mulai meraba-raba buah dada guru berjilbab itu dari luar baju seragam coklat mudanya. Lisa sadar kalau dia terjebak makanya dia berusaha melawan. Dengan sekuat tenaga didorong tubuhnya dan berhasil. Pria itu terjatuh di lantai kamar mandi. Memanfatkan situasi itu, Lisa bergegas ke arah pintu. Namun dikala hendak mencoba membuka grendel pintu kamar mandi, tangan guru berjilbab itu tertahan oleh tangan Jaka yang kekar.

     

    “ Pak… lepaskan aku… tolong pak… ”, kata Lisa meronta.

     

    Namun Jaka yang sudah kesetanan itu tidak mendengarkannya lagi. Pria itu malah memiting tangan kanan guru cantik berjilbab itu ke belakang dengan kasar, sedang tangannya yang lain menahan tangan kiri Lisa di dinding. Perempuan berjilbab itu terjebak nampak tubuhnya seperti terkunci dan tidak bisa bergerak.

     

    “ Jakamm … sakit… lepaskan ”, pinta Lisa dengan suara memelas.

     

    “ Ustazah Lisa… biarkan aku… ”, bisik pria itu ketelinga Lisa yang tertutup jilbab itu disertai dengusan.

     

    “ Ahhh lepaskan ”, pinta guru MA ( madrasah Aliyah ) yang cantik itu memohon lagi begitu mengetahui tubuh kekar pria itu menekan tubuh Lisa ke dinding.

     

    Perempuan berjilbab hitam itu nampak panik ketakutan ketika merasa ada benda yang keras kenyal menekan kearah bokongnya yang tertutup rok panjang berwarna coklat muda itu. Guru perempuan itu semakin memberontak berusaha melepaskan kuncian tangan Jaka.

     

    “ Sebaiknya Ustazah Lisa jangan berisik, nanti ada orang yang dengar. Biarlah saya dipukuli orang tetapi saya akan cerita ke semua orang kalau Ustazah Lisa masturbasi di kamar mandi ”, ancam Jaka.

     

    Ancamannya begitu mengena sehingga guru cantik berjilbab itu menghentikan perlawanannya. Mengetahui mangsanya mengendurkan perlawanan, tangan-tangan kekar pria itu menarik kedua tangan Lisa merapat kedinding hingga saling berhimpitan.

     

    “ Jangan pak, kumhon jangan ”, pinta guru berjilbab itu memelas kepada Jaka.

     

    Tapi sia-sia, tangan kanan pria itu dengan bebas meraba-raba buah dada Lisa sambil sesekali meremasnya. Sedangkan tangan kiri pria itu mengunci kedua pergelangan tangan Lisa yang merapat didinding. Ekspresi wajah berbalut jilbab hitam itu terlihat ketakutan bercampur sendu.

     

    “ Aahh Ustazah Lisa… .nenennya gede banget eummhhh… ”, kata-kata kotor sekaligus memuji keindahan tubuh Lisa keluar dari mulutnya.

     

    Kurang puas meraba buah dada perempuan berjilbab itu dari luar blazer lengan panjang berwarna coklat muda tersebut, tangan Jaka yang kasar meyusup masuk kedalam baju yang dikenakan Lisa.

     

    “ Ammpuun pak lepaskan ”, mohon Lisa kala pria itu mulai memeras kedua buah dadanya.

     

    Namun Jaka tidak menggubrisnya, malah guru cantik berjilbab itu merasakan kejantanan pria itu sudah sangat keras sekali menabrak-nabrak pantatnya. Ini semua menandakan dia benar benar sudah sangat ingin menyetubuhi Lisa.

     

    “ Ugghh… Sayang… puaskan kejantananku sekarang yah ? ”, bisik Jaka pelan penuh nafsu sambil menarik rok panjang semata kaki coklat muda Lisa keatas.

     

    “ Pakk… jangan… jangan. Tolong kasihanilah saya ”, kata guru berjilbab itu memelas putus asa.

     

    Nampaknya apapun yang dikatakan Lisa tidak dapat membendung nafsu setan Jaka.

    Sejenak Lisa tidak merasakan tangan kanan pria itu meraba-raba tubuhnya. Penasaran apa yang dilakukannya, guru berjilbab itu menoleh ke belakang dan alangkah kagetnya Lisa dikala melihat pria itu mengeluarkan kejantanan-nya. Meskipun Lisa tidak melihat dengan jelas, namun dia bisa melihat bentuk kejantanan pria tersebut.

     

    Terlihat sangat besar dan hitam legam keluar dari sangkar-nya. Belum hilang rasa kaget Lisa, Jaka menekan tubuh perempuan berjilbab hitam itu hingga menempel ke dinding. Dirasakannya benda kenyal dan keras itu sedang menggesek-gesek dan menabrak pantat Lisa.

     

    “ Sss… Aghhh… pantatmu montok banget sayang… ”, kata Jaka sembari meremas remas pantat guru cantik berjilbab itu.

     

    Lisa terhenyak kaget karena teringat ketika bermasturbasi tadi dia melepas celana dalam dan masih tergantung di pintu kamar mandi. Lisa nampak sudah pasrah karena meras tidak mungkin lepas. Terasa oleh guru berjilbab itu sebuah benda keras dan kenyal sedang menggesek-gesek belahan kewanitaan miliknya yang licin seperti mencari-cari sasaran. Akhirnya benda itu berhenti tepat di celah bibir kewanitaan Lisa.

     

    “ Ampun pak… Jangan… tolong kumohon… ”, pinta Lisa lagi putus asa kala menyadari dalam hitungan detik kejantanan Jaka akan segera masuk kedalam tubuhnya.

     

    “ Oughhh… Ssss… ahhh… Ustazah Lisa udah lama saya pengen bercinta sama kamu. kamu sungguh montok sekali… ”, jawabnya tanpa memperdulikan permohonan perempuan berjilbab itu.

     

    Dan tiba tiba terasa oleh Lisa pria tersebut mulai bergerak menyeruak masuk membelah bibir kewanitaan miliknya. Panik, Lisa sekuat tenaga mencoba melawan dengan sisa-sisa harapannya. Namun bukannya terlepas tapi malah karena gerakan tubuh Lisa kejantanan pria itu malah makin terbenam masuk ke dalam lubang kewanitaan miliknya.

     

    “ Aaaah tidaaak… ”, jeritnya dalam hati ketika merasakan batang kejantanan pria itu membenam memenuhi kewanitaannya.

     

    Ekspresi wajah cantik terbalut jilbab hitam itu nampak ingin menangis sembari menggigit bibirnya. Sungguh , kewanitaan Lisa yang sudah basah ketika bermasturbasi tadi malah memudahkan batang kejantanan Jaka itu masuk. Kejantanan yang besar itu pun masuk perlahan menggesek dinding lubang kewanitaan Lisa dengan gerakan pelan tapi pasti.

    “ Uugghh… eummm… Lisa, memek kamu enak banget… oughhh… aghhh… ”, racau Jaka ke telinga Lisa yang tertutupi jilbab ketika kejantanan-nya dibenamkan kedalam rahim Lisa.

    “ Eghhh… eummmh… ”, desah Lisa seolah membalas racauan nikmat Jaka.

    Wajah cantik yang terbalut jilbab hitam itu nampak sedikit mengernyit seakan menahan perih karena mungkin belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke dalam kewanitaannya. Ketika batangan itu amblas, Lisa terdiam, antara bingung, takut, takjub, nikmat dan kaget. Semuanya itu berkecamuk dikepalanya. Lisa hanya pasrah, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

    Seakan dia tidak menyangka bahwa akan mendapatkan fantasi sex untuk bercinta di kamar mandi sekolah dan disetubuhi dari belakang kesampaian juga. Tapi bedanya persetubuhan ini bukan dengan sosok pria yang ada dalam fantasinya selama ini. Tapi kenyataannya, malah seorang penjaga sekolah yang sedang mendesah-desah dibelakang Lisa, dan yang sedang membenamkan kejantanan-nya di kewanitaan Lisa.

    Kenyataan yang harus diterima Lisa kala Jakalah yang sedang asyik menikmati dan memompa kejantanan-nya keluar masuk di lubang kewanitaan miliknya.

    “ Oughhh… sayang… oughhh… nikmat rasanya ”, desah Jaka sambil meracau berkali kali. 

    “ Sshh… ngghh… emmm… ”, desah Lisa kecil seakan mulai merasakan nikmatnya genjotan Jaka.

    Guru Olah raga itu terus menyodok dan memompa kejantanan miliknya sedalam-dalamnya tanpa henti. Kedua tangan Lisa masih ditahan oleh tangannya yang kekar di dinding kamar mandi. Makin lama perempuan cantik berjilbab ini hanyut oleh getaran birahi yang mulai menebarkan rasa nikmat yang menjalar keseluruh tubuhnya.

    “ Sss… ahhh… emmm… Ough… ”, desah Lisa pelan dengan tubuh yang terguncang-guncang menerima sodokan kejantanan Jaka dari belakang.

    “ Hemmm… Enak-kan sayang… ? ”, tanya Jaka tiba tiba.

    Ketika itu Lisa hanya terdiam malu, dia tidak berani berkomentar sembari menundukkan wajahnya yang terbalut jilbab itu sembari mencoba menghindari usaha bibir Jaka yang ingin mengecup pipi kanannya.

     

    “ Ayo tunggingin dikit dong sayang pantat kamu… ”, pinta Jaka sembari menarik bongkahan pantat guru berjilbab itu keatas.

     

    Tanpa menjawab, lalu Lisa-pun menunggingkan pantatnya sedikit seperti permintaan Jaka.

     

    “ Eumm… pantat kamu memang montok banget sayang, nggak salah apa yang aku khayalkan selama ini ”, ujar Jaka sembari meremas remas bokong Lisa dengan gemas dan bernafsu.

     

    Sambil tangan kirinya menahan pinggul guru cantik berjilbab itu, Jaka kembali menyodokkan kejantanan-nya kembali.

     

    “ Sss… Aghhh… pak pelan-pelan… Oughhh… ”, pinta Lisa kala merasakan penetrasinya terasa lebih dalam dari sebelumnya.

     

    Mungkin karena perempuan berjilbab itu menunggingkan pantatnya sehingga posisi kewanitaan itu benar-benar bebas hambatan. Jaka tidak memperlambat sodokannya malah dipercepat, membuat Lisa mulai mendesah pelan penuh nikmat.

     

    “ Ssss…. Aghhhh… ”, desah Lisa pelan kala merasakan gesekan kejantanan Jaka di liang kewanitaannya.

     

    Karena melihat tubuh Lisa yang terdorong dorong ke depan, Jaka dengan sengaja melepaskan kedua tangan Lisa sehingga ia dapat menahan tekanan tubuh pria itu dengan kedua tangan Lisa bertumpu pada tembok.

     

    “ Ssss… ahhh… gilakkk… sungguh kenikmatan yag luar biasa… ouhhh… ” ucap Jaka.

     

    Jaka yang menikmati kewanitaan lisa, kedua-tangannya-pun meremas remas bokong bulat padat milik guru cantik berjilbab itu sambil tidak berhenti menyodok-nyodokkan kejantanan-nya “ Oughhh… .… sayyangghh… oughhh… . ”, desah Jaka semakin kencang. “ Ohh… ngghh… pp… pak… ja… jangan berisik pak… ”, pinta Lisa karena takut desahannya didengar orang.

     

    “ I… i… iyahh… Innhh… emhh abis memek kamu enak banget… aghhh… ”, katanya pelan dengan nafas menderu.

     

    Sodokan demi sodokan pria tersebut semakin cepat. Kurang puas meremas-remas bokong guru cantik berjilbab itu, Jaka menguakkan belahan pantat Lisa. Dan satu jari pria itu mulai membelai dubur Lisa. Kontan Lisa menggeliat sembari menggoyang pantatnya kekanan dan kekiri karena kegelian.

     

    “ Oughhh… Ustad Jaka… oughhh… .” ,

     

    Lisa tidak lagi mendesah tetapi mendesah karena rasa nikmat yang tercipta dari sodokan kejantanan Jaka ditambah gesekan jarinya yang membelai dubur milik gadis berjilbab itu. Semua seperti racikan yang pas membuat guru SD berjilbab itu lupa diri membuatnya tidak dapat membendung desahan nikmat yang keluar dari bibirnya.

     

    “ Ooghh… Oughhh… .hh… ngghh… ”, desah Lisa menggila dikala jari Jaka menusuk-nusuk didalam dubur guru berjilbab itu, dan secara spontan pantat Lisa-pun semakin menungging.

     

    Setiap kali pria itu menarik kejantanan-nya jari ditusukkan kedalam dubur Lisa. Gerakan dua insan yang berlainan jenis itu semakin panas. Pantat guru cantik berjilbab itu nampak bergetar-getar hebat kala kejantanan dan selangkangan Jaka membentur-bentur keras bokong Lisa. Kepala Lisa yang terbungkus oleh jilbab hitam itu nampak mengangguk-angguk kepayahan menerima sodokan Jaka sedari tadi.

     

    Desahan dan racauan dari mulut kedua mahluk lain jenis ini juga semakin tidak karuan. Baju seragam GURU yang berwarana coklat muda serta jilbab yang dikenakan Lisa nampak basah kuyup akibat keringat serta suhu lembab dan panasnya persetubuhan itu.

     

    “ Aghhh… a… aku… mau keluar… uohhh… Lisa… ”, desah Jaka yang akan mencapai klimaksnya.

     

    “ Oughhh… . eummm… Ahhh… ”, desah Lisa keras sembari merapatkan tubuhnya ke dinding yang diikuti Jaka dengan menyodokkan kejantanan-nya dalam-dalam. Bahkan Jaka juga menusukkan jarinya sampai amblas kedalam lubang dubur Lisa.

     

    “ Ouhhh… uhhhh… . ”, desah panjang Lisa yang tertahan pertanda dia telah mencapai Klimaks-nya. (walau kenyataannya guru berjilbab itu habis diperkosa).

     

    Ditelannya air liurnya sendiri sembari menikmati sisa kenikmatan puncak orgasme tadi, sedang kejantanan Jaka ternyata masih sibuk memompa liang kewanitaan Lisa. Kedua tangannya memcengkeram pantat yang bulat dan padat itu sambil memompa kejantanan-nya dengan ganas. Dan,

    “ Oughhh … Lisaa… Ssss… . ahhh… ”, erang Jaka sembari menghentakkan kejantanan-nya rapat-rapat ke pantat Lisa sambil menekan tubuh guru berjilbab itu hingga tersudut pada dinding kamar mandi.

     

    Ekspresi wajah cantik terbalut jilbab itu nampak kaget kala menyadari kejantanan Jaka menyemburkan air mani hangat memenuhi rahim miliknya. Berkali-kali pria itu menghentakkan kejantanan-nya dalam-dalam membuat tubuh Lisa terdorong ke tembok.

     

    “ Oughhh… eummm… ahhh… ”, desah Lisa sang guru berjilbab itu tanpa sadar ikut menikmati sensasi Jaka menjelajahi di dalam liang kewanitaan Lisa.

     

    Denyutan serta semburan air maninya yang masih hangat berhamburan membasahi rahim Lisa. Sekilas raut wajah guru cantik berjilbab itu seakan tersadar kembali. Lalu Dirapatkan tubuhnya kedinding dan menarik nafas sembari teringat kalau dia memang sudah mau menstruasi. Dalam hati Lisa hanya bisa berharap air maninya tidak membuahi telur dirahimnya.

     

    “ Ouhhh… Lisa … eumm… ”, desah pria itu sembari mencoba mencium pipi Lisa.

     

    Guru berjilbab itu menolak sembari mendorong Jaka dengan mata melotot. Melihat Lisa yang protes, Jaka segera merapikan pakaiannya tanpa membersihkan kejantanan-nya yang masih dilumuri cairan kewanitaan guru berjilbab itu.

     

    “ Cepat keluar pak ”, hardik Lisa dengan suara lantang sambil merapikan rok panjangnya.

     

    Jaka tanpa berkata apa-apa langsung keluar dari kamar mandi. Guru berjilbab itu lalu langsung membersihkan kemaluannya dari air mani Jaka yang mengalir keluar.

     

    “ Hihhh… banyak seklai air mani dia… huhhh… ”, ucap Lisa dalam hati.

     

    Singkat cerita setelah Lisa merapikan baju seragamnya, dengan cara mengendap endap Lisa-pun keluar dari kamar mandi dengan hati berdebar yang bercampur takut bila sampai ada orang yang mengetahui apa yang terjadi tadi di kamar mandi tadi. Lalu Lisa-pun pulang dengan perasaan kecewa karena dia dia baru saja berhubungan sex secara paksa oleh Pria yang tidak sesuai dengan yang diinginkannya. cerita sex


    0 0


    cerita bokep Ketika itu aku dan teman-temanku berjalan-jalan di tempat para berkumpulnya kalangan anak muda. Pada saat itu ketika sedang melintas di jalan Tebet aku melihat ada seorang cewek, lalu tanpa berfikir panjang aku menghentikan mobilku, lalu aku-pun menghampirinya dan akhirnya kami-pun berkenalan. Setelah berkenalan, aku-pun tahu nama cewek tersebut adalah Denisa.

    Kamipun kemudian mengobrol, setelah beberapa saat kami mengobrol, akupun akhirnya tahu bahwa dia ternyata masih berumur 20 tahun. Gambaran tentang gadis itu seperti ini, tinggi badan sekitar 168 cm, berat bdan 65 kg dan ukuran BH-nya jika aku perkirakan sekitar 34B. Setelah kami selesai mengobrol, akhirnya aku menawarkan untuk mengantar pulang Denisa, dan dia-pun setuju.

    Dalam perjalanan pulang kami berbicara tentang hobi, makanan kesukaan, dan lain-lain. Setelah setengah jam perjalanan akhirnya kami-pun sampai dirumah Denisa. Sebelum aku berpamitan pulang aku meminta nomer telefon Denisa, dengan alasan aku ingin komunikasi agar pertemanan kami berlanjut. Singkat cerita pada esok harinya kira-kira pada pukul 09.00 pagi, Denisa menghubungi aku by Phone,

    “ Pagi Rahmat, ayo bangun jangan tidur terus ? ” ucap salam Denisa padaku,

    “ Iya pagi juga, Maaf… ini siapa yah ? ”, tanyaku penasaran.

    “ Ihh.. masa kamu lupa sih sama aku, Aku Denisa yang semalam kenalan sama kamu… ” ucapnya mengingatkanku,

    “ Oh… Denisa, iya, iya aku ingat, ngomong-ngomong kamu lagi diimana Nih ” tanyaku,

    “ Aku lagi di Roxy Nih, hari ini kamu ada acara nggak Mat ? ” ucapnya,

    “ Emmmm… aku nggak ada acara deh kayaknya, eMatg kenapa Niss ? ”, jawab-ku.

    “ Aku mau ngerepotin kamu, boleh nggak Mat ? ” ucapnya.

    “ EMatg mau ngrepotin apa sih Nis, to the point aja deh ”, jawabku. 

    “ Kamu mau nggak jemput aku ? ”, ucapnya.

    “ EMatg kamu diimana, biar aku jemput ? ” tanyaku. 

    “ Aku lagi di Roxy Nih, jemput yah, jam 10.00 kamu sampai sini ya !!! ”, ucapnya. 

    “ Oke deh Niss, wait me !!! ”, ucapku.

     

    Singkat cerita setelah aku telefon kami terputus, aku-pun kemudian Mandi, dan langsung meluncur ke arah Roxy. Kira-kira setelah setengah jam perjalanan, akupun sampai di roxy. Disana kami hanya ngobrol sejenak, lalu kami-pun memutuskan untuk pergi. Kemudian kami-pun meNisnggalkan tempat itu.

     

    “ Kita mau kemana Nih Niss ? ”, tanya-ku.

     

    “ Terserah kamu aja deh Mat, aku nurut… ”,

     

    “ Emmm… kemana yah… Oh iya gimana kalau kita main kerumahku aja? gimana, mau nggak Nis ? ” ucapku menawarkan kepada Denisa,

     

    “ Oke deh Mat terserah kamu aja ”, jawabnya.

     

    “ Kamu-kan baru kenal sama aku, emangnya kamu nggak takut apa ? ”, tanya-ku

     

    “ Takut ??? eMatg harus taku apa sama kamu, hhe… ” ucapnya dengan sedikit bercanda.

     

    “ Kamu nggak takut kalau aku perkosa apa ? ” ucapku bercanda.

     

    Tapi dia dengan santainya menjawab, “ Ga usah diperkosa juga mau kok… he… he… ”, sambil melirik kearahku dan mencubit Matja pinggangku.

     

    Kemudian aku bertanya,

     

    “ Bener Nih? ”.

     

    “ Oke… Siapa takut … ” jawabnya dengan beraNis.

     

    Lalu segera kita meluncur ke arah rumahku di bilangan Sudirman yang memang sehari-harinya selalu kosong. Begitu sampai aku lalu mempersilahkan Denisa untuk masuk lalu kami duduk bersebelahan dan aku menggoda dia.

     

    “ Bener Nis kamu nggak takut diperkosa? ”,

     

    Dengan berani Denisa malah menjawab,

     

    “ Mau perkosa aku sekarang? ”, ujarnya sambil membusungkan dadanya yang montok itu.

     

    Aku tidak tahu siapa yang memulai tiba-tiba bibir kami sudah saling bertemu dan saling melumat, dan memainkan lidah nya di mulutku. Tangan kirinya melepas bajuku dan aku tak mau ketinggalan, aku ikut membuka kaos ketatnya itu dan melepas BHnya. Ciumanku menjalar menyusuri leher dan belakang kupingnya.

     

    “ Ahh… eSsss…… terus Bebs… ”,

     

    Denisa udah mulai meracau tidak jelas saat lidah aku turun ke dadanya diantara kedua bukitnya. Lidahku terus menjalar ke payudaranya namun tidak sampai pada putingnya. Denisa mendesah-desah,

     

    “ Mat isep Mat ayo Mat aku pingin Kamu isep Mat… ”,

     

    Namun aku tidak memperdulikannya dan masih bermain di sekitar putingnya dan turun ke perut sambil perlaha-lahan tanganku membuka celananya dan masih tersisa celana dalamnya. Akhirnya kepalaku ditarik Denisa dan ditempelkannya teteknya ke mulutku.

     

    “ Ayo Mat isep Mat jangan siksa aku Mat… ”,

     

    Akhirnya mulutku menghisap tetek sebelah kirinya sedangkan tangan kanan ku meremas-remas tetek sebelah kanannya.

     

    “ Ouhhh… Sss…. ahhh…. eSsss…… enak Mat terus sedot yang keras Mat gigit Mat ouhhh… ”, racaunya.

     

    Sambil kusedot teteknya bergantian kiri dan kanan tanganku bergerilya di bagian pangkal pahanya sambil menggosok- gosok klitorsnya dari bagian luar celana dalamnya. Denisa-pun tidak sabar, akhirnya dia membuka celanaku termasuk celana dalamku sehingga mencuatlah torpedoku yang sudah berdiri tegak itu dan Denisa terpana.

     

    “ Gila gede banget Mat punya Kamu… ”,

     

    Dan tanpa dikomando langsung Denisa memasukan kejatananku ke dalam mulutnya yang mungil, terasa penuh sekali mulut itu, Denisa menjilat-jilat ujung kemaluanku terus turun ke bawah sampai selurh batangnya terjilat olehnya.

     

    “ Sss…. ahhh…. enak Niss… terus… Nis ”,

     

    aku pun menahan Nikmat yang luar biasa.

    Akhirnya aku berinisiatif dan memutar tubuhku sehingga posisi kami menjadi 69. Sesaat aku menjilati bagian bibir kewanitaan-nya Denisa mendesah.

     

    “ Sss…. ahhh…. enak Mat eSsss…… terus Mat… ”,

    Akhirnya Denisa menggelinjang hebat ketika lidahku menyentuh bagian klitorisnya.

     

    “ Ahh… ouh… aku sampai Mat… ”,

     

    Sambil mulutnya terus mengelum kejantanan-ku sedotan Denisa-pun semakin cepat dan kuat pada kejantanan-ku maka aku merasakkan denyut-denyut pada kejantanan-ku.

     

    “ Nis, aku juga mau sampai Nis ahh… ”,

     

    “ Barengan ya… ”,

     

    Mendengar itu Denisa makin bernafsu menyedot-nyedot dan menjilati kejantanan-ku dan akhirnya…

     

    “ Aachh… Sss… ahhh… … ”

     

    “ Crottt… Crottt… Crottt… ”

     

    Akhirnya kejantanan-ku menyemprotkan air mani dalam mulut Denisa dan dia menelan semuanya sehingga kamipun keluar secara bersamaan. Akhirnya Denisa-pun menggelimpang disampingku setelah menjilati seluruh kejantanan-ku hingga bersih.

     

    “ Makasih ya Mat aku dah lama nggak ngerasain klimaks sejak suami aku kabur… ”, kata Denisa

     

    “ Emang suami kamu kemana? ”,

     

    “ Nggak tau tiba-tiba dia menghilang setelah aku ngelahirin anak aku ”,

     

    “ Lho… kamu udah punya anak? ”,

     

    “ Iya Mat.. anakku udah umur 1 tahun, Mat ”,

     

    Kemudian Denisa memeluk aku dengan eratnya. Lalu dia mendongakkan kepalanya ke arah aku, lalu aku cium bibirnya lembut dia-pun membalasnya tapi lama-kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Kemudian Denisa memegang kemaluan aku yang masih terbuka dan meremas-remasnya sehingga secara otomatis torpedo-ku langsung berdiri dan mengeras.

     

    Kemudian Denisa menaiki tubuh aku lalu menjilati habis seluruh tubuh aku mulai dari mulut hingga ujung kaki.

     

    “ Sss… ahhh… … ”, desahku sejalan dengan jilatan di tubuhku.

     

    Kemudian Denisa mengulum kejantanan-ku terlihat jelas dari atas bagaiMata kejantanan-ku keluar masuk mulutnya yang mungil itu.

     

    “ Ah. Ssss…… enak Bebs terus sedot Bebs… Sss… ahhh… ouhhh… ”, desahanku semakin mengeras.

     

    Lalu kuputar tubuhku sehingga posisi 69 dengan Denisa diatas tubuhku lalu aku menjilati kewanitaan Denisa dan aku hisap klitoris Denisa.

     

    “ Ahh… enak… sss ahhh.. terus Bebs, aku Bebs…. kamu Sss… ahhh… ouhh… ”, desah Denisa.

     

    Kemudian Denisa memutar tubuhnya kembali dan dia memegang torpedo-ku yang sudah siap tempur itu, dipaskannya ke liang kewanitaan- setelah pas perlahan-lahan diturunkannya pantat Denisa. Sehingga perlahan-lahan masuklah kejantanan- aku ke liang senggama Denisa

     

    “ Aow… Ssss…… ohh… geede banget sih punya kamu yang ”, lirih Denisa.

     

    “ Punya kamu juga sempit banget Yang, enak… Sss…. ahhh…. ”, kataku.

     

    Perlahan-lahan aku tekan terus kejantanan-ku ke dalam kewanitaan-nya yang sempit itu. Akhirnya setelah amblas semuanya Denisa mulai mengerakan pinggulnya naik turun sehingga membuat kejantanan- aku seperti disedot-sedot. Denisa berada diatasku sekitar 15 menit sebelum akhirnya dia mengerang.

     

    “ Ahh… Bebs aku keluar, ahhhhhhhhh… ”, racaunya.

     

    Setelah itu tubuh dia melemas dan memeluk aku namun karena aku sendiri juga mengejar puncak ku maka langsung kubalik tubuhnya tanpa melepas kejantanan-ku yang ada di dalam kewanitaan-nya. Setelah aku berada diatasnya maka langsung kugenjot Denisa dari atas terus menerus hampir kurang lebih 20 menit hingga akhirnya Denisa mengalami klimaks yang ketiga kali dalam waktu yang singkat ini.

     

    “ Ahh… Bebs aku keluar lagi Bebs ahh… ”, Desah Denisa.

     

    “ Kamu lama banget sih Bebs ”, desah Denisa sambil terus menggoyangkan pinggulnya memutar.

     

    “ Ahh… Ouh… terus Bebs Ssss… Ahhh… enak Bebs terus… ”, racaunya.

     

    “ Iya aku juga enak Bebs terus Bebs ahh… enak Bebs mentok banget Sss…. ahhh…. ”, racauku tak kalah hebatnya.

     

    Akhirnya setelah aku menggenjot Denisa selama kurang lebih 40 menit aku merasakan seperti ada yang mendesak ingin keluar dari bagian kejantanan-ku.

     

    “ Bebs, aku mau keluar Bebs ”,

     

    “ Mau di dalam atau diluar Bebs? ”, kataku.

     

    “ Bentar Bebs aku juga mau keluar lagi ahh… ”, desah Denisa.

     

    “ Di dalem aja Bebs biar aku tambah puas ”, desah Denisa lagi.

     

    “ Ahh… Ssss…… Bebs aku keluar Bebs ahh… ”, racauku

     

    “ Barengan Bebs aku juga sampai Sss…. ahhh…. ahh… oh… ”, desah Denisa.

     

    “ Ahh… Bebs aku keluar Bebs ahh… Ssss…… ohh… ”, desahku.

     

    “ Aahh ”, menyemprotlah air maniku sebanyak 9 kali.

     

    “ Emmhh… ”, saat itu juga si Denisa mengalami klimaks.

     

    “ Makasih ya Bebs ”, kata Denisa sambil mencium bibirku mesra.

     

    Setelah itu kami langsung membersihkan diri di kamar Mandi dan didalam kamar Mandi-pun kami sempat ‘main’ lagi ketika kami saling membersihkan punya pasangan kami masing-masing tiba-tiba Denisa jongkok dan mengulum punyaku kembali dan au dalam posisi berdidi mencoba menahan Nikmatnya. Namun aku tidak tahan menahan gejolak yang ada maka aku duduk di ws dan Denisa duduk di atasku dengan posisi menghadapku dan dia memasukkan kembali kejantanan-nya kedalam kewanitaan-nya.

     

    “ Bless… ahh… Ssss…… enak Bebs ahh… ”, racaunya mulai meNikmati permainan.

     

    Namun setelah 15 menit aku merasa bosan dengan posisi seperti itu maka aku suruh memutar tubuhnya membelakangi aku dan aku angkat perlahan tanpa melepas kejantanan-ku dan aku suruh Denisa menungging dengan berpegangan pada tepian bak Mandi dan ketika dia menungging langsung aku genjot maju mundur sambil meremas-remas payudaranya yang mengayun-ayun.

     

    “ Sss…. ahhh…. Mat aku mau keluar Mat… ”, desahnya.

     

    “ Mat, aaahhh… ”, terasa lendir kawin Denisa kembali membasahi kejantanan-ku.

     

    Karena kondisi Denisa yan lemas maka aku memutuskan untuk melepaskan kejantanan-ku dan Denisa melanjutkannya dengan mengulum kejantanan-ku hingga akhirnya…

     

    “ Nis aku mau keluar Bebs… Sss…. ahhh…. ”, Sambil kutekan dalam-dalam kepalanya ke arah kejantanan-ku sehingga terlihat kejantanan-ku amblas semua ke mulutnya yang mungil itu.

     

    Dan ketika Denisa menyedot kejantanan-ku maka…

     

    “ Sss…. ahhh…. Nis… ”,

     

    Dan pada akhirnya aku semprotkan seluruh air maniku ke mulut Denisa dan aku lihat Denisa menelan semua air maniku tanpa ada yang tumpah dari mulutnya bahkan dia membersihkan kejantanan-ku dengan menjilati sisa-sisa seluruh air mani yang ada.

     

    Setelah itu kami saling membersihkan tubuh kami masing-masing dan kami kembali ke kamar dengan tubuh yang sama-sama telanjang bulat dan kami tiduran sambil berpelukan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh kami dan kami saling mencium dan meraba serta ngobrol-ngobrol sejenak.

     

    Tanpa terasa kami sudah berada di rumahku hampir selama 4 jam. Maka akhirnya kami mengenakan baju kami masing-masing dan setelah itu aku mengantarkan Denisa pulang ke kostsannya di daerah Roxy dan berjanji untuk saling menghubungi. Hingga saat cerita ini aku tulis, kami masih sering berhubungan dan melakukan hubungan intim. cerita bokep


    0 0
  • 11/02/17--19:15: Kawanku Pengen Punya Anak

  • film porno Pada suatu pagi aku menerima pesan singkat di hpku. Ternyata ada sms dari sahabatku Erwin yang tinggal di luar jawa. Isinya dia mengundangku datang ke sana untuk copy darat kangen-kangenan.

    kami terpisah jauh sudah agak lama,aku sendiri ada di Malang, Jawa Timur. Dalam pesan singkatnya itu, dia juga menceritakan tentang keadaan Sugeng (sahabat kami pula) di luar jawa juga. yang katanya, ia juga kangen padaku.

    Dalam hati sesungguhnya aku pun juga kangen pada mereka. Bertiga kami adalah sahabat karib, yang dulu tak terpisahkan. Lahir di kampung yang sama, tahun yang sama pula. Tak heran orang kampung menjuluki “Tiga Sekawan”. Cuma bedanya, Erwin dan Sugeng sukses di kariernya. Sedang aku tidak. Aku masih tetap tinggal di pedesaan yang tak banyak yang bisa dilakukan anak petani macam aku ini.

    Tapi aku merasa ikut prihatin juga dengan kondisi Erwin, setelah 10 tahun menikahi gadis Minahasa, Erwin belum juga dikaruniai anak. Beda denganku yang harus pontang-panting menghidupi isteri dan keempat anakku. Kalau saja Erwin tidak membantu, mungkin aku sudah tidak sanggup. Itulah yang membuatku terharu. Meski sudah makmur dan terpisah oleh lautan, mereka masih memperhatikanku.

    Kembali ke sms Erwin. Ada satu hal penting yang disampaikannya, yaitu minta bantuanku. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksudkannya. Aku pun bingung, apa yang bisa kuperbuat untuk membantu orang sekaya Erwin? Singkat cerita dengan uang yang dikirimkannya, aku pun berangkat memenuhi undangannya. Istriku harus tinggal, untuk menjaga rumah dan anak-anak yang harus sekolah. Kepadanya aku pamit untuk waktu barang satu dua minggu.

    Setelah hampir satu minggu berlayar dalam ombang ambing gelombang lautan, aku pun sampai di tujuan.Aku sudah dijemput oleh Erwin dan istrinya. Begitu kapal bersandar, mataku menangkap sepasang tuan dan nyonya melambai-lambaikan tangan. “Nduutt.., Genduutt..!!” Teriak mereka. Erwin masih tetap memanggil dengan julukanku dan bukan namaku. Dulu semasa kecil, aku memang paling gendut dibanding Erwin Dan Sugeng.

    Begitu turun dari kapal, kami saling berpelukan tanpa canggung. Kurasakan mereka memang rindu sekali padaku. sesampai di rumahnya aku terbengong kagum. Rumah Erwin besar yang mirip rumah pejabat. Apakah karena hal ini ia memanggilku ke sini? Entahlah. Praktis seharian kami tak menyinggung soal kedatanganku, karena keasyikan saling berkisah selama kami berpisah. Cerita Dewasa

    Maka pada malam kedua itulah, sehabis makan malam, Erwin dengan istrinya Enny memanggilku ke ruang tamu dan mulailah mereka membicarakan soal “bantuan” itu.

    “Kira-kira apa yang bisa kubantu, apakah mengerjakan rumahmu ini?” tanyaku. Kulirik, Erwin menggelengkan kepala. “Begini Ndut, kamu kan tahu kami sudah 10 tahun menikah, tapi belum juga aku punya anak. Masalahnya, menurut dokter, aku ini memang mandul. Jadi kami sepakat untuk minta tolong kamu. Itu sebabnya kami mengundangmu datang kemari,” tutur Erwin, panjang-lebar.

    Tapi aku masih bingung dengan ucapannya itu, hingga kuminta ia menjelaskan lagi. “Jelasnya, kami ingin sekali punya anak walau seorang. Tapi kutahu pasti dari dokter bahwa aku tidak bisa membuahi istriku karena aku mandul. Maka kuminta bantuanmu untuk menggantikan diriku agar kami bisa punya anak,” tuturnya lagi dengan jelas.

    “whatttt.. apa? Aku harus menggantikan dirimu agar bisa memberikan anak kepadamu,” tanyaku, penasaran. “Yah.. begitulah maksudku,” jawabnya, membuat aku kian tak mengerti. “Lalu dengan cara bagaimana aku menggantikanmu? Kamu kan tahu bahwa aku ini bukan ‘Deddy Coubuzier’ atau dukun. Apakah aku bisa melaksanakan permintaanmu itu Sem?” ucapku.

    “Ah kamu ini memang nggak tahu atau pura-pura nggak tahu. Begini, kamu memang bukan seorang dukun dan permintaanku ini tidak ada kaitannya dengan perdukunan. Yang kuminta adalah, kesediaanmu menggantikan diriku sebagai suami dari istriku, untuk membuahi rahim istriku agar kami bisa punya anak.Cerita Seks

     

    Sudah? Jelas pa belum?” ucap Erwin merinci, dan nampak agak kesal juga melihat kebodohanku. “Oh begitu maksudmu. Tapi benarkah ucapanmu itu? Dan apakah Enny menyetujuinya?” tanyaku meyakinkan, seraya memberi pertimbangan agar Erwin mengadopsi anak saja. Namun menurut mereka, semula memang berniat untuk mengadopsi anak.

     

    “Tapi sebaik-baiknya mengadopsi anak, masih lebih baik punya anak dari rahim istriku sendiri. Dan ini kalau bisa.. ya kan sayang?” ucap Erwin. “Ya Mas Ndut, kami sudah berunding sebelumnya. Dan demi keinginan kami, aku rela menyerahkan tubuhku untuk dibuahi Mas Ndut..” ucap Enny pelan.

    Kini aku mulai paham maksud mereka. Tapi aku tak segera menjawab, mendadak terpampang buah simalakama di mataku. Bila kuterima, ah.. itu berarti aku harus melanggar pagar ayu. Apalagi ini istri sahabat sendiri. Dan bila kutolak, Erwin pasti kecewa. Itu yang pertama. Yang kedua, aku terlanjur datang jauh-jauh dari Jawa. Dan ketiga mengingat budi dan jasanya yang kuterima selama ini, kapan lagi aku bisa membalasnya.

     

    Erwin terus mendesakku. “Yah.. gaimana ya. Sem, kuterima atau tidak permintaanmu ini?” kataku. “Sudahlah Ndut, kuharap kamu bersedia membantuku. Nggak usah risau, kami pun tak ada perasaan apa-apa atas bantuanmu,” ucap Erwin meyakinkan. Aku pun tanpa sadar berucap, “Yah baiklah. Tapi bagaimana nanti kalau gagal?” tanyaku. “Seandainya gagal, itu bukan kesalahanmu. Nanti kami akan senantiasa berdoa semoga keinginan kami ini dikabulkan,” ucap Erwin dengan arif.

     

    Dengan kesepakatan itu, aku diminta untuk memulai malam itu juga. Begitu mendengar kesediaanku mereka permisi hendak mempersiapkan kamar tengah. Erwin sendiri nampaknya pindah ke kamar depan. Bantal dan perlengkapan tidur lainnya dibawanya ke depan. Malamnya, aku dipersilakan Enny masuk ke kamar tengah yang sudah bersih, indah dan harum. Terasa berat kakiku melangkah, hingga Erwin dan Enny membimbingku masuk. Habis itu, Erwin pun keluar, meninggalkan aku dan Enny berdua di kamar.

    “Enny, apakah kamu yakin aku bakal bisa memberi anak nantinya..?” tanyaku.

     

    “Mas Ndut, secara pribadi aku yakin kamu bakal bisa memberi anak untukku nantinya.” ucapnya manja.

    “Aku tidak tega tubuhku yang kotor ini nantinya akan ‘mengobok-obok’ tubuhmu yang mulus itu.”

    “Mas Ndut, aku kan sudah bilang ini demi keinginan kami berdua. Jadi tubuhku yang mulus ini kuserahkan padamu Mas. Ayo dekatlah kemari Mas Ndut. Tak usah malu-malu, aku siap bertempur Mas..” ucapnya lagi sambil menarik tanganku ke pembaringan.

    Sayup-sayup kudengar pintu jendela depan ditutup dan dikunci.

     

    “Lho siapa yang menutup pintu dan jendela di luar sana itu Sar?” tanyaku, sembari duduk di bibir ranjang.

    “Oh itu pasti Mas Erwin sendiri kok Mas Ndut,” jawabnya, seraya menjelaskan bahwa 2 pembantunya terpaksa dipulangkan agar rencana ini berjalan mulus.

    “Mas Ndut aku sudah nggak tahan nich?” ucapnya sambil membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya yang mulus itu. Tubuhnya yang mulus dengan susunya yang begitu montok dan vaginanya yang menantang. Panas dingin aku memandangnya. Lutut ini gemetar dan tubuhku meriang bak kena setrum listrik 1000 watt. Aku yang biasa melihat istriku bugil, kini jadi lain.

     

    Di rumah aku biasa tidur dengan beralaskan tikar. Kini aku berhadapan dengan ranjang mewah beraroma wangi, plus tubuh mulus tergolek di atasnya. Tapi badanku terus menggigil seperti terjangkit malaria berat. Eh, Enny tiba-tiba bangun menghampiriku dan melepaskan seluruh pakaianku yang sejak tadi belum kubuka. Aku cuma terbengong-bengong saja. Lalu..

    “Sekarang.. coba Mas Ndut berbaring..” ucapnya sambil mendorong tubuh telanjangku. Aku menurut saja. Penisku segera menegang ketika merasakan tangan lembut Enny mulai beraksi.

    “Wah.. wahh.. besar sekali penismu, Mas Ndut.” tangan Enny segera mengusap-usap penis yang telah mengeras tersebut. Segera saja penisku yang sudah berdenyut-denyut itu masuk ke mulut Enny. Ia segera menjilati penisku itu dengan penuh semangat. Kepala penisku dihisapnya keras-keras, hingga membuatku merintih keenakan.

     

    “Accchh.. acchh.. ohhhh..my Godddd” aku tanpa sadar merintih merasakan nikmat sesaat. Menyadari keringatku yang mengucur dengan deras sehingga menimbulkan bau badanku yang kurang sedap, buru-buru aku mendorong kepala Enny yang masih mengulum penisku itu untuk pamit mau mandi dulu. Lalu, kuguyur badanku dengan segala macam sabun dan parfum yang ada di situ kugosokkan agar badanku harum. Tiga kran yang ada di situ kubuka semua dan kurasakan mana yang berbau sedap, kupakai untuk menyegarkan badan. Bukankah sebentar lagi aku mesti melayani sang putri bak bidadari?!

     

    Mungkin sudah terlalu lama aku di kamar mandi, terdengar Enny mengetuknya. Begitu pintu kubuka, ah. Enny berdiri dengan tubuh montoknya. Ohh.. Seandainya yang pamer aurat di depanku itu istriku aku tak akan menanti lama-lama pasti langsung kudekap dia. Tapi dia adalah istri sahabatku.Menggigilku yang sudah hilang waktu mandi tadi, kini kumat lagi. Cepat-cepat aku masuk lagi dan menguncinya. Di dalam kamar mandi aku bimbang bagaimana sebaiknya, kulaksanakan atau kubatalkan saja?

    Akhirnya malam itu terpaksa gagal. Hingga pukul lima pagi aku masih belum berani melakukannya. Melihat Enny bak bidadari turun dari kahyangan, memang membuatku tergiur. Tapi ketika berhadapan dengannya nyaliku jadi ciut. Cerita Selingkuh

    Esoknya rupanya Enny melapor pada suaminya. Dan aku ditegur Erwin.

    “Ndut, kenapa tidak kamu laksanakan? Bukankah sudah kami katakan bahwa ini keinginan kami berdua.” ucapnya. Aku cuma diam saja. Agar tidak kecewa lagi, malam ini tekadku akan kulipatgandakan untuk melakukannya.

    Malam berikutnya, Erwin meninggalkan kami berdua di ruang tamu. Sejurus kemudian, “Ayo Mas Ndut kita tidur yuk,” ucap Enny manja sembari meraih tanganku dan ditariknya ke kamar. Setelah mengunci pintu kamar, dia menyuruhku duduk di tepi ranjang dan jari-jarinya yang lentik mulai memijat pundakku. Aneh, setelah dipijat aku menjadi lebih rileks. Dia sorongkan wajahnya dekat sekali dengan wajahku dan tiba-tiba bibir kami sudah merapat dan saling menghisap.

     

    Lama juga kami berciuman dan juga saling memilin lidah sementara tangan kami saling membelai dan mengusap. Kami masih duduk berhadapan. Lalu Ennylah yang mulai membuka semua pakaianku. Dia kecup leherku turun ke bawah ke dada dan ke puting dadaku. Sampai disini, dia menjulurkan lidahnya dan putingku dijilat-jilat. penisku langsung menegang, sangat keras dan semakin keras karena diremas-remas olehnya.

    Singkat kata, kami pun sudah bertelanjang bulat dan aku pun segera menindih badannya yang kenyal dan padat. Karena ada sisa kegugupan, maka aku langsung coba memasukkan penisku ke dalam vaginanya.

    “Tunggu, pelan-pelan saja Mas Ndut,” bisiknya sambil mengelus kepala kemaluanku di depan lubangnya. Pelan-pelan sekali. Lalu tugasnya kuambil alih dan kulanjutkan menyentuh dan menggosokkan kepala penisku itu. Pelan dan pelan sekali. Terasa olehku lubangnya semakin basah dan licin. Tiba-tiba.. “Slepp..” masuklah penisku ke dalam sangkarnya.

     

    Aku mulai menggenjot perlahan-lahan. Naik turun, naik turun. Sementara itu bibir kami berdua tetap bertaut. Saling kecup, saling hisap. Tangan Enny mengusap-usap punggungku terkadang turun ke bawah ke pantat dan jarinya mempermainkan lubang pantatku, geli campur enak. Tanganku sibuk mengelus kepalanya dan rambutnya. Semua kami lakukan dengan pelan dan lembut. Setiap aku hampir sampai ke puncak, Enny selalu memelukku erat-erat sehingga aku tidak bisa bergerak. Tepatnya, kami berdua diam tak bergerak sambil saling peluk dan penisku tertanam dalam di kemaluannya. Setelah agak reda kembali aku memompa naik turun.

    Setelah itu berlalu, Enny meminta untuk di atas. Rupanya dia amat menyenangi posisi ini. Ganti sekarang dia yang memeluk dan menciumiku sementara pantatnya bergoyang dan berputar dengan penisku tertancap di dalam kemaluannya. Semakin lama semakin semangat. Sampai akhirnya ia pun mengejang dan mulutnya berdesis-desis dan kepalanya bergoyang-goyang liar ke kiri dan ke kanan, kupeluk dia dan kutekan pantatnya sehingga sampailah ia pada puncak kepuasannya.

     

    Lemaslah tubuh Enny dan dia menciumi seluruh wajahku sambil mengucapkan, “Terima kasih ya Mas? Mas telah melakukan tugas dengan baik.. aku sungguh tidak menyangka Mas bisa membuatku melayang sampai ke langit yang ke-tujuh.. (ucapnya sambil mengecup bibirku, terus tangannya memegang penisku yang menurut dia jauh lebih besar dan panjang dari punya Erwin)”.

     

    Kini aku yang harus menyelesaikan tugasku maka aku pun membalikkan badannya dan ganti aku di atas. Kuangkat kedua kakinya dan kubelitkan di kedua pahaku lalu kumasukkan penisku dan kukocok perlahan-perlahan untuk makin lama makin cepat dan akhirnya menyemburlah air maniku ke dalam lubang vagina Enny. Enny memeluk tubuhku erat-erat dan kami pun berciuman lama. Sempat sekitar sepuluh menit kami diam tak bergerak dalam posisi aku di atas badannya dan tubuh kami tetap jadi satu dalam pelukan.

    Tak terasa ‘pekerjaan’ yang kulaksanakan ini sudah menginjak malam ke dua belas.

    “Mas Ndut, sebenarnya menurut perhitungan saya, haid saya sudah lewat 7 hari yang lalu,” kata Enny pada suatu malam setelah kami kelelahan. Tapi Erwin masih belum yakin istrinya hamil. Aku dimintanya ‘bersabar’ barang sepuluh hari atau dua minggu lagi. Bersamaan dengan itu, ia mengirimkan uang belanja untuk istriku dan anak-anakku.

    Hingga pada suatu hari, terhitung hampir sebulan aku di sana. Erwin membawa istrinya ke dokter ahli kandungan. Tak berapa lama mereka pun pulang dengan wajah yang cerah. Berhasil!

     

    “Yesss… Ndut, istriku hamil!” soraknya begitu gembira. Cerita Seks ABG

    Syukurlah ‘pekerjaanku’ tak sia-sia. Kusarankan pada mereka untuk menjaga kandungan Enny, hingga kelak si jabang bayi lahir. Aku sendiri, sudah kangen pada keluargaku di kampung. Maklum, hampir sebulan aku meninggalkan mereka. Tapi aku berjanji kepada Erwin, bersedia diundang lagi seandainya hasilnya gagal. Erwin pun tak keberatan melepaskanku pulang. Kebetulan dua hari lagi ada kapal berangkat ke Surabaya. Sorenya mereka belanja oleh-oleh untuk keluargaku di rumah. Aduh bukan main senangnya hati mereka. Setelah itu aku pun berangkat naik kapal pulang ke kampung.

    Singkat cerita, sesampainya di rumah kukatakan pada istriku bahwa aku diminta menyelesaikan bangunan rumahnya. Dan istriku percaya saja. Tapi dalam hati, aku merasa berdosa kepadanya. Dan sembilan bulan kemudian aku menerima surat dari Erwin bahwa ‘anaknya’ telah lahir, wanita, cantik lagi, dan diberinya nama Ratih. “Ah syukurlah,” gumamku.

    Begitulah yang terjadi. Rahasia ini masih kusimpan demi ketenangan keluargaku. Tapi satu hal yang tak dapat kupungkiri, bahwa darah dagingku pun terpisah di sana. Disatu sisi aku bangga dapat membahagiakan sahabatku dan membalas budinya. Tapi disisi lain soal akibat dosanya, kuserahkan kepada Yang Di Atas. Aku hanya dapat berucap, mohon ampun pada-Nya. film porno


    0 0


    cerita dewasa Namaku Rio, umurku 22 tahun dengan tinggi badan 175 cm dan berat badan 72 kg. Aku kini bekerja sebagai tukang tagih di salah satu instansi di GTLO. Aku lebih menyukai wanita setengah baya berbulu.

    Cerita yang dituangkan di sini adalah kisah nyata dan bagi yang kebetulan merasa sama nama atau kisahnya mohon dimaafkan itu hanyalah kebetulan. Kejadian ini terjadi sekitar 6 tahun yang lalu, waktu itu aku masih berusia 16 tahun.

    Aku mempunyai seorang tante bernama Lia yang umurnya waktu itu 36 tahun. Tante Lia adalah adik dari Mamaku. Tante Lia sudah menjanda selama lima tahun. Dari perkawinan dia dengan almarhum suaminya tidak di karunia anak. Tante Lia sendiri melanjutkan usaha peninggalan dari almarhum suaminya.

    Dia tinggal di salah satu perumahan yang tidak jauh dari rumahku. Dia tinggal dengan seorang pembantunya, Mbak Sumi. Tante Lia ini orangnya menurutku seksi sekali.

    Payudaranya besar bulat dengan ukuran 36C, sedangkan tingginya sekitar 165 cm dengan kaki langsing seperti peragawati dan perutnya rata soalnya dia belum punya anak. Hal ini membuatku sering ke rumahnya dan betah berlama-lama kalau sedang ada waktu. Dan sehari-harinya aku cuma mengobrol dengan tante Lia yang seksi ini dan dia itu orangnya supel benar tidak canggung cerita-cerita dengan

    Maka aku berupaya menemaninya dan sekalian ingin melihat tubuhnya yang seksi. Setiap kali aku melihat tubuhnya yang seksi, aku selalu terangsang dan aku lampiaskan dengan onani sambil membayangkan tubuhnya.

    Kadangkala timbul pikiran kotorku ingin bersetubuh dengannya tapi aku tidak berani berbuat macam-macam terhadap dia, aku takut nanti dia akan marah dan melaporkan ke orang tuaku. Hari demi hari keinginanku untuk bisa mendapatkan tante Lia semakin kuat saja.

    Kadang-kadang kupergoki tante Lia saat nabis mAlan, dia hanya memakai lilitan handuk saja. Melihatnya jantungku deg-degan rasanya, ingin segera membuka handuknya dan melahap habis tubuh seksinya itu. Kadang-kadang juga dia sering memanggilku ke kamarnya untuk mengancingkan bajunya dari belakang.

    Benar-benar memancing gairahku. Sampai pada hari itu tepatnya malam minggu, aku sedang malas keluar bersama teman-teman dan aku pun pergi ke rumah Tante Lia. Sesampai di rumahnya, tante Lia baru akan bersiap makan dan sedang duduk di ruang tamu sambil membaca majalah.

    Kami pun saling bercerita, tiba-tiba hujan turun deras sekali dan Tante Lia memintaku menginap saja di rumahnya malam ini dan memintaku memberitahu orang tuaku bahwa aku akan menginap di rumahnya berhubung hujan deras sekali. “Lan, tante mau tidur dulu ya, udah ngantuk, kamu udah ngantuk belum?”, katanya sambil menguap. “Belum tante”, jawabku.

    “Oh ya tante, Rio boleh pakai komputernya nggak, mau cek email bentar”, tanyaku. “Boleh, pakai aja” jawabnya lalu dia menuju ke kamarnya. Lalu aku memakai komputer di ruang kerjanya dan mengakses situs porno.

    Dan terus terang tanpa sadar kukeluarkan kemaluanku yang sudah tegang sambil melihat gambar wanita setengah baya bugil. Kemudian kuelus-elus batang kemaluanku sampai tegang sekali berukuran sekitar 15 cm karena aku sudah terangsang sekali.

    Tanpa kusadari, tahu-tahu tante Lia masuk menyelonong begitu saja tanpa mengetuk pintu. Saking kagetnya aku tidak sempat lagi menutup batang kemaluanku yang sedang tegang itu. Tante Lia sempat terbelalak melihat batang kemaluanku yang sedang tegang hingga langsung saja dia bertanya sambil tersenyum manis. “Hayyoo lagi ngapain kamu, Lan?” tanyanya. “Aah, nggak apa-apa tante lagi cek email” jawabku sekenanya. Tapi tante Lia sepertinya sadar kalau aku saat itu sedang mengelus-elus batang kemaluanku.

    “Ada apa sih tante?” tanyaku. “Aah nggak, tante cuma pengen ajak kamu temenin tante nonton di kamar” jawabnya. “Oh ya sudah, nanti saya nyusul ya tante” jawabku. “Tapi jangan lama-lama yah” kata Tante Lia lagi.

    Setelah itu aku berupaya meredam ketegangan batang kemaluanku, lalu aku beranjak menuju ke kamar tante kesepian dan menemani tante Lia nonton film horor yang kebetulan juga banyak mengumbar adegan-adegan syur. Melihat film itu langsung saja aku menjadi salah tingkah, soalnya batang kemaluanku langsung saja bangkit lagi.

    Malah Tante Lia sudah memakai baju tidur yang tipis dan gilanya dia tidak memakai bra karena aku bisa melihat puting susunya yang agak mancung ke depan. Gairahku memuncak melihat pemandangan seperti itu, tapi apa boleh buat aku tidak berani berbuat macam-macam.

    Batang kemaluanku semakin tegang saja sehingga aku terpaksa bergerak-gerak sedikit guna membetulkan posisinya yang miring. Melihat gerakan-gerakan itu tante Lia rupanya langsung menyadari sambil tersenyum ke arahku. “Lagi ngapain sih kamu, Lan?” tanyanya sambil tersenyum. “Ah nggak apa-apa kok, tante” jawabku malu. Sementara itu tante Lia mendekatiku sehingga jarak kami semakin dekat di atas ranjang. “Kamu terangsang yah, Lan, lihat film ini?” “Ah nggak tante, biasa aja” jawabku mencoba mengendalikan diri.

    Bisa kulihat payudaranya yang besar menantang di sisiku, ingin rasanya kuhisap-hisap sambil kugigit putingnya. Tapi rupanya hal ini tidak dirasakan olehku saja, Tante kesepian Lia pun rupanya sudah agak terangsang sehingga dia mencoba mengambil serangan terlebih dahulu. “Menurut kamu tante seksi nggak, Lan?” tanyanya. “Wah seksi sekali tante” kataku. “Seksi mana sama yang di film itu?” tanyanya lagi sambil membusungkan payudaranya sehingga terlihat semakin membesar. “Wah seksi tante dong, abis bodynya tante bagus sih” kataku.

    “Ah masa sih?” tanyanya. “Iya benar tante, swear..” kataku. Jarak kami semakin merapat karena tante Lia terus mendekatkan tubuhnya padaku, lalu dia bertanya lagi padaku.. “Kamu mau nggak kalo diajak begituan sama tante”. “Mmaauu tante..” Ah, seperti ketiban durian runtuh, kesempatan ini tidak tentu aku sia-siakan, langsung saja aku memberanikan diri untuk mencoba mendekatkan diri pada tante Lia. “Wahh barang kamu lumayan juga, Lan” katanya. “Ah tante kesepian bisa aja..

    Tante kok kelihatannya makin lama makin seksi aja sih.. Sampe saya gemes deh ngeliatnya..” kataku. “Ah nakal kamu yah, Lan” jawabnya sambil meletakkan tangannya di atas kemaluanku. “Waahh jangan dipegangin terus tante, ntar bisa tambah gede loh” kataku. “Ah yang benar nih?” tanyanya. “Iya tante.. Ehh.. Ehh aku boleh pegang itu nggak tante?” kataku sambil menunjuk ke arah payudaranya yang besar itu.

    “Ah boleh aja kalo kamu mau” jawabnya. Wah kesempatan besar, tapi aku agak sedikit takut, takut dia marah tapi tangan si tante sekarang malah sudah mengelus-elus kemaluanku sehingga aku memberanikan diri untuk mengelus payudaranya. “Ahh.. Arghh enak Lan.. Kamu nakal ya” kata tante sembari tersenyum manis ke arahku, spontan saja kulepas tanganku. “Loh kok dilepas sih Lan?” tanyanya. “Ah takut tante marah” kataku. “Oohh nggak lah, Lan.. Kemari deh”.

    Tanganku digenggam tante kesepian Lia, kemudian diletakkan kembali di payudaranya sehingga aku pun semakin berani meremas-remas payudaranya. “Aarrhh.. Sshh” rintihnya hingga semakin membuatku penasaran. Lalu aku pun mencoba mencium tante Lia, sungguh di luar dugaanku, Tante Lia menyambut ciumanku dengan beringas.

    Kami pun lalu berciuman dengan nafsu sekali sambil tanganku bergerilya di payudaranya yang sekal sekali itu. “Ahh kamu memang hebat Lan.. Terusin Lan.. Malam ini kamu mesti memberikan kepuasan sama tante yah.. Arhh.. Arrhh”.

    “Tante, aku boleh buka baju tante nggak?” tanyaku. “Oohh silakan Lan”, sambutnya. Dengan cepat kubuka bajunya sehingga payudaranya yang besar dengan puting yang kecoklatan sudah berada di depan mataku, langsung saja aku menjilat-jilat payudaranya yang memang aku kagumi itu. “Arrgghh.. Arrgghh..” lagi-lagi tante mengerang-erang keenakan. “Teruuss.. Teerruuss Lan.. Ahh enak sekali..” Lama aku menjilati putingnya sehingga tanpa kusadari batang kemaluanku juga sudah mulai mengeluarkan cairan bening pelumas di atas kepalanya.

    Lalu sekilas kulihat tangan Tante kesepian Lia sedang mengelus-elus bagian klitorisnya sehingga tanganku pun kuarahkan ke arah bagian celananya untuk kulepaskan. “Aahh buka saja Lan.. Ahh” Nafas Tante Lia terengah-engah menahan nafsu. Seperti kesetanan aku langsung membuka CD-nya dan lalu kuciumi. Sekarang Tante kesepian Lia sudah bugil total. Kulihat liang kemaluannya yang penuh dengan bulu.

    Lalu dengan pelan-pelan kumasukkan jariku untuk menerobos liang kemaluannya yang sudah basah itu. “Arrhh.. Sshh.. Enak Lan.. Enak sekali” jeritnya. Setelah puas jariku bergerilya lalu kudekatkan mukaku ke liang kemaluannya untuk menjilati bibir kemaluannya yang licin dan mengkilap itu. Lalu dengan nafsu kujilati liang kemaluannya dengan lidahku turun naik seperti mengecat saja.

    Tante Lia semakin kelabakan hingga dia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil meremas payudaranya. “Aah.. Sshh tante udaahh nggaakk tahaann laaggii.. Tante udaahh maauu kkeeluuaarr.. Ohh”, dengan semakin cepat kujilati klitorisnya dan jariku kucobloskan ke liang kemaluannya yang semakin basah.

    Beberapa saat kemudian tubuhnya bergerak dengan liar sepertinya akan orgasme. Lalu kupercepat jilatanku dan tusukan jariku sehingga dia merasa keenakkan sekali lalu dia menjerit.. “Oohh.. Aarrhh..

    Tante udah keeluuaarr Lan.. Ahh” sambil menjerit kecil pantatnya digoyang-goyangkan dan lidahku masih terus menjilati bagian bibir kemaluannya sehingga cairan orgasmenya kujilati sampai habis. Kemudian tubuhnya tenang seperti lemas sekali. “Wah ternyata kamu hebat sekali, tante sudah lama tidak merasakan kepuasan ini loh..” ujarnya sambil mencium bibirku sehingga cairan liang kemaluannya di bibirku ikut belepotan ke bibir Tante Lia. 

    Sementara itu batang kemaluanku yang masih tegang di elus-elus oleh tante Lia dan aku pun masih memilin-milin puting tante yang sudah semakin keras itu. “Aahh..” desahnya sambil terus mencumbu bibirku. “Sekarang giliran tante.. Tante akan buat kamu merasakan nikmatnya tubuh tante”.

    Tangan tante Lia segera menggerayangi batang kemaluanku lalu digenggamnnya batang kemaluanku dengan erat sehingga agak terasa sakit tapi kudiamkan saja karena terasa enak juga diremas-remas oleh tangan tante Lia. Lalu aku juga tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya yang indah itu.

    Rupanya tante Lia mulai terangsang kembali ketika tanganku meremas-remas payudaranya dengan sesekali kujilati putingnya yang sudah tegang itu, seakan-akan seperti orang kelaparan, kukulum terus puting susunya sehingga tante Lia menjadi semakin blingsatan.

    “Aahh kamu suka sekali sama dada tante yah, Lan?” “Iya Tante abis tetek tante bentuknya sangat merangsang sih.. Terus besar tapi masih tetap kencang..” “Aahh kamu memang pandai muji orang, Lan..” Sementara itu tangannya masih terus membelai batang kemaluanku yang kepalanya sudah berwarna kemerahan tetapi tidak dikocok hanya dielus-elus.

    Lalu tante kesepian Lia mulai menciumi dadaku terus turun ke arah selangkanganku sehingga aku pun mulai merasakan kenikmatan yang luar biasa sampai akhirnya Tante Lia berjongok di bawah ranjang dengan kepala mendekati batang kemaluanku.

    Sedetik kemudian dia mulai mengecup kepala batang kemaluanku yang telah mengeluarkan cairan bening pelumas dan merata tersebut ke seluruh kepala batang kemaluanku dengan lidahnya. Aku benar-benar merasakan nikmatnya service yang diberikan oleh Tante kesepian Lia.

    Lalu dia mulai membuka mulutnya dan lalu memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya sambil menghisap-hisap dan menjilati seluruh bagian batang kemaluanku sehingga basah oleh ludahnya.

    Selang beberapa menit setelah tante kesepian melakukan hisapannya, aku mulai merasakan desiran-desiran kenikmatan menjalar di seluruh batang kemaluanku lalu kuangkat Tante Lia kemudian kudorong perlahan sehingga dia telentang di atas ranjang. Dengan penuh nafsu kuangkat kakinya sehingga dia mengangkang tepat di depanku. “Aahh Lan, ayolah masukin batang kemaluan kamu ke tante yah..

    Tante udah nggak sabar mau ngerasain memek tante disodok-sodok sama batangan kamu itu”. “Iiyaa tante” kataku. Lalu aku mulai membimbing batang kemaluanku ke arah lubang kemaluannya tapi aku tidak langsung memasukkannya tapi aku gesek-gesekan terlebih dulu ke bibir kemaluannya sehingga tante kesepian Lia lagi-lagi menjerit keenakan.. “Aahh.. Aahh.. Ayolah Lan, jangan tanggung-tanggung masukiinn..” Lalu aku mendorong masuk batang kemaluanku.

    Uh, agak sempit rupanya lubang kemaluannya sehingga agak sulit memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang sekali itu. “Aahh.. Sshh.. Oohh pelan-pelan Lan.. Teruss-teruuss.. Aahh” Aku mulai mendorong kepala batang kemaluanku ke dalam liang kemaluan Tante kesepian Lia sehingga dia merasakan kenikmatan yang luar biasa ketika batang kemaluanku sudah masuk semuanya.

    Kemudian batang kemaluanku mulai kupompakan dengan perlahan tapi dengan gerakan memutar sehingga pantat Tante Lia juga ikut-ikutan bergoyang. Rasanya nikmat sekali karena goyangan pantat tante Lia menjadikan batang kemaluanku seperti dipilin-pilin oleh dinding liang kemaluannya yang seret itu dan rasanya seperti empotan ayam.

    Sementara itu aku terus menjilati puting dan menjilati leher yang dibasahi keringatnya. Sementara itu tangan Tante Lia mendekap pantatku keras-keras sehingga kocokan yang kuberikan semakin cepat lagi.

    “Oohh.. Sshh.. Lan.. Enak sekali.. Oohh.. Ohh..” mendengar rintihannya aku semakin bernafsu untuk segera menyelesaikan permainan ini. “Aahh.. Cepat Lan, tante mau keluuaarr.. Aahh” Tubuh tante kesepian Lia kembali bergerak liar sehingga pantatnya ikut-ikutan naik.

    Rupanya dia kembali orgasme, bisa kurasakan cairan hangat menyiram kepala batang kemaluanku yang sedang merojok-rojok liang kemaluannya. “Aahh.. Sshh.. Sshh”, desahnya, lalu tubuhnya kembali tenang menikmati sisa-sisa orgasmenya. “Wahh kamu memang hebaat Lan..

    Tante sampe keok dua kali sedangkan kamu masih tegar” “Iiyaa tante.. Bentar lagi juga Alan keluar nih..” ujarku sambil terus menyodok liang kemaluannya yang berdenyut-denyut itu. “Aahh enak sekali tante.. Aahh..” “Terusin Lan.. Terus.. Aahh.. Sshh” erangan tante Lia membuatku semakin kuat merojok-rojok batang kemaluanku dalam liang kemaluannya. “Aauuhh pelan-pelan Lan, aahh.. Sshh”

    “Aduh tante bentar lagi aku udah mau keluar nih..” kataku. “Aahh.. Lan.. Keluarin di dalam aja yah.. Aahh.. Tante mau ngerasain.. Ahh.. Shh.. Mau rasain siraman hangat peju kamu..” “Iiyyaa.. Tante..” Lalu aku mengangkat kaki kanan tante sehingga posisi liang kemaluannya lebih menjepit batang kemaluanku. “Aahh.. Oohh.. Aahh.. Sshh.. Tante, Rio mau keluar nih.. Ahh” lalu aku memeluk tante Lia sambil meremas-remas payudaranya. Sementara itu, tante Lia memelukku kuat-kuat sambil menggoyang-goyangkan pantatnya.

    “Aahh tante juga mau keluar lagi aahh.. Sshh..” lalu dengan sekuat tenaga kurojok liang kemaluannya sehingga kumpulan air maniku yang sudah tertahan menyembur dengan dahsyat. Seerr.. Seerr.. Croott.. Croott.. “Aahh enak sekali tante.. Aahh.. Ahh..” Selama dua menitan aku masih menggumuli tubuh Tante kesepian Lia untuk menuntaskan semprotan maniku itu. Lalu Tante kesepian Lia menbelai-belai rambutku. “Ah kamu ternyata seorang jagoan, Lan..” Setelah itu dia mencabut batang kemaluanku dari liang kemaluannya kemudian dimasukkan kembali ke dalam mulutnya untuk dijilati oleh lidahnya.

    Ah, ngilu rasanya batang kemaluanku dihisap olehnya. Dan kemudian kami berdua pun tidur saling berpelukan. Malam itu kami melakukannya sampai tiga kali. Setelah kejadian itu kami sering melakukan hubungan seks yang kadang-kadang meniru gaya-gaya dari film porno. 

    Hubungan kami pun berjalan selama dua tahun dan akhirnya diketahui oleh orang tuaku. Karena merasa malu, Tante kesepian Lia pun pindah ke Jakarta dan menjalankan usahanya di sana. cerita dewasa


    0 0


    cerita dewasa - Aku memutuskan tinggal di rumah kakakku di kota Bogor, Aku dari jawa tengah dan aku kesana ke rumah kakakku naik kereta api. Sesampai di kota bogor atau sesampai di rumah kakakku ternyata kakakku tidak di rumah, dia malah baru berangkat satu jam yang lalu ke jawa timur. Akhirnya tetangga kakakku yang menolong aku untuk tinggal di rumahnya.

    Namanya Pak Gun dan istrinya yang bernama Bu Anik beliau ber usia kira-kira 44 tahun, Aku beruntung sekali karena kebaikanya aku di suruh tinggal di rumahnya Pak Gun untuk sementara sambil nunggu Kakakku yang beberapa hari di jawa timur, dan aku memberitau kepada kakakku bahwa aku tinggal di rumah mereka sambil menunggu kakakku pulang rumah.

    Bu Anik asli dari jawa tapi jawanya di daerah Solo, dia setiap berpakaian selalu pakai kebaya, sehingga Bu Anik kelihatan seperti perempuan yang ramah, sopan, dan anggun seperti gadis jawa yang tulen. Dia kelihatan seksi karena Bu anik tidak mempunyai anak jadi tubuhnya belum melar, dan pinggul dan pantatnya pun besar dia juga ramah banyak senyum dan sangat baik.

    Pak Gun bekerja di kantor PLN, beliau kalau akhir bulan pulangnya telat atau malam terus, karena harus lembur membuat laporan, Dan aku waktu itu tidur dengan pulas sekali karena aku baru datang di pagi hari, aku di suruh tidur di kamar yang di sediakan oleh pak Gun.

    Aku terbangun kira-kira jam 12 malam karena aku kebelet pipis dan mau ke belakang. Lalu aku berjalan menuju ke kamar mandi, ternyata Bu Anik belom tidur dia masih nonton televisi di ruang tengah yang ada sofa panjang, dan dia tiduran sambil nonton TV di sofa itu.

    “Apa gak bisa tidur Dik,? tanya Bu Anik.

    “Bisa Bu, Nia aku kebelet mau pipis, Kamar mandinya sebelah mana ya Bu,?” Jawabku.

    “Ohh..,sebelah sana Dek, Mari…aku kasih tau tempatnya?” Bu Anik.

    Lalu Bu Anik mengantarku ke belakang, saat jalan dia terpeleset dan terjatuh dan dia langsung memegang tanganku. Dengan kagetnya aku yang masih baru bangun aku langsung menolongnya dan kutarik tanganya lalu malah kayak aku memeluk Bu Anik, namun Aku berpikiran bahwa beliau tadi sengaja terjatuh dan dia bisa mencari kesempatan bisa memeluku.

    Sehabis aku dari kamar mandi, dan aku mau melanjutkan tidurku mau masuk ke kamar dia menawarkan untuk nonton TV bareng. Dan Bu Anik posisinya gak tiduran lagi di sofa itu, namun dia duduk kakinya di luruskan tapi kakinya di luruskan di meja depan sofa, lalu baju tidurnya yang di pakai terangkat ke atas dan kelihatan pahanya yang mulus. Aku pun tidak berpikiran aneh-aneh mungkin dia tidak sengaja memperlihatkan pahanya yang mulus itu. (di pikiranku). Dan akhirnya aku mau nonton TV sama Bu Anik dan aku menemani sampai acara TV nya selesai. Setelah Acara TV selesai aku melanjutkan tidur lagi dan aku masuk kamar.

    Aku terbangun di pagi hari, lalu mau ke kamar mandi melihat Bu Anik sedang menimba air dari sumur, dan dia baru mengisi air di bak mandi, lalu aku membantunya untuk menimba dan Bu Anik tak suruh istirahat aja, karena melihat Bu Anik menimba air aku jadi gak tega.

    Lalu Pak Gun mandi pada saat aku mengisi bak airnya lalu berangkat kerja lagi padahal tadi malam aku gak tau beliau pulang jam berapa. Akhirnya selesai mengisi bak aku masuk di dalam rumah Pak Gun atau Bu Anik dan hanya aku dan Bu Anik yang di rumah. Karena Kakakku yang dari Surabaya belum pulang jadi aku masih dirumahnya Pak Gun. Lalu aku jalan menuju dalam rumah, dan aku melihat Bu Anik sedang duduk sambil mencuci baju, Bu anik memakai baju daster yang kebuka bawahnya dan naik ke atas jadi kelihatan pahanya yang putih mulus itu, lalu aku tamatkan lagi ternyata dia Gak pakai celana dalam, sehingga terlihat kedua pahanya yang mulus dan sela-sela rambut memeknya yang sangat lebat sekali, lalu Bu Anik Tau kalau aku melihat pahanya dia, terus beliau malah sengaja membuka pahanya lebih lebar, sehingga kelihatan jelas memeknya. Tapi aku langsung pura-pura tidak tahu dan aku langsung masuk ke dalam rumah.

    Selesai menyuci Bu Anik melanjutkan kegiatanya adalah masak, setelah masak dia mengajaku makan dan aku setelah masak duduk an di depan rumah atau di teras, dan Bu Anik nonton TV pagi sampai siang. Dan Pak Gun siang pulang sebentar kami makan bersama, memang setiap hari Pak Gun pulang ke rumah kalau jam makan siang.

    Sore hari Pak Gun kembali ke kantornya karena masih lembur, dan aku di rumah sama Bu Anik saja, karena kakakku juga belum pulang, katanya tadi pas aku tlp pulangnya besok siang, sehingga aku masih tinggal di rumahnya Pak Gun. Kemudian malam harinya saat aku mau keluar kamar melihat Bu Ani sedang nonton Tv dia tiduran memakai baju daster yang kelihatan seksi sekali, pada saat itu sedang hujan lebat dan aku di suruhnya untuk menutup pintu sama jendelanya.

    Lalu aku ke ruang TV setelah menutup pintu dan jendela, aku sempat kaget melihat kanan kiri ternyata BU Anik tidak ada, aku bingung, lalu aku mengecek ke kamarnya ternyata juga tidak ada. Dan akhirnya aku kembali ke kamarku kembali. Karena tadi aku mau nemenin Bu Anik ternyata malah tidak ada, akhirnya aku masuk ke kamarku dan aku degdegkan dan sangat kaget sekali, ternyata saat aku masuk kamar Bu Anik di kamar yang sedang ku tempati dan dia udah berbaring di tempat tidurku, dan aku bingung. Aku akhirnya mau keluar kamar lagi dan ternyata Bu Anik melarangku keluar.

    Tiba-tiba aku malah di suruh duduk di sebelahnya, aku awal tidak mau dan akhirnya aku ditarik sampai ke kasur, lalu aku dipeluk dan bibirku di ciumi terus sampai berkali-kali. Aku Cuma diam dan gak bisa gerak di hatiku Cuma takut dan takut karena aku belum pernah melakukan hubungan seks, Lalu Bu Anik membuka baju yang dia pakai dan memintaku untuk meremas toketnya yang besar dan putingnya yang menggoda itu, dan dia minta untuk memuaskan nafsunya.

    Karena aku memiliki perasaan takut, dan ternyata aku ketakutan, Bu Anik semakin penasaran denganku dan akhirnya dia memgang tanganku dan tanganku di arahkan ke toketnya yang besar. Dan aku langsung meremas toketnya yang besar itu sampai di suruh menjilati dan mengulum ngulum putingnya, setelah itu penisku langsung menjadi besar dan keras. Lalu Bu Anik memegang penisku dari luar sampai meraba kedalam dan di kocoknya.

    Bu Anik akhirnya tidak sabar dan langsung membuka celanaku, langsung di jilati kepala penisku sampai di kulumnya, setelah itu Bu Anik memintaku Untuk memainkan memeknya sampaidi suruh menciumi memeknya yang seperti sabun mandi GIV dan ternyata memennya wangi. Dan kami pun merangsang secara bergantian. Sambil menciumi memeknya Bu Anik kami bergaya 69, sampai jari tengahku suruh di masukkan ke dalamnya dan disuruh mengocoknya sekeras mungkin.

    Aku melakukan di suruh Bu Anik,yang ternyata beliau hiper seks sampai aku melakunya semua nunggu aba-aba dari dia. Sampai mulutku kena cairan yang keluar dari memeknya Bu Anik (mungkin air maninya), saat aku melakukanya dia mendesis, mendesah keenakan dan terkadang rambutku di jambakinya.

    “Aaaahhhhhhhh.. emhhhhhhhh.. aaaaaaahh…, terus Dik,” desahnya sangat dasyat.

    Lanjut kami berpindah posisi Bu Anik memintaku untuk menciumi bibirnya dan toketnya sampai ke putingnya. Setelah puas dengan ciuman kecil ku, Bu Anik langsung menyuruhku memasukkan batang penisku yang sangat besar itu, lalu aku berdiri dan bu anik masih tiduran sambil mengengkangkan kedua kakinya dan dia sambil ke pinggir dan ku masukkan penisku perlahan sambil berdiri lalu,

    “Blesssssssssssssssssss, terasa hangat sekali penisku dan sulit di bayangkan rasanya ”

    Akhirnya aku menggerakan gaya maju mundurku pertama pelan dan perlahan lalu sampai ku gerakkan dengan keras,

    “Ahhhhhhhhhh….Dik, nikmat dek, “ desahanya Bu Anik.

    Lalu aku menggerakan gayaku agak keras sampai keras sekali.

    “Aahhhhhhhhhhhhhhhh..emmhhhhhhhhhh…Nikmat Dek,, Ahhhhhhhh,,,terusssss Dek yang kencang” Bu Anik nyuruh gerakanku yang keras.

    “Teruss.. Dikk.. Tekan..samapai pol Dek, SShhhhhhhhhh…aahhhhh…enak sekali.. peluk yang erat Dek..Aaahhhhhhhh” desahnya.

    Sambil aku di goyangin terus dan aku gak kuat dan akhirnya aku mau menuju orgasme.

    Akhirny aku mau keluar,

    Bu…..mau keluar ni, dan ku gerakan keras sekali dan,

    “Crottttttttttttttttttt…crotttttttttttttt…ku semprotkan air maniku kedalam memeknya Bu Anik”

    “Oohh.. ahh.. uhh.. nikmat Dikk.. terus..!” desahnya.

    Malam itu kami lakukan sampai 3 kali, dan Bu Anik benar-benar menikmatinya. Sesudah melakukan ngentot malamnya Bu Anik tidur bersamaku di kamar yang aku tempati tanpa memakai pakaian sambil berpelukan. Dan keesokan harinya kami lakukan hal itu lagi sebelum aku pulang ke rumahnya kakakku.

    Pengalaman ngentotku dengan isteri tetangga kakakku yang tak mungkin bisa aku lupakan. cerita dewasa


    0 0


    cerita dewasa Ini adalah kisah ngentot atau cerita dewasa seks dari negeri Jiran Malaysia. Mengisahkan petualangan seks seorang pria di warga Malaysia yang bersetubuh dengan wanita yang tak lain adalah isteri dari orang lain yang membuat nafsu birahinya tinggi. Selengkapnya, silahkan simak cerita lengkapnya dengan bahasa melayu berikut ini.

    Ini adalah kisah diri aku. Sebagaimana kebanyakan lelaki lain, aku mempunyai nafsu terhadap perempuan. Yalah, lelaki mana yang tidak, kecuali yang gay sahaja. Tetapi nafsu aku ini bukannya pada anak dara sunti, tetapi pada perempuan yang telah berkahwin pada isteri orang lain. Nak tahu kenapa? Aku pun tak tahu. Mungkin sebab thrill untuk memikat perempuan yang telah berpunya. Kalau anak dara tu senang lekat sebab dia pun sedang mencari jugak.

    Isteri orang ni lagi susah nak tackle, dan apabila dah dapat bukannya boleh bawak keluar sesuka hati di taman. Kena sorok-sorok dan senyap-senyap dari pengetahuan suaminya dan masyarakat yang lain. It is the thrills and the adventures of cheating with another man’s wife are the ones that made it really erotic. Aku mula mengenali nafsuku ini bila aku bertemu Zarina, isteri rakan karibku Kamal, semasa kami belajar di overseas.

    Zarina ni memang cantik orangnya. Kulitnya yang sawo matang beserta dengan rupa paras gadis kampung Melayu menyebabkan aku geram padanya dan menambahkan keinginan untuk aku take up the challenge untuk memikatnya.

    Obsesi aku terhadap Zarina semakin membuak dari hari ke hari. Setiap malam, aku teringatkan wajahnya. Aku sanggup mengumpul gambar-gambarnya yang aku ambil tanpa pengetahuannya dengan menggunakan kamera zoom aku, dan kemudian merenung gambarnya itu setiap malam sambil melancap batang zakar aku sehingga ke klimaksnya sambil berfantasi seolah-olah aku menyetubuhi Zarina.

    Tahun berganti tahun. Kami semua telah pulang ke Malaysia sibuk dengan karier masing-masing. Zarina dan Kamal telah mempunyai tiga orang anak, dan aku pula telah mempunyai seorang girlfriend bernama Linda. Walaupun sibuk dengan tugas masing-masing, kami sentiasa membuat gathering setiap hujung minggu: semua rakan-rakan akan berkumpul di rumah masing-masing mengikut giliran dari minggu ke minggu. Setiap gathering, aku mendekati Zarina, mencium perfume yang dipakainya dan menghidu rambutnya tanpa disedari olehnya, suaminya mahupun rakan-rakan yang lain.

    Kadangkala, aku akan mengambil gambar group kami (kononnya), tetapi sebenarnya aku zoom kamera hanya pada Zarina seorang. Hubunganku dengan Linda adalah intim hanyalah sebab aku berfantasi bahawa Linda itu adalah Zarina. Setiap kali aku meniduri Linda, aku memejamkan mataku dan menganggap yang aku sebenarnya sedang menjamah tubuh Zarina. Walaupun kadang-kala aku memanggil nama “Ina” semasa aku sedang bersetubuh dengan Linda, dia tidak perasan kerana nama mereka hampir sama. Sehinggalah satu hari apabila Linda mengajak aku berkahwin, aku sedar bahawa selama ini aku telah menipunya-yang aku telah menggunakannya untuk memuaskan nafsu aku sendiri.

    Aku tidak boleh mengahwini Linda kerana aku tidak mencintainya-dan aku tidak boleh membiarkan dirinya ditipu lagi. Aku mengambil keputusan untuk break-off dengan Linda. Dia mula-mula tidak dapat menerimanya dan menjadi emotional. Hampir dua bulan dia mengamok. What a mess. Tapi akhirnya, dia dapat menerima hakikat bahawa aku benar-benar tidak mencintainya. Dalam salah satu dari gathering biasa kami, Zarina terus meluru kepadaku..

    “Jantan apa kau ni Faris? Setelah sedap kau tebuk dia, kau sanggup tinggalkannya begitu saja?” Zarina dengan lantangnya mempertahankan kaum wanita sejenis dengannya.

    “I have my reasons, Zarina” aku jawab perlahan.

    “Reasons? And what reasons might that be?” jawabnya dengan nada yang marah.

    “Yang aku nampak, engkau hanyalah seorang yang irresposible!” Aku tidak menjawab.

    “Well?” sambung Zarina. Aku masih menyepi. Jawapan yang ada masih rahsia kecuali pada diriku sahaja.

    “Let’s go, Kamal” Zarina memberitahu suaminya.

    “I don’t want to be around this filth!” Semasa mereka meninggalkan gathering tu, Kamal menepuk bahuku..

    “Gimmie a call if you want to talk about it”

    Malam itu aku tidak dapat tidur. Fikiran dah berserabut. Keesokkan harinya, aku tidak menghubungi Kamal, tetapi isterinya..

     

    “Ina, I need to talk to you”.

    “I have nothing to listen to you” Zarina menjawab ringkas.

    “You want to listen to this”, aku membalas.

    “Kalau kau nak tahu reasons why I dump Linda, jumpa aku waktu lunch nanti”

     

    Semasa lunch, aku bawa Zarina ke sebuah restoran di Kuala Lumpur.

     

    “Kenapa baru sekarang nak beri tahu?” Zarina bersuara sebaik sahaja kami duduk di meja makan.

    “Semalam masa I tanyakan pada you, apasal senyap?”

    “Sebab I only want to give the reasons to you” jawabku.

    “To me?” Zarina memotong ayatku.

    “I rasa the rest of us pun has the right to know”

    “Shut up and listen” Jawabku tegas.

     

    Zarina menyandarkan diri di atas kerusinya sambil menyimpul kedua belah tangannya. Aku mengambil nafas panjang.

     

    “Okay, kau nak tahu sangat kenapa I dump Linda, well this is the answer.” Aku merenung terus ke dalam matanya.

     

    “Zarina, ever since the first time I’ve saw you, I have been crazy about you. Setiap malam aku teringatkan kau, I have been fantasising with your pictures. Ya, Zarina, aku melancap setiap malam dengan gambar-gambar kau. Linda? She is nothing but a tool for my fantasy. Setiap kali aku mengucup bibirnya, bibir kau sebenarnya yang aku kucup. Setiap kali aku mengusap rambutnya, menjilat lehernya, merapa badannya, itu semuanya sebenarnya adalah perbuatanku pada kau. And everytime I fucked her, it is you whom I’m really fucking”

     

    Muka Zarina terus pucat, tangannya menggeletar mendengar kata-kata lucah yang baru aku ucapkan padanya. Dia kemudian meletakkan tangannya ke atas meja. Aku terus mencapainya. Apabila aku memegang tangannya, dia terkejut dan menariknya balik. Zarina kemudian bangun dari kerusinya, masih dalam keadaan terkejut sambil berkata..

     

    “I, I have to.. Go..” Aku terus mengekorinya keluar dari restoran tersebut. Zarina terus menahan sebuah teksi yang berhampiran. Aku dengan pantas memegang tangannya.

    “Let me go, you sick bastard!” dia menjerit.

    “Everything I said to you is the truth, Zarina. I want you”

    “I am a married woman! I am married to your best friend!”

    “I don’t care.”

    “I am a mother of three children! I have a wonderful husband and a perfect family”

    “I still don’t care.” Air mata mengalir keluar dari mata Zarina.

    “Let me go, please” jawabnya perlahan.

     

    Aku melepaskan tangannya. Dia terus masuk ke dalam teksi dan mengarahkan pemandu itu beredar dari situ dengan segera. Zarina menutup matanya dengan tangannya sambil menangis. Selepas insiden itu, aku tidak berjumpa Zarina selama hampir sebulan. Setiap kali ada gathering, Zarina tidak ikut Kamal sekali.

     

    “Mana bini kau, Mal?” tanya Azlan, kawanku.

    “Tak sihatlah, ada kat rumah jaga budak-budak” jawab Kamal selamba.

    “Hai, takkan tiga minggu tak sihat, mengandung lagi ke?” Azlan berjenaka.

    “Taklah, I think three is enough” jawab Kamal sambil tersenyum.

    “You alright?” aku menghampiri Kamal

    “Sejak dua tiga minggu ni aku nampak kau muram semacam je”

    “I’m fine, well” Kamal menarik nafas panjang.

    “Sebenarnya tak jugak.”

    “What happened?” aku menanya.

    “Tak tahulah, Faris. Sejak dua tiga minggu ni, Zarina asyik naik angin je. Itu tak kenalah, ini tak kena lah.” Kamal memulakan ceritanya.

    “Ina ada beritahu kau sebabnya?” aku memberanikan diri bertanya.

    “Tak pulak, itu yang aku bengang tu. Mood dia ni unpredictable lah.” Kamal menggelengkan kepalanya.

    “Next week turn rumah kau pulak. Hopefully, kita orang dapat cheer her up” aku menjawab.

     

    Sebenarnya memang aku rindukan Zarina. Aku memang looking forward nak berjumpa dia minggu berikutnya. Aku dah tak kisah pada apa yang aku cakapkan padanya masa di restoran tempoh hari. Setiap hari aku mengira waktu bila akan dapat berjumpa dengannya. Walaupun aku boleh berjumpa dengannya secara personal di pejabatnya, tapi aku mengambil keputusan untuk tunggu hingga gathering rumah Kamal.

     

    Pada hari tersebut, aku segaja melambatkan diri. Aku mahu lihat reaksi Zarina apabila aku sampai. Apabila tiba di rumah Kamal, semua rakan-rakan telah berada di situ. All the guys tengah melepak kat living hall sementara yang ladies tengah sibuk berceloteh di dining. Budak-budak kecik pulak tengah asyik bermain di luar rumah. Aku perasan Zarina bersama mereka. Mula-mula dia kelihatan tenang, tapi setelah sedar bahawa aku berada di dalam rumahnya, dia nampak semakin gelisah.

     

    Sepanjang malam itu, aku mencuri-curi bermain mata dengan Zarina tanpa pengetahuan Kamal dan rakan-rakan yang lain. Setiap kali ada seseorang buat lawak, aku akan merenung Zarina dengan tajam. Zarina makin lama makin tak senang duduk. Dia beralih dari satu tempat ke satu tempat, bermain-main dengan tangannya yang kadangkala semakin menggeletar. Ada kalanya matanya akan bertemu dengan mataku, tetapi dengan pantasnya dia akan cuba mengalihkan perhatiannya ke tempat lain. Akhirnya Zarina semakin gelisah dan masuk terus ke dapur.

     

    “Mal, aku nak tumpang tandas kau sekejap lah” kataku pada Kamal sambil berjalan menuju ke dapur rumahnya.

    “Haa.. Ada kat belakang tu.” jawab Kamal sambil melayan rakan-rakan yang tak kering gusi berjenaka.

     

    Aku masuk ke dalam dapur dan mendapati Zarina berada di situ sedang menyiapkan air untuk para tetamunya. Aku dengan perlahan menutup pintu dapur supaya rakan-rakan di luar tidak nampak kami berdua.

     

    “What the hell are you doing in my house?” Zarina menanya dengan nada yang marah bercampur gelisah.

    “Suami kau yang ajak aku sini. Aku datanglah.” aku jawab selamba saja.

     

    Ina terus senyap. Dia terus membuat kerjanya di dapur membancuh air. Tetapi jelas bahawa dia tak dapat nak concentrate dengan apa yang dia lakukannya sendiri. Aku mendekatkan diriku kepadanya dari belakang secara pelan-pelan.

     

    “Aku dengar kau ada gaduh dengan laki kau?” aku bisik di telinganya. Zarina tersentak sekejap. Air yang disediakannya tertumpah sedikit ke dalam sinki dapurnya.

    “Kalau iya pun, it’s none of your fucking business” Zarina menjawab.

    “No, Zarina. I think it’s all got to do with my fucking business” jawabku kembali.

     

    Aku kemudian dengan perlahan-lahan memeluk pinggannya dari belakang. Zarina dengan pantas meletakkan dulang gelas-gelas minuman yang disediakannya di atas dapur dan terus berpusing menghadapku sambil tangannya cuba untuk menolak dadaku keluar.

     

    “Faris! Get you bloody hands off me!” Zarina meninggikan suaranya kepadaku sambil bergelut untuk melepaskan dirinya dari pelukanku.

    “Or what?” aku bertanya sambil tensenyum sinis.

     

    Aku menguatkan lagi pelukanku pada Zarina. Inilah pertama kalinya aku mendapat rasa tubuh Zarina yang sekian lama aku idamkan. Dalam sekelip mata sahaja, batang zakar aku menjadi keras dan tegang. Aku mengalihkan tangan kananku dari pinggang Zarina ke punggungnya dan kemudian meramas sambil menekan punggungnya itu ke arahku sehingga batang zakar aku yang keras itu menekan celah kangkangnya.

     

    “Faris!” Zarina mula panik

    “Kalau kau tak lepaskan aku, aku akan jerit sekuat-kuatnya!” dia mengugut.

    “Nak jerit?” aku mengacahnya.

    “Jeritlah. Jerit sekuat-kuat hati kau. Biar suami kau dan rakan-rakan kita semua tahu yang kau dan aku sedang berpelukan dengan intim dalam dapur kau ni.”

     

    Zarina dah mati akal. Tenaga yang ada pada dirinya tidak cukup kuat untuk melepaskan dirinya dari pelukanku yang semakin kuat. Air matanya bergelinangan.

     

    “Faris!” suaranya semakin sebak.

    “What the hell do you want?”

    “Kan aku dah beritahu kau tempoh hari. I want you” aku terus menjawab.

     

    Kemudian tangan kiriku terus memegang belakang kepalanya dan menariknya ke arahku. Aku terus mengucupnya dengan kucupan yang paling berahi. Apabila mulut kami bertemu, Zarina semakin panik. Dia cuba untuk bergelut melepaskan dirinya tetapi tidak terdaya. Dia juga cuba menjerit di dalam mulutku.

     

    “Hhmm!! Mmnn!! Mnnggh!!” suaranya ditenggelami di dalam kucupanku.

     

    Apabila Zarina cuba menjerit, mulutnya terbuka sedikit dan aku dengan pantas mengambil kesempatan itu untuk menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya sambil meraba-raba lidahnya. Kucupanku pada Zarina semakin berahi apabila aku menolak ke seluruh badan Zarina dengan tubuhku sendiri ke belakang menyebabkan dia hampir jatuh ke lantai, tetapi belakang badannya tersentak pada sinki dapurnya.

     

    Aku mengangkat keseluruh badan Zarina dan menyandarkannya pada sinki tersebut. Kakinya sekarang tidak lagi terjejak pada lantai. Semuanya ini dilakukan tanpa aku melepaskan mulutku dari mulutnya. Oleh kerana tubuh badan Zarina sekarang berada tersepit di antara tubuhku dan sinki dapurnya, kedua belah tanganku sekarang bebas bergerak. Tangan kiriku terus mencapai buah dada kiri Zarina dan aku meramasnya dengan penuh nafsu, sementara tangan kananku pula menyelak kain Zarina dan terus meramas faraj di celah kakinya.

     

    Apabila aku menjumpai seluar dalam Zarina, aku cuba menariknya keluar. Zarina terus bergelut. Kemudian aku menyeluk tangan kananku ke dalam seluar dalamnya dan terus meraba sambil meramas faraj Zarina. Dalam pada aku sedang menanggalkan seluar dalam Zarina, tiba-tiba suara Kamal kedengaran dari luar dapur..

     

    “Ina, Ina. Are you in there, sayang?”

     

    Setelah mendengar suara suaminya yang akan masuk ke dapur, Zarina semakin panik..

     

    “Mmaarggh!! Uurggh!!” jeritnya sambil memukul-mukul aku dengan tangannya.

     

    Aku melepaskan mulutku dari mulut Zarina. Air liur dari kedua-dua mulut kami melimpah turun ke dagu dan leher Zarina. Aku dengan pantasnya mengangkat diri aku dari tubuh Zarina apabila aku mendengar tombol pintu dapur dipusing. Aku terus bergerak ke arah bilik belakang. Oleh kerana Zarina sebelum ini tidak mempunyai sokongan tempat untuk dia berdiri, dia terus terjatuh ke atas lantai apabila aku melepaskannya dia. Dengan pantas dia bangun menghadap sinki apabila pintu dapur dibuka. Dia tidak sempat untuk menarik balik seluar dalam yang tersangkut di lututnya tetapi dia sempat untuk memperbetulkan kainnya menutup kakinya semula. Buah dara kirinya lagi masih terkeluar dari baju dalamnya.

     

    “Sayang, apa yang you buat dalam dapur lama ni?” jenguk Kamal kepada isterinya.

    “Tak ada apa-apa Bang, Ina cuma nak buat air je ni” jawab Zarina sambil membelakangkan suaminya.

     

    Keadaannya di hadapannya memang kusut. Mulut, dagu dan lehernya penuh dengan air liur kami berdua, buah dada kirinya masih tergantung keluar dari bajunya dan beberapa butang bajunya juga terlucut. Air matanya bergelinangan keluar.

     

    “Cepatlah sikit, ramai orang yang haus ni” tegur Kamal yang langsung tidak sedar apa yang telah terjadi pada isterinya itu.

     

    Kamal kemudiannya keluar dari dapur tersebut. Aku melihat Zarina dari dalam bilik belakang. Dia melepaskan nafas yang panjang dan kemudian tercungap-cungap menangis. Apabila dia sedar yang aku sedang merenungnya, dia berhenti menangis dan membalas renunganku tetapi dengan perasaan yang benci. Sambil pendangannya tidak berganjak dari mataku, dia menarik semula seluar dalamnya ke atas, memperbetulkan buah dadanya ke dalam branya dan membutangkan semula bajunya. Aku mengampirinya dengan perlahan.

     

    “Apa lagi yang kau nak?” suara Zarina antara kedengaran dan tidak.

    “Dah puas meraba isteri orang?” sambungnya.

    “Belum,” jawabku ringkas.

     

    Aku terus meninggalkan dapur itu. Malam itu aku tersenyum di atas katilku. Di dalam fikiranku, aku cuba bayangkan apa yang sedang berlegar di dalam kepala otak Zarina pada ketika ini. Sanggupkah dia memberitahu Kamal tentang apa yang berlaku pada dirinya siang tadi? Aku rasa tidak. Kalau ada sudah tentu dia memberi amaran kepada Kamal tentangku sejak insiden di restoran tempoh hari. Keesokkan paginya, aku menghubungi pejabat Zarina.

     

    “Minta maaf, encik,” jawab receptionist pejabatnya.

    “Puan Zarina ambik MC Hari ini”

     

    Aku pun bergegas ambil emergency leave and terus pergi ke rumah Zarina. Apabila aku sampai di rumahnya lebih kurang jam 9.30 pagi, aku dapati yang dia baru pulang dari menghantar ketiga-tiga anaknya ke taska. Sebaik sahaja Zarina perasan kehadiranku, dia terus berlari masuk ke dalam rumahnya. Aku terus mengejarnya dan sempat menolak pintu rumahnya terbuka sebelum dia dapat menutupnya. Apabila telah masuk aku terus mengunci pintu rumahnya dari dalam. Aku kemudiannya terus menghampiri Zarina. Pada mulanya dia cuba berundur dua tiga tapak bila aku mendekatinya, tetapi langkahku kebih panjang menyebabkan aku dapat mencapainya dengan senang. Aku terus memeluk tubuh badannya dengan erat.

     

    “Faris” Zarina memulakan kata-kata.

    “Aku tidak berdaya nak melawan kau.. Tolonglah lepaskan aku” dia merayu.

    “Tidak,” jawabku.

     

    Aku mengusap rambutnya dengan perlahan sambil merenung terus ke dalam matanya. Rupa Zarina comot betul pagi itu. Inilah pertama kalinya aku melihat Zarina tanpa sebarang make-up pun padanya. Rambutnya tidak terurus, matanya masih merah akibat kekurangan tidur, pipinya berbekas air mata yang telah kering. Selalunya aku akan bau wangian perfume di badannya, tetapi pagi ini badannya yang belum mandi itu berbau masam, sementara nafas mulutnya masih berbau air liur basi semalam. Tetapi yang anehnya, shalwat aku semakin berahi. Nafsuku terhadap Zarina semakin memuncak.

     

    Aku melihat tubuh badan Zarina dan menghidu bau badannya sebagaimana keadaan semula jadinya, bukannya berselindung di sebalik topeng kosmetik atau wangi-wangian tiruan. Aku dengan perlahan merendahkan mulutku dan terus mengucupnya dengan perlahan dan penuh kasih sayang.. Tidak seperti yang aku lakukan semalam. Pada mulanya, apabila bibir kami bertemu, Zarina tersentak sebentar kerana menyangka yang aku akan mengasarinya. Tetapi setelah merasai kelembutan kucupan yang berbeza itu, tubuh badannya semakin relaks. Setelah hampir dua minit kami berkucupan, Zarina dengan perlahan menarik mulutnya keluar.

     

    “Jangan, Faris” ulanginya.

    “Kalau Kamal dapat tahu tentang perkara ni he will kill us both”

    “He won’t find out”, aku membalas.

     

    Aku mengucup bibirnya kembali. Kali ini Zarina merelakan kucupanku. Dengan perlahan dia memeluk leherku. Aku pun mengangkat dan mendukung tubuh badannya naik ke tingkat atas rumahnya. Aku terus mendukungnya masuk ke dalam bilik tidurnya dan dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas katilnya. Sepanjang perbuatan ini, aku tidak sekalipun melepaskan kucupanku itu. Setelah membaringkan Zarina di atas katilnya, aku duduk sebentar sebelahnya dan melihat tubuh badannya dari atas sehingga ke bawah.

     

    “God, you are so sexy,” bisikku padanya.

     

    Aku kemudiannya membaringkan tubuhku di atas tubuhnya dan kami berpelukkan dengan penuh erat sambil mulut kami bercantum semula. Aku membelai tubuh badannya dengan perlahan-lahan. Aku telah menanti saat untuk meniduri Zarina bertahun-tahun lamanya, jadi aku tidak akan tergopoh-gapah melayannya. Setelah hampir sepuluh minit kami berpelukan dan berkucupan di atas katil itu, aku mengalihkan mulut dan lidahku pada bahagian-bahagian lain di badannya. Mula-mula aku menjilat pipinya dan telinganya. Tanganku pula aku alihkan pada kedua-dua payudaranya dan meramas-ramasnya dengan perlahan.

     

    “Sayang,” aku bisik ke dalam telinganya.

    “Hmm” jawab Zarina dengan manja sambil matanya tertutup menikmati foreplay yang sedang aku berikan padanya.

    “Aku mahukan tubuhmu, sayang” sambungku sambil menjilat-jilat telinganya. Tanganku dengan perlahan membuka butang baju tidurnya.

    “Oohh” Zarina mengerang dengan perlahan.

     

    Apabila aku telah dapat membuka menanggalkan pakaian tidurnya, aku terus mengalihkan mulutku ke bawah dengan perlahan-mula-mula pada lehernya, dan kemudian dengan perlahan aku menjilat dadanya sehinggalah sampai kepada payudaranya. Akupun memasukkan payudara Zarina ke dalam mulutku dan menghisap sekuat hati.

     

    “Aarrgh” jerit kecil Zarina.

     

    Aku dapat merasakan susu dari payudaranya keluar, masuk ke dalam mulutku. Tetapi aku tidak menelan susu itu. Sebaliknya aku membiarkan ia meleleh keluar dari mulutku membasahi payudara Zarina. Dalam beberapa minit, kedua-dua payudara Zarina basah dengan keputihan susunya sendiri. Aku kemudiannya menurunkan mulutku dan menjilat perutnya, sambil kedua tanganku mula untuk menanggalkan seluar tidurnya.

     

    Apabila seluarnya telah tanggal, maka tiada lagilah seutas benang lagi di atas tubuhnya. Buat pertama kalinya aku dapat melihat apa yang aku cuba fantasikan sejak bertahun-tahun: tubuh badan Zarina yang bogel. Bentuk tubuh badan Zarina sebenarnya tidaklah sebegitu hebat seperti yang aku selalu mimpikan. Kedua-dua payudaranya sudah tidak tegang lagi, sementara lubang farajnya juga agak besar dan bibir farajnya terjuntai keluar. Jika nak dibandingkan dengan faraj Linda dan masih merah dan muda, faraj Zarina sudah coklat dan berkedut.

     

    Iya lah, inilah rupanya bekas orang-entah berapa ribu kali Kamal menyetubuhi Zarina dalam jangka waktu perkahwinan mereka, termasuk juga tiga orang bayi yang telah keluar melalui lubang itu. Tapi aku tidak sedikitpun kisah tentang semua ini. Kalau aku mahukan yang fresh, tentu aku tidak tinggalkan Linda yang masih muda. Dengan perlahan aku menyelak bibir faraj Zarina sambil menghidu bau lubangnya yang kuat dan tebal. Tetapi bagi aku, bau faraj seorang wanita adalah bau yang paling romantik yang pernah aku hidu. Aku memasukkan lidahku ke dalam lubang farajnya dengan perlahan.

     

    “Mm.. Mm..” Zarina mengerang dengan manja sambil mengigit bibir bawahnya sambil menikmati oral sex yang sedang aku berikan kepadanya.

     

    Sambil aku menjilat farajnya, sambil itu aku menanggalkan baju dan seluarku. Kami sekarang tidak mempunyai sehelai pakaian pun menutupi tubuh kami. Aku meneruskan jilatanku di sekitar dinding lubang farajnya sehingga air mazinya dan air liurku membasahi keseluruhan farajnya. Rasa air mazinya dan farajnya berbeza dengan Linda. Zarina punya lebih kelat dan pekat berbanding Linda yang lebih masin. Aku hilang pengiraan waktu semasa aku berada di celah kangkang Zarina itu.

     

    Aku rasa aku menghabiskan masa lebih dari lima belas minit menjilat farajnya itu. Aku kemudiannya mengalih mulutku ke biji kelentitnya pula. Aku mengulum kelentit Zarina sambil menyedut dengan perlahan. Lidahku bermain-main dihujung kelentit nya. Kaki Zarina semakin gelisah dan suaranya semakin kuat mengerang.

     

    “Oohh.. Mmggh.. Huurgh ” bunyinya setiap kali aku menjilat kelentitnya.

     

    Tangannya sekarang sedang meramas rambutku. Aku memasukkan jariku ke dalam lubag faraj Zarina sambil mulutku masih bermain-main dengan kelentitnya. Dengan perlahan aku memasukkan jari-jariku masuk ke dalam farajnya sehingga aku menjumpai G-spotnya. Apabila jari tengahku dapat menyentuh G-Spotnya, dengan spontannya badan Zarina kejang dan dia menjerit kuat, “Aarrgh!!” Aku terus menggosokkan jariku ke G-Spotnya sehinggalah dia mencapai klimaks.

     

    “Oohh!! Faris!! Fariiss!!” jeritnya sambil badannya terangkat ke atas dan segala ototnya kejang seketika.

     

    Air maninya mengalir keluar dari farajnya membasahi keseluruhan tanganku. Setelah tamat klimaksnya yang panjang itu, badannya rebah kembali ke atas katil. Peluh dari tubuhnya menitik keluar. Aku pun bangun dari celah kangkang Zarina dan merenung matanya.

     

    “Faris” sebut Zarina dengan nada yang keletihan.

    “Belum habis lagi, sayang. I’m going to fuck you” jawabku.

     

    Aku memegang batang zakarku yang tegang dan keras itu dan memasukkannya ke dalam lubang faraj Zarina. Setelah kepala zakarku telah masuk ke dalam lubang farajnya, aku menyandarkan badanku di atas badan Zarina dan mengucup bibirnya berkali-kali. Sambil itu, aku memulakan pendayungan. Mula-mula dayungan aku perlahan dan lembut. Waktu ini aku dapat rasa yang lubang faraj Zarina agak longgar jika dibandingkan dengan lubang Linda.

     

    Oleh kerana lubangnya penuh dengan air maninya sendiri, setiap kali aku menghunus batang aku dalam ke lubangnya, bunyi kocakkan air maninya kuat seperti bunyi memukul air dengan belati. Air faraj Zarina melimpah keluar membasahi cadar katilnya. Aku kemudiannya mengangkat kedua-dua kaki Zarina ke menolaknya atas katil. Lubangnya farajnya terbuka lebih luas dan aku dapat menghunus batang aku jauh ke dalam.

     

    “Oohh oohh. Oohh oohh!!” jerit Zarina setiap kali aku mengunus batangku ke dalam.

     

    Aku mengangkat punggung Zarina dan menyorongkan sebuah bantal di bawahnya, kemudian menolak kedua-dua kaki Zarina sehingga kepala lututnya berada di sebelah telinganya. Batang zakar aku sekarang dapat bergesel dengan dinding depan farajnya dan betul-betul jauh ke dalam. Kepala zakar aku menjumpai G-spotnya dan aku terus mendayung dengan lebih laju ke arah itu. Nikmatnya sungguh lazat sekali bagi aku dan juga Zarina. Aku tidak pernah merasa kelazatan seks yang begitu indah sekali sebagaimana yang aku sedang menikmatinya. Dan aku tahu yang Zarina pun merasai kenikmatan tersebut apabila dia meramas dan menarik punggungku dan mempercepatkan dayungan batangku ke dalam farajnya.

     

    “Oo Faris sedapnya oo” Zarina semakin hampir pada klimaksnya yang kedua.

    “Faster Faris I’m coming, I’m cummiingg!! Aarrghh!!”

     

    Badannya kejang semula sambil melonjak ke atas. Tangannya meronta-ronta seperti orang yang sedang lemas di dalam air, mulutnya tercungap-cungap seperti orang yang kekurangan udara, dan matanya terpejam kuat sehingga menitis air matanya. Kemudian badannya rebah semula ke atas katil.

     

    “Oohh oohh” suaranya semakin perlahan.

     

    Katil itu basah dengan peluh kami berdua, sementara air maninya mencurah-curah di antara celah kangkangnya. Tetapi aku masih belum selesai lagi dengan Zarina. Aku meluruskan semula kakinya untuk merapatkan lubang farajnya. Dayungan batang aku semakin laju dan kuat. Batang zakar aku sekarang bergesel dengan kuat pada kesemua dinding farajnya sambil air mencurah-curah keluar. Aku dapat merasakan yang kedua-dua telor aku sudah penuh dengan air mani dan menunggu masa untuk terpancut keluar.

     

    “Sayang.. Sayang, I’m gonna cum inside you. I’m gonna cum inside you now. Now.. NOW!!” Dengan sekuat hatiku, aku memancutkan air maniku terus ke dalam rahimnya.

    “Uugghh! Uugghh! Uughh!!” jeritku dengan setiap pancutan panas spermaku.

     

    Zarina klimaks lagi buat kali ketiga apabila rahimnya telah dibanjiri oleh air mani panasku. Sekarang kedua-dua badan kami rebah di atas katil yang basah dan berbau seks itu. Kami mengambil nafas panjang sambil berkucup-kucupan dengan penuh berahi. Aku memeluk Zarina dengan begitu erat sekali.

     

    “Sayang, you were wonderful. I love you so much ” aku ucapkannya kepadanya sambil tidak berhenti-henti mengucupnya.

    “Faris,” jawab Zarina manja.

    “That was the BEST fuck I ever had in my life” sambungnya sambil tersenyum.

     

    Akupun senyum padanya kembali. Saat itulah yang aku tahu bahawa walaupun Zarina adalah isteri Kamal, tetapi dia sekarang adalah milikku. Zarina meletakkan kepalanya di atas dadaku sambil memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Tidak sampai lima minit, dia kemudiannya tertidur dalam pelukanku. Aku merenung Zarina untuk seketika sebelum aku pun menidurkan diriku bersamanya. Aku tidak melepaskan pelukanku yang erat sepanjang masa aku menidurinya.

     

    Apabila kami bangun dari tidur, jam telah menunjukkan pukul dua belas tengah hari. Oleh kerana kami tidak memasang air-con bilik tersebut pada awal pagi tadi, badan kami basah dengan peluh masing-masing akibat panas cuaca tengah hari. Bau bilik tidur Zarina tidak ubah seperti bau sarang pelacuran. Seperti biasa, batang zakar aku keras dan tegang selepas aku tidur. Zarina yang perasan kekerasan batang aku itu menyahut pelawaannya.

     

    Dia memanjat duduk ke atas badanku yang sedang telentang di atas katil dan memegang batang zakar aku dengan tangannya. Kemudian, dia mengangkangkan kakinya di atas batang zakar aku dan dengan perlahan menurunkan badannya ke bawah. Batang zakar aku yang semakin keras itu dengan perlahan dimasukkannya ke dalam lubang faraj yang sedang lapar itu. Kali ini giliran Zarina pula yang mengambil control. Pada awalnya, pergerakkannya turun naik adalah perlahan sambil dia memperbetulkan posisinya supaya batang zakar aku bergesel dengan G-Spotnya. Apabila dia telah mencapai posisi yang selesa, lonjakkannya turun-naik semakin laju dan semakin kuat.

     

    “Eerrghh!! Eergghh!! Eerghh!!” jeritan Zarina lebih liar berbanding sesi pagi tadi.

     

    Semakin lama semakin lemas Zarina dalam kenikmatan seks kami. Aku terpaksa memegang pinggangnya untuk memberbetulkan balancenya supaya dia tidak terjatuh dari lonjakannya yang liar itu. Kedua-dua payudaranya melonjak naik turun mengikut rhythm badannya seperti belon yang berisi air. Rambutnya yang panjang terbang melayang. Peluhnya memercik turun dengan seperti air hujan.

     

    Setelah hampir sepuluh belas minit Zarina menunggangku seperi menunggang seekor kuda liar, akhirnya kami berdua sampai ke klimaks hampir serentak. Badannya kejang seperti orang kena kejutan elektrik dan kemudian rebah jatuh ke atas badanku keletihan. Walaupun sesi seks kami kali ini hanyalah beberapa minit sahaja, tetapi keletihannya jauh lebih dirasai dari pagi tadi. Setelah kembali dengan tenaga masing-masing, kami turun ke bawah dan Zarina menyediakan spaghetti bolognese untuk makanan tengahari.

     

    Dia hanya berpakaian baju tidurnya tanpa berseluar dan aku pula hanya memakai seluar dalamku. Sepanjang makan tengahari, kami bermain-main dengan spaghetti kami dengan permainan erotik. Kadangkala aku sengaja menumpahkan speghetti aku ke atas payudara dan farajnya dan kemudian menjilat-jilatnya semula ke dalam mulutku. Zarina pun berbuat perkara yang sama ke atas batang zakarku. Dalam sekejap masa sahaja, kami dalam keadaan berbogel semula dalam posisi 69 menikmati kemaluan masing-masing di atas lantai dapurnya.

     

    Aku memancutkan air mani aku ke dalam mulutnya dan dia menyedut dan menelan setiap titik. Kemudian, Zarina membertahu aku bahawa inilah kali pertama dia merasai air mani seorang lelaki. Selama ini, Kamal tidak pernah mengajarnya dengan oral sex. Setelah habis ‘makan tengahari’, kami bergerak ke living hallnya pula. Zarina memasang CD “Kenny G” dan kami saling beramas-ramasan, kucup-berkucupan dan menjilat-jilat antara satu sama lain di atas kerusi panjang. Apabila keadaan kembali menjadi hangat semula, kami menyambung sesi 69 di atas karpet rumahnya.

     

    Kami akhirnya jatuh tidur kepenatan di atas karpet rumah Zarina bertatapkan kemaluan masing-masing. Jam empat petang, aku dikejutkan oleh Zarina..

     

    “Bangun Faris. You have to go,” jelasnya.

    “Aku terpaksa ambil anak-anakku dari nursery lepas tu Kamal akan pulang. Tapi sebelum tu, tolong aku kemas”

     

    Aku menolong Zarina mengemas dapur dan bilik tidurnya. Cadarnya penuh dengan tompokkan air-air seks kami. Zarina terus menukar cadar katil dengan cadar yang baru. Setelah selesai mengemas bilik tidur, kami akhirnya masuk ke dalam bilik air untuk mandi. Kami memandikan dan menyabun diri masing-masing dengan gerakan yang erotik di bawah aliran air shower. Keadaan menjadi semakin erotik dan kami bersetubuh buat kali kelima di dalam shower itu. Setelah selesai membersihkan diri masing-masing, aku mengenakan pakaianku semula dan bersiap sedia untuk pulang.

     

    “Thank you kerana sudi spent time with me today, sayang,” aku ucapkan kepadanya semasa aku hendak keluar.Zarina tersenyum, “Well, it’s not that I have a choice, do I?”.

     

    Aku tertawa dengan sindirannya. Dengan perlahan aku mengucup bibirnya sekali lagi dan mengucapkan goodbye. Mulai dari saat itu, perhubungan aku dengan Zarina lebih erat dari suami isteri lagi. Hampir setiap hari aku menyetubuhinya. Samada aku akan akan pejabatnya waktu lunch break atau dia akan menemuiku. Tak kiralah samada di bilik setor, di pantry, di dalam tandas, mahupun di dalam bilik bos, kami akan melepaskan nafsu masing-masing di mana sahaja ada ruang kosong dan sunyi.

     

    Dua minggu kemudian, kami akan berjumpa sejam sekali sehari di apartmentku. Aku telah memberikan kunci kepadanya supaya senang dia berkunjung. Selalunya kami akan menonton Video CD porno sambil memainkan semula adigan-adigan seks tersebut. Perhubungan sulit kami berterusan sehingga hampir setahun lamanya. Satu hari, setelah selesai kami melakukan hubungan seks di apartmentku, aku memeluk Zarina dengan erat sambil berbisik ke telinganya..

     

    “Ina, I miss you so much” Zarina memandang ke arahku.

    “Miss me? Hai.. Bukan ke hari-hari I datang ke apartment you ni, itupun rindu lagi ke?”

    “Sayang, kita sekarang hanya mencuri-curi masa untuk berjumpa. Itupun sekejap saja during lunch break”.

     

    Aku membuka cerita, “Ingat tak tahun lepas, sayang, masa I mula-mula menyentuh you di rumah you masa you MC Hari tu?” Zarina tersenyum sambil memejamkan matanya.

     

    “I will never forget the moment, Faris”

    “That is what I miss, sayang. I don’t want to spent an hour making love, tapi the whole day, even a whole week kalau boleh,” aku menerangkan kepadanya.

    “Difficult,” jawab Zarina.

    “Even now, Kamal dah mula suspicious. Rasanya, it is impossible untuk you datang rumah I lagi” Aku terus duduk dan memegang tangannya.

    “I bukan fikirkan rumah you, sayang. Apa kata kalau kita take a long break dan pergi vacation somewhere for a week”

    “Vacation? The two of us?” Zarina menggelengkan kepalanya.

    “You dah lupa ke pada suami dan keluarga I?”

    “Dia orang tak perlu tahu yang you pergi vacation. Cakap pada Kamal you kena outstation pasal kerja”, terang I.

     

    Pada mulanya Zarina agak keberatan, tetapi setelah aku pujuk, akhirnya dia bersetuju juga. Kami merancang dengan teliti program kami. Zarina memohon untuk menghadiri kursus management selama seminggu kepada majikannya. Setelah puas mencari, akhirnya Zarina dapat register pada satu seminar public management di Berjaya Langkawi Beach Resort. Aku pula mengambil cuti rehat selama seminggu pada tarikh seminar tersebut.

     

    Kami sengaja mengambil flight yang berasingan ke Langkawi pada hari tersebut. Aku pergi dulu pagi itu dan kemudian menunggu Zarina di airport. Kapal terbangnya tiba waktu tengahari. Aku menjemputnya dan kemudian kami terus check-in di Berjaya. Zarina pergi berjumpa dengan urusetia seminar dan membatalkan penyertaannya. Di Langkawi, kami seperti sepasang kekasih yang paling intim sekali lebih intim dari sepasang suami-isteri yang baru berkahwin.

     

    Dua malam pertama vacation, kami terperap di dalam chalet berasmara siang dan malam. Kami tidak keluar bilik langsung. Even makanan kami di hantar melalui room service. Di hari-hari berikutnya kami menjadi lebih adventurous. Kami keluar bersiar-siar di hutan (Berjaya Langkawi dibina di sekeliling hutan seperti suasana kampung) dan melakukan persetubuhan apabila tiada orang melihat. Kadang-kadang pada waktu malam, kami akan berjalan di pesisiran pantai dan kemudian melakukan persetubuhan di situ di bawah sinaran bintang-bintang yang samar.

     

    Setiap hari kami akan melakukan seks sekurang-kurangnya tiga atau empat kali sehinggakan air mani aku kering terus dan tidak keluar lagi apabila aku klimaks. Aku tidak dapat lupakan pengalaman aku dengan Zarina selama seminggu di Langkawi. Terlalu banyak sexual adventure yang kami terokai. Mungkin aku akan ceritakannya satu persatu dalam kisah-kisah yang lain. Tetapi perkara yang betul-betul terkenang di fikiranku hingga kini adalah pada malam terakhir kami di Langkawi. Setelah selesai makan malam di sebuah restoran yang romantik, kami pulang ke chalet cinta kami. Sebaik sahaja kami masuk ke dalam bilik, aku terus memeluk Zarina dari belakang dan mencium lehernya dengan rakus.

     

    “Faris” Zarina ketawa kecil dengan tindakanku itu.

     

    Dia kemudiannya memusingkan badannya ke arahku dan mengucup bibirku. Tanpa membuang masa lagi, aku terus mengangkat tubuh badannya dan membaringkannya di atas katil. Dengan perlahan, aku menanggalkan pakaiannya sambil meraba-raba tubuh badannya. Zarina pun berbuat perkara yang sama padaku. Setelah hampir sepuluh minit kami bermain-main di atas katil, kami sudah menanggalkan semua jenis kain yang ada pada tubuh kami. Faraj Zarina sudah basah dengan air mazinya sementara batang zakarku telah tegang pada tahap maksimumnya. Aku mendudukkan diriku di atas hujung katil sementara Zarina masih telentang menghadapku. Aku mengangkat kaki Zarina ke atas dan menyandarkannya ke atas badanku dan bahuku. Dengan perlahan aku memasukkan batang zakar aku ke dalam lubang farajnya yang sedang menanti.

     

    “Hmm” bunyi Zarina begitu manja sekali sambil memejamkan matanya tersenyum menikmati batang zakar aku di dalam farajnya.

     

    Dengan perlahan, aku memulakan pendayunganku. Tetapi nikmat persetubuhan kami malam itu tiba-tiba terganggu dengan bunyi telefon bimbit Zarina.

     

    “Fuck!” katanya dengan perasaan geram tatkala terkejut dengan bunyi telefonnya.

    “Lupakan, sayang” bisikku padanya.

     

    Zarina menoleh ke arah telefon bimbitnya dan dengan tiba-tiba air mukanya berubah menjadi pucat. Aku turut menoleh dan pada waktu itu aku nampak nombor telefon yang terpampar di skrin telefon bimbit Zarina adalah dari rumahnya sendiri. Zarina tidak menjawab pada mulanya dan membiarkan telefon itu berdering. Aku masih lagi mendayung batang zakarku ke dalam lubang faraj Zarina sepanjang telefon itu berdering.

     

    Setelah hampir dua minit, akhirnya ianya pun senyap. Tetapi mood Zarina sudah berubah. Dia kelihatan gelisah dan masih merenung telefonnya. Aku cuba menenteramkannya semula dengan meramas-ramas payudaranya dan menghunus batang zakar aku lebih dalam. Tetapi usaha aku tidak berjaya tatkala telefon itu berdering sekali lagi. Kali ini Zarina tersentak seolah-olah seperti suaminya berada di dalam bilik itu. Setelah berfikir dua tiga kali, akhirnya Zarina mencapai telefonnya sebelum aku dapat berkata apa-apa.

     

    “Hello,” jawab Zarina.

    “Oohh.. Abang”

     

    Walaupun aku tidak mendengar siapa yang berada di sebalik talian telefon itu, aku tahu ia adalah Kamal.

     

    “Ina baru balik dari closing seminar ni,” suaranya menggeletar menjawab.

    “Baru ni balik ke bilik” Zarina menipu suaminya.

     

    Tiba-tiba Zarina tidak berkata apa-apa. Kamal memberitahu isterinya sesuatu yang panjang. Zarina dengan penuh konsentrasi mendengar kata-kata suaminya itu tanpa tidak sedar yang aku masih mendayung batang zakar dengan perlahan keluar masuk lubang farajnya.

     

    “Abang, janganlah kata begitu”, suara Zarina lembut. Matanya sudah mula berair.

    “Ina masih cintakan Abang. Abanglah satu-satunya kasih dan sayang Ina”, Air matanya sudah mula menitik. Aku tidak tahu samada dia bercakap ikhlas pada suaminya ataupun berbohong.

    “Ina lah sebenarnya yang banyak berdosa dengan Abang”, Zarina sudah mula menangis.

    “Abang tak ada apa-apa dosa dengan Ina. Inalah yang bersalah”, dia merayu ke dalam telefonnya.

    “I know. I really miss you too, my love”, bisiknya ke dalam telefon.

    “I love you too”, kata-kata Zarina terakhir pada suaminya sebelum dia mematikan telefon bimbitnya.

     

    Dia kemudiannya terus menangis. Aku tidak tahu apa yang dikatakan oleh Kamal kepada isterinya itu tetapi aku tahu ianya telah menyentuh hati kecil Zarina. Aku meletakkan kaki Zarina di atas katil semula dan dengan perlahan memeluk tubuhnya. Dalam pelukanku, Zarina mengucapkan sesuatu padaku yang pahit aku penah dengari..

     

    “Faris, I cannot go through this anymore. Aku sudah tidak sanggup menduakan suamiku lagi. Kamal seorang suami yang baik, Faris. Please understand”

    Agak susah untuk aku menerimanya, tetapi setelah termenung seketika, aku terpaksa akui yang Zarina bukannya milikku selamanya. Aku merenung mata kekasihku dengan penuh kasih sayang. Dengan perlahan, aku mengundurkan batang zakarku dari lubang farajnya. Tetapi tiba-tiba Zarina berkata..

    “Faris, don’t”, dengan perlahan Zarina memeluk punggungku, dan menolaknya kembali menyebabkan batang zakar aku kembali masuk ke dalam lubangnya.

    “Faris” Zarina berkata perlahan.

    “I want you to make love to me tonight. Tapi kau mesti faham bahawa malam ini adalah malam terakhir buat kita berdua. Selepas dari malam ini, kita sudah tidak ada apa-apa lagi”

    “Tetapi aku nak kau tahu”, sambung Zarina, “Bahawa aku tidak pernah merasai nikmat cinta sebegitu indah sebagaimana aku merasainya bersama kau dalam satu tahun kita bersama”

    “Aku tidak merasainya walaupun dengan Kamal. But painful as it is, it has to end tonight”, Zarina mengakhiri ayatnya sambil air matanya berlerai turun.

    Aku memeluk kekasihku itu dengan penuh erat, “Oohh sayangku” keluhanku padanya.

    Aku mengucup bibirnya dengan perlahan sambil meneruskan pendayunganku. Sepanjang persetubuhan kami malam itu, tidak satu pun suara kedengaran dari kami berdua. Zarina menutup matanya sambil menikmati dayunganku buat kali terakhir. Apabila kami berdua mencapai klimaks, kami menguatkan pelukan dengan lebih erat lagi tanpa mengeluarkan satu keluhan pun.

    Malam itu aku memancut air maniku dengan banyak sekali ke dalam rahim Zarina, sebagaimana yang aku rasai sewaktu pertama kali kami bersetubuh. Walaupun setelah selesai persetubuhan kami, aku tidak mencabut keluar batang zakarku dari lubang farajnya. Aku membiarkannya berada di dalam tubuh Zarina sepanjang malam. Kami tidur dalam pelukan masing-masing sambil kedua-dua tubuh kami bersatu. 

    Tatkala siang menjelma keesokkan harinya, tubuh kami masih lagi bersatu. Tetapi aku tahu bahawa segalanya telah berakhir. Dengan perlahan aku mengeluarkan batang zakar aku dari farajnya. Kami mengemaskan diri dan pakaian masing-masing secara berasingan. Lazimnya, kami sudah melakukan persetubuhan di waktu pagi samada di atas katil atau di bilik air. Kali ini ianya tidak berlaku. Aku dan Zarina mandi berasingan.

    Aku check-out dari resort itu dahulu kerana flight aku adalah flight pagi. Semasa di dalam kapal terbang, aku sudah rindukan Zarina. Apabila sampai di Subang, aku mengambil keputusan untuk menunggu Zarina. Aku menunggunya hingga ke tengah hari apabila flightnya touch-down. Tiba-tiba aku terlihat Kamal membawa ketiga-tiga anaknya untuk menjemput isterinya. Beberapa minit kemudian, Zarina keluar dari balai ketibaan disambut oleh keluarganya.

    Zarina mencium tangan suaminya, dan kemudian Kamal mencium pipi Zarina. Mereka berpelukan antara satu sama lain seperti satu keluarga bahagia. Aku hanya memerhatikan keluarga Zarina dari jauh. Pada ketika itu aku berasa kesal dan sedih ke atas Kamal. Dia memang seorang rakan yang baik kepadaku. Dia banyak menolong sejak kami berdua dari kecil lagi. Tetapi aku telah membalas jasa-jasa baik kawan karibku dengan meniduri isterinya. Aku meninggalkan lapangan terbang itu dengan hati bercampur sedih dan juga gembira.

    Sejak daripada itu, aku dan Zarina sudah tidak mempunyai apa-apa hubungan lagi. Aku cuma menjumpainya di waktu gathering rakan-rakan kami. Pada mulanya agak sukar untuk kami menerimanya, tetapi semakin hari semakin dapat adjust seperti mana keadaan sebelumnya. Cuma sesekali aku terlihat perasaan rindu Zarina kepadaku di dalam matanya. cerita dewasa


    0 0
  • 11/27/17--20:30: Pemerkosaan Gadis China Amoy

  • cerita sex - Di kampusku ada seorang gadis yang cantik jelita amoy, namanya Ai Ling, ia keturunan China. Kulitnya putih mulus, rambutnya di-highlight kemerahan panjang, bentuk tubuh langsing dan proporsional. Sekali melihatnya kita akan langsung mengetahui bahwa ia anak orang kaya. tetapi yang paling kusuka darinya yaitu payudaranya yang besar, kutaksir berukuran sekitar 36B. Aku sering bermasturbasi dengan membayangkan kubuka BH-nya pelan-pelan dan tampaklah dua gunung padat menawan. Lalu kubayangkan kuperkosa ia, kubuat badannya dan susunya terguncang-guncang, tak peduli ia menjerit-jerit kesakitan dan meronta-ronta. tetapi itu tak perlu kuceritakan lebih lanjut, karena akan kuceritakan pengalamanku yang sesungguhnya, yaitu memperkosa gadis chnia amoy Ai Ling.

    Kampusku, T, terkenal dengan mayoritas mahasiswa keturunan Chinanya. Kami kaum pribumi hanya menjadi warga minoritas di sana. Sudah minoritas, kebanyakan laki-laki pula. Kalaupun di antara kami ada yang perempuan, biasanya jelek, gendut dan hitam kulitnya seperti kulitku. tetapi jangan memandang enteng diriku, aku berbadan besar, tinggi dan “adikku” panjangnya 18 cm bila sedang “on”. Suatu hari si Ai Ling ini datang ke kampus dengan memakai baju ketat berwarna merah yang menonjolkan keindahan bentuk payudaranya dan celana panjang hitam yang memperlihatkan lekukan pinggulnya. Sebenarnya sudah biasa ia datang ke kampus dengan pakaian seperti itu, tetapi kali ini aku tak sanggup menahan birahiku yang sudah tertahan sejak lama. Pokoknya kali ini aku harus mendapatkannya, pikirku waktu itu. Ia lewat di depanku, aku hanya bisa menahan ludah mencium bau harum tubuhnya dan melihat kedua susunya yang seakan minta kuremas-remas. Saat ia menuju ke arah mobilnya kuikuti ia. Kebetulan tempat parkir kampusku sepi karena waktu itu sudah sore sekali, jam 6:00. Saat ia membuka pintu mobil, kubekap mulutnya dan kutempelkan pisau di lehernya yang jenjang.

    “Heh! Lu jangan macem-macem ya kalo masih pengin hidup! Sekarang kita masuk mobil, lu yang mengemudi dan ingat, pisau ini siap ngeluarin usus lu kalo lu macem-macen di jalan!” ancamku. “I… iya Mas, ampun! Jangan sakiti saya!” kata Ai Ling meratap mohon ampun. Rencana itu berjalan sukses, satpam yang menjaga pintu gerbang kampus tidak curiga begitu mobil kami lewat. Jelas ia tak berkutik, di sampingnya ada aku yang memeganginya dan menempelkan pisau di pinggangnya.

    Sepanjang jalan Ai Ling meratap-ratap mohon belas kasihan, ia bilang aku boleh mengambil semua duitnya, perhiasan dan handphone jika ia dibiarkan pergi. Mimpi kali dia, mana mungkin aku melepaskan gadis secantik dia tanpa di-“mainin” dulu. Akhirnya kami sampai di rumahnya. Sudah kuselidiki dulu kalau ia tinggal sendirian di rumah besar itu tanpa pembantu dan orangtua. Orangtuanya sering ke luar negeri untuk urusan bisnis. Kugiring ia ke dalam kamar khusus karaoke yang kedap suara dan kukunci pintunya. Sebelumnya aku sudah mencabut kabel telepon, mengunci pagar dan lain-lain agar tidak tampak sesuatu yang mencurigakan dari luar. Wajahnya sudah pucat pasi membayangkan apa yang akan kuperbuat. “Mas mau apa… Aaw!” Aku segera merobek t-shirtnya dan terlihat dua buah bukit indah yang seakan tidak cukup ditampung oleh BH-nya. Ia lari ke ujung kamar, tetapi aku segera memburunya dan menarik BH-nya hingga kini payudaranya terlihat jelas. Susunya ternyata lebih besar dari dugaanku dan warnanya lebih putih dari kulit tangannya. Dengan nafsu kuremas-remas, ia berteriak kesakitan dan meronta melepaskan diri. Aku semakin bernafsu, kutarik celananya dengan paksa sambil kuremas susunya lebih kuat lagi

    Tanpa kesulitan aku berhasil merobek celana dalamnya, ia kalah tenaga denganku yang berbadan besar ini. Langsung kuangkat ia, pantatnya kuangkat dengan tanganku dan kemaluannya kupompa dengan paksa. Ia berteriak kesakitan karena ukuran batang kemaluanku yang besar itu dan dengan kalap mencakar dan memukul mukaku. Tindakannya justru membuatku semakin bernafsu, makin cepat dan dalam kupompa dia. Ia menjerit-jerit dan mencakar tangan dan dadaku. Justru rasa sakit membuatku makin bernafsu, dengan kasar kugoncang dia naik-turun seperti naik kuda-kudaan. Rupanya Ai Ling masih perawan, aku bisa merasakan darah segar mengalir dari lubang kewanitaannya ke pangkal pahaku. Pantas ia merasakan sakit yang amat sangat, itu karena aku menembus selaput daranya dengan paksa. Posisi sekarang berubah, aku duduk dengan dia duduk di pangkuanku. Lama-lama tenaganya melemah dan tiba-tiba ia mengejang, kedua kakinya melingkari punggungku. Kurasakan kemaluannya telah basah, rupanya pompaanku yang ganas dan ukuran kemaluanku telah membuatnya orgasme walau ia berusaha menolaknya. Ai Ling langsung lemas dan tanpa perlawanan ia jatuh ke belakang. Karena aku belum sampai, kutahan tubuhnya agar tetap di pangkuanku dan terus kupompa ia. Dalam posisi itu kuhisap pentilnya yang coklat dan kugigit payudaranya yang besar hingga berdarah dan memerah. Ai Ling hanya bisa menangis sesenggukan tanpa melawan lagi, sudah pasrah rupanya.

     

    15 menit, aku belum juga ejakulasi, kubalik tubuhnya hingga menungging dan tanpa basa-basi kutembus anusnya langsung sampai sedalam-dalamnya dengan batang kemaluanku yang 18 cm itu. Sejenak Ai Ling seperti tersentak kaget dan berusaha melepaskan diri. Ia meronta sekuat tenaga tetapi kupegangi pinggangnya dengan kedua tanganku kuat-kuat. Ia kembali mencakarku membabi buta dan rasa sakit itu membuatku lebih bersemangat memompa Ai Ling. Satu tanganku kugunakan untuk meremas susunya kuat-kuat dan satunya lagi kugunakan untuk menyodok kemaluannya dalam-dalam keluar masuk. Kali ini ia benar-benar tidak bisa berkutik. Kurasakan anusnya sudah lecet tergesek oleh batang kemaluanku tetapi kemaluannya basah karena rangsangan hebatku. Tiba-tiba ia menggigit tanganku yang kugunakan untuk meremas susunya. Aku terpaksa melepaskannya karena kesakitan dan ia berhasil melepaskan anusnya dari batang kemaluanku. Ai Ling lari ke pintu tetapi ia tak bisa membukanya karena kuncinya ada di saku celanaku. Nafsuku yang belum terpuaskan membuatku marah, kuburu ia dan kupukul muka serta payudaranya yang besar dan kenyal itu. Ai Ling terjerembab dengan mulut berdarah. “Oh jadi elu mau maen kasar ya, OK!!” teriakku. Kupukuli dada, perut dan mukanya hingga ia jatuh lemas dengan muka sembab. Kulitnya yang putih mulus tampak memerah dan Ai Ling sudah setengah sadar, yang jelas ia tak bisa bangkit lagi.

    Dari tasku kukeluarkan dua anting-anting berbentuk ring dan salah satunya kutindikkan ke puting payudara Ai Ling. Ai Ling menjerit kesakitan dan darah langsung mengalir di susunya. Aku semakin bernafsu melihatnya dan ia memberontak berusaha lari lagi. Kali ini kupukul ia kuat-kuat sampai ia pingsan dan memudahkanku untuk memasang anting-anting kedua. Darah yang mengalir dari puting dan kemaluan Ai Ling semuanya kuhisap dan kujilati sampai kering. Dengan pingsannya dia, aku bisa sesuka hati berganti posisi. Pertama kuangkat ia dan kududukkan di pangkuanku sambil kunaik-turunkan pinggulnya. Lalu dari belakang kupompa ia sekuat tenaga. Masih belum juga aku ejakulasi. Kedua kakinya kunaikkan ke bahuku dan kubentang lebar-lebar lalu kupompa kemaluannya yang berdarah-darah dengan kencang. Perlu sekitar 50 kali pompaan untuk mengeluarkan spermaku. Semuanya kutumpahkan di dalam sebanyak 5 kali semprotan. Sisanya yang mengalir keluar kuambil dan kulapkan di susu dan perutnya. Kunikmati dulu keadaan itu, dimana batang kemaluanku masih tertancap di lubang kemaluannya. Kulihat wajah cantiknya yang bersimbah peluh masih pingsan, tampak tak berdaya, nafsuku timbul lagi. Sayang sekali jika aku hanya menyetubuhinya satu kali hari ini.

    Kupapah ia ke kamar mandinya yang ternyata sangat mewah. Bak mandinya kuisi dengan air hangat sampai penuh dan Ai Ling kubaringkan di situ. Kulit putih mulusnya yang basah kuyup membuat batang kemaluanku yang tadinya lemas kembali tegang. Aku duduk di dalam bak mandi itu juga, dihadapannya, dan kali ini dengan leluasa kujamah seluruh tubuhnya dan kuremas-remas payudaranya yang besar itu. Putingnya yang beranting-anting kuisap, kusedot seluruh darah yang tersisa. Lalu kuangkat tubuhnya dan kusedot kemaluannya sampai seluruh cairan kewanitaannya habis. Tiba-tiba aku teringat, Ai Ling bisa sadar kapan saja dan meronta-ronta. Dengan cepat kucari tali untuk mengikat kedua tangannya ke belakang erat-erat. Di dalam bak mandi itu aku kembali memasukkan batang kemaluanku ke lubang kemaluannya. Kupompa ia dengan cepat selama 15 menit. Karena merasakan ada benda yang mengganjal dan keluar masuk di kemaluannya, akhirnya Ai Ling sadar. Ia mendesah karena belum sepenuhnya sadar dari pingsannya. Aku tak peduli, kugenjot terus ia sampai cairan maniku keluar dan kutumpahkan di dalam kemaluannya. Ia akhirnya sadar, menangis sesenggukan dan berusaha meronta walau tangannya terikat. Ia kembali merintih mohon ampun dan mengeluh kesakitan di kemaluannya.

    Kucabut batang kemaluanku dan kulihat kemaluannya, ternyata agak bengkak kemerahan. Rupanya kemaluannya tak sanggup menampung batang kemaluanku yang besar dan gesekan terus-menerus yang kasar. Entah kenapa, keadaan itu malah membuatku makin terangsang. Ketidakberdayaan Ai Ling dan kemaluannya yang bengkak itu membuatku bernafsu memasukkan batang kemaluanku yang besar ke lubang kemaluannya sekali lagi. Kali ini kutancapkan dalam-dalam dan kupompa ia sekuat-kuatnya. Ia menjerit-jerit kesakitan mohon ampun, meronta-ronta dengan tangan terikat, tetapi aku tetap memompanya dengan penuh semangat di bak mandi itu. Akhirnya ia pingsan karena kusenggamai terus-menerus selama 3 jam. Kulihat kemaluannya sudah bengkak dan kembali mengeluarkan darah. Kemudian kufoto ia dengan kamera yang sudah kupersiapkan sebanyak 1 rol film dari berbagai posisi. Kucuci cetak foto itu dan kutunjukkan ke Ai Ling tiga hari kemudian pada saat ia masuk kuliah. Ia kuancam dengan janji tak akan kuedarkan foto itu asal ia mau kusenggamai tiap hari di rumahnya. Dengan terpaksa akhirnya Ai Ling melayaniku tiap hari sampai aku bosan dan mencari mangsa lain. tetapi yang membuatku bangga, walaupun ia kuperkosa, tetapi ia selalu orgasme berkali-kali setiap kupakai tubuhnya. cerita sex


    0 0


    cerita bokep - Dirumah tante aku sedang berlibur di kota Bandung, nginap dirumah Om ku adik mama yang paling kecil. Mereka memang 7 bersaudara dan mamaku yang paling tua, aku saat itu berumur 20 tahun dan omku berumur 35 tahun. Istri om ku, tante Ida berumur 27 tahun, orangnya sangat cantik dan mempunyai tubuh yang mungil tapi padat. Pantatnya bebar-benar montok dengan pinggang yang ramping dan perut yang datar, maklum mereka belum mempunyai anak, biarpun sudah kawin hampir 3 tahun

    Akan tetapi tante Ida yang cantik itu, orangnya sangat judes, dia tidak memandang mata keluargaku, maklum kami hanya biasa-biasa saja, sedangkan tante Ida datang dari keluarga yang sangat kaya di kota Surabaya, dia hanya 2 bersaudara dan Ida adik perempuannya yang berumur 22 tahun, masih kuliah di ITB dan tinggal dirumah om dan tante Ida di Bandung. Selama aku berada dirumah om ku ini, hampir setiap hari tante Ida mengomel saja, karena dia memang sangat benci kalau aku menginap dirumah mereka.

    Disamping aku memang termasuk anak yang bandel, biarpun secara postur tubuh, aku sudah kelihatan sangat dewasa, karena tinggi badanku 175 cm dengan tubuh yang berotot, tante Ida curiga saja dan menganggap aku sering menerima duit dari om ku, pada hal sangat jarang om ku memberi aku duit. Saat ini aku nginap di rumah mereka, sebenarnya hanya terpaksa saja, karena aku sedang berlibur di Bandung dan ibuku memberitahukan kepada om ku yang memaksa aku tinggal dirumahnya.

    Hari ini entah mengapa aku merasa suntuk banget sendirian, kemarin sore sebelum om ku pulang dari kantor, tante Ida marah-marah dan menunjukan muka cemberut terhadap saya. Saat itu rumah berada dalam keadaan sepi, om sudah pergi kekantor, Mbak Ani adik tante Ida sedang pergi kuliah, Bik Suti lagi pergi ke pasar, dan tante Ida katanya mau pergi ke arisan. Tadi sebelum pergi dengan nada yang setengah membentak, tante Ida menyuruh saya menjaga rumah. Dari pada BT sendiri, mending nonton BF aja di kamar, pikirku. TV mulai kunyalakan, kuambil CD porno yang kemarin kupinjam ditempat persewahan dekat rumah, adegan-adegan panas nampak di layar. Mendengar desahan-desahan artis BF yang cantik dan bahenol tersebut membuat aku terangsang. Dengan lincahnya tanganku melucuti celana beserta CD-ku sendiri. Burungku yang sedari tadi tegak mengacung kukocok perlahan.

    Film yang kutonton itu cukup panas, sehingga aku menjadi semakin bergairah. Kutanggalkan pakaian yang masih melekat, akhirnya tubuhku tanpa ada penutup sekalipun. Kocokan tanganku semakin cepat seiring dengan makin panasnya adegan yang kutonton. Kurasakan ada getaran dalam penisku yang ingin meyeruak keluar. Aku mau orgasme, tiba-tiba� �Anton.. apa yang kamu lakukan!!� teriak sebuah suara yang aku kenal. �Ooooohh� Tante�?!� aku kaget setengah mati dan sangat bingung sekali saat itu. Tak kusangka tante Ida yang katanya mau pergi arisan bisa kembali secepat itu.

    Tanpa sadar aku bangkit berdiri dan kudekati tante Ida yang cantik tapi judes itu, yang masih berdiri dalam keadaan kaget dengan mata membelalak melihat keadaanku yang telanjang bulat dengan penisku yang panjang dan besar dalam keadaan tegang itu. Tiba-tiba entah setan mana yang mendorongku, secara refleks saja aku menyergap dan mendekap tubuh tante Ida yang mungil padat itu. Badannya yang mungil dan tingginya yang hanya sampai sebahu dari ku, ku bekap dengan kuat dan kutarik agak keatas, sehingga tante Ida hanya berdiri dengan ujung jari kakinya saja dengan kepala agak tertengadah keatas, karena kaget.

    Dengan cepat kucium dan kulumat bibir tipisnya yang seksi. Eeeehhhh ppppffffff!!! badan tante Ida seketika mengejang dan agak menggeliat menerima perlakuan yang tidak pernah dia sangka akan berani aku lakukan itu dan sesaat kemudian dia mulai memberontak dengan hebat, sehingga ciumanku terlepas. Anton.. jangan kurang ajar.. berani benar kau ini.. ingat, Toonnn.. Aku ini istri om mu!!! Cepat lepas, nanti kulaporkan kau ke om mu teriak tante Ida dengan suara garang mencoba mengancamku.

    Aku tak lagi peduli, salah tante Ida sendiri sih, orang mau orgasme kok diganggu. Dengan buasnya aku jilat belakang telinga dan tengkuknya, kedua payudaranya yang biarpun tidak terlalu besar, tapi padat itu langsung kuramas-ramas dengan buas, sampai tante Ida menjerit-jerit. Disamping nafsuku yang memang sudah menggila itu, ada juga rasa ingin balas dendam dan mau mengajar adat padanya atas perlakuan dan pandangannya yang sangat menghina padaku. Dia mencoba berteriak, tapi dengan cepat aku segera menciumnya lagi.

    Ada kali 10 menit aku melakukan hal itu, sementara tante Ida terus meronta-ronta, dan mengancamku serta mencaci maki, entah apa saja yang dikatakannya, aku sudah tidak memperdulikannya lagi. Aku terus menyerangnya dengan buas dan mengelus-elus dan meremas-remas seluruh tubuhnya sambil terus mencium mulutnya dengan rakus. Dia tidak dapat melepaskan diri dari dekapanku, karena memang tubuhku yang tinggi 175 cm dengan badan yang atletis dan berotot, tidak sebanding dengan tubuh tante Ida yang 155 cm dan mungil itu. Akibat seranganku yang bertubi-tubi itu, lama kelamaan kurasakan tidak ada lagi perlawanan dari tante Ida, entah karena dia sudah lelah atau mungkin dia mulai terangsang juga.

    Merasa sudah tidak ada perlawanan lagi dari tante Ida, penisku yang panjang dan besar yang sudah sangat tegang itu kugosok-gosok pada perutnya dan kemudian kuraih tangannya yang mungil dan kuelus-elus ke penisku, tangan mungilnya kugosok-gosok, mengocok penisku yang mulai mengeras. Tubuhnya terasa mengejang, akan tetapi kedua matanya masih terpejam, dan tidak ada perlawanan darinya.

    Kemudian ketika dengan perlahan kubuka baju tante Ida, dia dengan lemah masih mencoba menahan tanganku, akan tetapi tanganku yang satu mengunci kedua tangannya dan tanganku yang lain membuka satu demi satu kancing-kancing blusnya, dan perlahan-lahan mempertontonkan keindahan tubuh di balik kain itu. Setelah berhasil membuka blus dan BH-nya, kuturunkan ciumanku menuju ke payudara tante Ida yang padat berisi.

    Tooonnnn aaammmpuunn Toonnnnn iiii.. iiingaaattttt.. Tooonnn..!!! Kucium dan kulumat putingnya yang berwarna kecoklatan itu. Terkadang kugigit dan kupuntir putingnya, sementara kusingkap roknya dan jari-jariku mulai mengelus-elus kemaluannya yang masih tertutup CD. Iiiiiiiiii..ooohhhhhhh..aaaagggghh hhhhh..ssssshhhhhhh..Toooonnnnn! !!!! akibat perlakuanku itu, kayaknya tante Ida mulai terangsang juga, itu terasa dari tubuhnya yang mengejang kaku dan dengusan nafasnya makin terdengar kuat. 

    Aku makin memperhebat seranganku dan tiba-tiba tubuh tante Ida bergetar dengan kuat dan.. Aaaahhhhhh..Toooonnnn jaaa..jaaa angaaannn.Tooonnnn iiiingaaaatttt..Tooo nnn oooohhhhhhh..aaaaaggggghhh..aaaaggghhh .aaaaggggggggghhhhh..!!!!! akhirnya, disertai tubuhnya yang mengejang dan menggeliat-geliat kuat, serta kedua tangannya mendekap punggung ku.Seerrr.. cairan kewanitaan tante Ida membasahi CD nya sekalian jemariku.

    Setelah masa orgasmenya berlalu, terasa badan tante Ida melemas terkulai dalam dekapanku dan kedua matanya masih terpejam rapat, entah perasaan apa yang sedang bergelora dalam tubuhnya, puas, malu atau putus asa akibat perlakuanku terhadap nya , sehingga dia mencapai orgasme itu. Tarikan nafasnya masih terengah-engah. Kami terdiam sejenak, sementara tubuh tante Ida bersandar lemas dalam dekapanku dengan mata. Jemari lentik tante Ida masih menggenggam penisku yang masih tegak mengacung.

    Akhirnya secara perlahan-lahan kepala tante Ida menengadah keatas dan terlihat pandangan matanya yang sayu menatapku, sehingga menambah kecantikan wajahnya dan secara lembut terdengar suaranya. Oooohhhh.Toonnnn, apa yang kau perbuat pada tantemu ini.?????

    Eeeehhmmm..maafkan Anton tante. Anton lupa diri,abis tante tadi masuk tiba-tiba selagi Anton akan mencapai klimaks.salah tante sendiri sihhh.lagi pula tante amat cantik sihhh ..!!!!!! sahutku mencari-cari alasan sekenanya.

    Sekarang kayaknya tante Ida sudah pasrah dan sambil tangannya masih menggenggam penisku katanya lagi.. Tooonnnn ..punya kamu gede amat yaaaa ????. Punya Om mu nggak sampai segede ini..!! Aaahhhhh, tante apa betull ?????! memang penis ku panjangnya 20 cm dan gede juga dengan kepalanya yang bulat besar, apalagi kalau lagi sangat bernafsu begini. Jemari lentik tante Ida yang tadinya hanya menggenggam saja, kini mulai memainkan penisku dengan manja.

    Seperti mendapat mainan baru, tangan tante Ida tak mau lepas dari situ. Taaannnnn ., kok diiiii ..dii diamin aja, dikocok dong, Taannn . biar enaaakkk .!!!! Ton, Ton.. kamu keburu nafsu aja .aaaaggghhh .!!! , perlahan-lahan kedua tanganku menekan bahu tante Ida, sehingga tubuh tante Ida berjongkok dan sesaat kemudian kepalanya telah sejajar dengan selangkanganku.

    Kedua tangannya segera menggenggam penisku dan kemudian tante Ida mulai menjilati kepala penisku dengan lidahnya. Bergetar seluruh tubuhku menerima rangsang dari mulut tante Ida. Dijilatnya seluruh batang kemaluanku, mulai dari pangkal sampai ujung. Tak ada bagian yang terlewat dari sapuan lidahnya. Dikocoknya penisku didalam mulutnya, tapi tak semuanya bisa masuk. Mungkin hanya 3/4 nya saja yang dapat masuk ke mulut tante Ida.

    Kurasakan dinding tenggorokan tante Ida menyentuh kepala penisku. Sungguh sensasi sangat luar biasa menjalar ke seluruh tubuhku. Cukup lama juga tante Ida mengulum penisku. Kurasakan batang penisku mulai membesar dan makin mengeras. Dari dalam kurasakan ada sesuatu yang memaksa untuk keluar. Merasa aku akan keluar, tante Ida semakin cepat mengocok batang kemaluanku. Taaannnnn..ah..aohh.. taaannn.. Anton mo keluar, .aaauuugghhhh ..taaannnn..!!!!!!! Akhirnya..Croott..croott..croottt.. Hampir sepuluh kali cairan itu menyembur dari ujung penisku.

    Diminumnya air maniku dengan, dijilatinya semua, sampai tak ada lagi cairan yang tersisa. Meskipun sudah keluar tetapi penisku tetap saja masih tegar, meski tak seberapa keras lagi. Melihat itu, tante Ida mencium-cium kepala penisku dan menjilat-jilatnya hingga bersih. Kemudian kutarik berdiri tubuh tante Ida dan kudorong ke tempat tidur, sehingga tante Ida terlentang diatas tempat tidur. Dengan cepat kulucuti rok sekalian CD nya, sehingga sekarang tante Ida terlentang diatas tempat tidur dengan tubuhnya yang mungil tapi padat itu berada dalam keadaan telanjang bulat.

    Tante Ida hanya menatap ku dengan pandangan yang sayu dan terlihat pasrah. Aku naik keatas tempat tidur dan kedua kakinya kupentang lebar-lebar dan aku berjongkok diantara kedua pahanya yang terpentang membuka lebar kemaluannya yang telah licin, siap untuk diterobos. Kupegang batang penisku dan kugosok-gosok sepanjang bibir kemaluannya, sambil kutekan-tekan pelahan. Merasakan gesekan-gesekan lembut vagina tante Ida, penisku mulai mengeras kembali. Ku ambil tangan tante Ida dan ku tempatkan pada batang penisku, segera digengamnya penisku dan diarahkan ke lubang kemaluannya.

    Dengan sedikit gerakan menekan, kepala penisku perlahan-lahan mulai masuk setengah ke lobang kemaluan tante Ida. Terasa lobang kemaluan tante Ida sangat sempit mencengkeram batang kemaluanku. Dinding kemaluan tante membungkus rapat batang kemaluanku, kutekan lagi dan tubuh tante Ida menggeliat Oooooohhhhhh Toooonnnn bee.. beeeesaaarrrr aaaaa.. maaaattttt.. pe.. peeelaaan pee laaan Tooooonnnnn ooooohhhhh..!!!!! tante Ida merintih perlahan. Secara pelan dan hati-hati aku menekan batang kemaluanku makin dalam terus terus . ooohhhhhh eeeenna aaak benaaarrrr terasa jepitan kuat dinding kemaluan tante Ida yang menjepit rapat batang kemaluanku. Perasaanku terasa melayang-layang dilanda kenikmatan yang tidak terlukisakan ini .. Taaaaannnnn ooohhhhhh ..eeee euuuuunnaaaakkkkkkkk taannnnn .!!!!

    Dengan kedua paha yang terkangkang lebar-lebar dan kedua tangannya berpegang pada pinggangku, tante Ida memandang ku dengan tatapan sayu, terlihat sangat cantik dan menawan, sehingga aku yang sedang bertumpu diatasnya perasaanku terasa menggila, melihat dan merasakan wanita cantik dan ayu yang berbadan mungil tapi padat ini, terlentang pasrah dibawahku, menerima seluruh perlakuanku. Kugerakan perlahan-lahan pinggulku menekan kebawah, sehingga penisku terbenam makin dalam kelobang kemaluannya, dalam .. dalam .. terus terus .. daannnn .. .kemudian ujung kepala penisku terasa mentok, karena beberapa kali tubuh tante Ida mengejang ketika aku mencoba menekan lebih kuat, aku kemudian mulai menarik keluar dan selanjutnya memompa keluar masuk.

    Dengan bersemangat aku mulai menaik-turunkan tubuhku. Gerakan naik-turun yang terkadang diselingi dengan gerakan memutar, sungguh merupakan sensasi yang sangat luar biasa. Apalagi posisi kedua paha tante Ida terkangkang lebar-lebar, membuat tikaman-tikamanku terasa jauh didalam dasar lobang kemaluannya. Aku dapat melihat payudara tante Ida bergerak-gerak keatas kebawah setiap kali aku menekan masuk penisku dalam-dalam sehingga kedua selangkangan kami berhimpit rapat-rapat. Kemudian kurasakan otot-otot kemaluan tante Ida dengan kuat menyedot penisku. Semakin lama kurasa semakin kuat saja kemaluan tante Ida menjepit penisku. Kulihat wajah tante Ida nampak makin memerah menahan orgasme keduanya yang akan melandanya sebentar lagi.

    Aaaaaaddduuuuuhhhhh .Toooonnn.. Aaaagggghhhhhh.. Oouggg.. hhaa..hhaa Toooonn taaannnn teeeee Maaauuuu keeeeluaraarrrr lagi, Toonnnnn !!!!!!!. Dan .. Seeeeerrrr ..kurasakan cairan hangat membasahi penisku. Sementara nafsuku sudah sangat memuncak menuntut penyelesaiannya, aku sudah tidak bisa lagi bertindak halus, tanpa banyak bicara, segera saja kupompa pantatku dengan cepat dan gencar, mendapat serangan yang agak kasar dan tiba-tiba itu tante Ida menjerit-jerit kesakitan. Meskipun lobang kemaluan tante Ida telah basah dan licin banget, tapi tetap saja terasa seret untuk ukuran penisku yang besar.

    Tak kuhiraukan lagi suara tante Ida yang menjerit-jerit kesakitan, yang ada dipikiranku saat itu adalah aku ingin segera mengakhiri permainan ini dan merasakan nikmat yang akan datang padaku. Kurasakan otot-otot penisku mulai berdenyut-denyut dengan kerasnya, ada sesuatu yang berusaha untuk keluar dari batang penisku. Kucoba untuk menahannya selama mungkin agar tidak segera keluar, tapi jepitan dinding kemaluan tante Ida akhirnya meruntuhkan pertahananku.

    Aaaaaauuddddduuhhhh taaannnnnn teeeee oooooohhhhh ..!!!! keluhan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulut ku disertai dengan croott.. croott .croooootttt .semburan..maniku menyemprot dengan kuat, mengisi relung-relung terdalam lobang kemaluan tante Ida, kemudian badanku tertelungkup lemas menidih badan mungi tante Ida, sementara kuubiarkan penisku tetap didalam kemaluan tante Ida untuk merasakan sisa-sisa.

    Taannnn, terima kasih ya, udah mau temenin Anton main.!!!! kataku dengan manja. Kamu, tuh, Ton, kalau lagi nafsu jangan main maksa dong, masak tantemu sendiri kamu perkosa juga ..!!!! Iiihhhhh tante ..tapi tante senang juga .kaannnn ..???? Iya.. siiihhh .!!!!!” kata tante Ida malu-malu Sejak saat itu sikap tante Ida terhadapku berobah seratus persen, biarpun sikap kami ini tetap terjaga dihadapan om dan adik tante Ida. Aku dan tante Ida sering berhubungan sex bersama kalau rumah lagi sepi. Aku makin merasa sayang saja terhadap tante Ida, apalagi tante Ida melayani nafsu sex saya dengan rela dan sepenuh hati. cerita bokep


    0 0


    film porno - Nama gw Jefry mw berbagi pengalaman bro & sist kisah nyata gw saat berhubungan dengan teman kerja kejadiannya bulan Mei. Teman kerja gw bernama Indri, perusahaan gw bekerja adalah perusahaan multinasional jadi banyak cabang di Indonesia, di Jakarta saja ada 10 cabang. Nah si Indri tidak satu atap dengan gw tapi beda cabang.

    Di perusahaan ada semacam chat system antar karyawan dan antar cabang untuk komunikasi melalui PC jadi melalui itu gw kenal dengan Indri. Awalnya Cuma bahas masalah program-program yang sedang dijalankan perusahaan tapi lama-lama berlanjut ke masalah pribadi, akhir kata Indri ngajak ketemuan tapi gw jual mahal dikit dengan menghindar dan bilang ada urusan apalah itulah (trik gw nih bro jgn ditiru).

    Nah saat gw sedang mau absen pulang hp-ku berdering, pas lihat layar hp wow.. ternyata dr Indri, langsung dia bilang “Jef..aku ada di bawah nih nunggu kamu pulang” alamak ternyata umpan gw berhasil … saking penasarannya dia ma gw akhirnya gw temuin dia, pandangan pertama kaget gw ternyata beda banget sama di picture yg disend ke email gw,hidung mancung, face keturunan arab gitu bro (ternyata berdarah Padang), body nya sintal banget, jeans ketat seakan memamerkan bentuk pinggulnya, dengan kaos ketat lengan pendek sehingga lengan putihnya terbujur indah Singkat kata dia ngajak jalan, bingung dengan tujuan akhirnya dia minta temenin beli CD (compact disc music broo bukan kancut).

    Ya milih2 musik akhirnya didapat yg dia cari ternyata Indri suka lagu yg gw suka, dia rocker bro.. gk nyangka di balik wanita cantik dan lembut suka rock juga, alhasil makin enak aja tuh ngobrolnya.

    Lalu gw terusin ngobrol di restoran sambil makan, akhirnya dia cerita sudah punya cowok tapi cowoknya gk mw ke jenjang yg lebih serius. Akhirnya gw gk nyinggung masalah cowoknya, gw Cuma cerita lebih enak jomblo gk pusing hehehe akhirnya dia Cuma mikir bingung dan ketawa lepas akibat banyolan2 yg gw lemparkan.

    Singkat cerita, bingung mw ngapain lagi akhirnya gw bilang ke dia “dri gw harus pulang nih ada kerjaan yg harus diselesaikan”. Dengan bingung dia bilang “oo.. ya udah Jef, aku ikut ya ke rumah kamu ya? Bt di rumah gk ngapa2in” (ups… umpan kemakan lagi nih umpan gw).

    Saat sebelum naik motor pun gw Tanya ke dia, “dJef.. tas lo pakai di depan aja klo kamu risih (jadi buat ganjelan antara punggung gw sama toket doi bro)”, Indri: “ gk kok Jef santai aja , gk risih kok , malah merasa lebih aman klo meluk kamu” saat itu juga jantung gw langsung berdebar.. anjriitt nih cewek baru ketemu dah gini, mungkin karena hobi music sama, kerja satu perusahaan (walau beda cabang), dan banyolan gw yg bikin Indri ketawa lepas hingga lupa dengan bebannya.

    Akhirnya gw tancep tuh motor ke rumah, sampe rumah di cium tangan ma nyokap gw, kenalan ngobrol bentar akhirnya gw bilang ” dri kmu ngobrol2 aja sama mama dulu aku ke atas dulu ngerjain tugas ada pendingan tugas kantor”. kamar gw di atas bro gk ada apa2 selain kamar).

    Masuk kamar nyalain PC ngerjain tugas kantor gw yg tersisa. Setelah kurang lebih 10menit asik ngutak ngatik keyboard eh Indri masuk ke kamar gw bawa 2 gelas berisi syrup orange dingin + cemilan buatan nyokap. Pas dia masuk gw noleh bentar ke dia, “eh Indri kirain siapa, waahh enak nih aku kaya majikan aja di bawain minum segala”.

    Indri langsung naruh nampan ke atas karpet kamar gw gk da meja bro, semua di bawah selonjoran, dari bed sampai PC di karpet). Indri: “ gilaa Jef kamar kmu berantakan banget sih” dengan acuh sambil ngerjain tugas gw bilang “ iya drii.. maklumlah namanya juga bujangan, oo iya dri kmu tiduran aja dulu aku dikit lagi selesai nih”. Indri: “ ya udah kamu kerjain aja (sambil beresin kamar gw)”.

    Pas kerjaan dah selesai dia masih sibuk beresin kamar gw yg super berantakan, gw nyeletuk ke dia “waahh enak nih dri klo ada kmu beresin kamar tiap hari jadi rapih”. Sambil nyubit pinggang gw dia bilang “enak aja mang mw gaji berapa ke aku klo aku jadi pembantu”. “Hehehe bercanda non…” jawab gw.

    Pas dah selesai beresin dia lihat PC gw utak atik music eh dia nyetel lagu METALLICA, gilee nih cewek metal abiss. Sambil denger lagu dia minta ajarin rumus2 excel ma gw, macam Vlookup, dll. Dlm hati gw berpikir .. lah ini orang kerjaan gk jauh beda tapi kok gk bias excel , gk tau dia Cuma iseng ato emang dah bias.

    Alhasil dia duduk di depan PC sambil gw ajarin tuh, tapi karena dia salah mulu jadi gw bantu deh.. tangan gw genggam tangan dia yg lagi megang mouse.. gk tau kenapa pas pegang tangan dia lama2 menyenderkan punggungnya di dada gw sambil terus melototin LCD.

    Gk tahan dengan harum rambutnya dan wangi lehernya gw beraniin ngecup ke leher belakangnya, Indri Cuma mendesah sambil ngomong “iihhhh ariii merindingg tauuuu..” akhirnya muka dia putar menghadap gw langsung aja nih bibir gw nyosor ngecup bibir Indri, dan dia pun membalas dengan lembut mainin lidah gw dalam mulutnya.

    Dalam hati gw bimbang.. nih cewek dah punya cowok kok lo embat juga.. ada perasaan bersalah di hati gw. Saat gw bengong sebentar dia langsung mengecup kuping gw sambil meluk erat, posisi dia gw pangku saling hadap2an, sambil berbisik lirih “Jefi.. aku bahagia saat ada sama kamu, beda dengan sama cowokku perasaan ini bikin aku bahagia..” gw balas mengecup pipi dan kening lalu berbisik di telinganya “yakin dri kmu mau melakukan ini dengan aku kan baru ketemu 1x?”

    lalu dia dengan jari telunjuk mungilnya menutup bibirku seakan memerintah untuk tidak bicara lagi dan dia bilang “ arii sayang, aku hanya mau melakukan ini dengan orang yang telah membahagiakanku..” langsung Indri mengecup leherku, lidah kami saling berpagut dalam mulutnya dengan lembut walau music yg kita setel adalah music Metallica..

    Entah gimana caranya bajuku sudah dilepas dia, dan kaos yg dikenakannya Indri pun sudah ada di pojokan kamarku, sedikit tp pasti bra itu gw lepas dengan jemariku menelusup ke dalam bra dari perutnya. Saat gw remas lembut kepala Indri menengadah ke atas sehingga leher jenjangnya terpampang indah di depanku, langsung kujilat lehernya sambil meremas tetenya yg kira2 berukuran 34B.

    desahan dia semakin keras terdengar oleh gw walau music Metallica ini volumenya keras juga. Saat ku mainkan jariku di nipple nya yg berwarna merah jambu.. lembut sambil aku tarik2.. lalu ku kulum nipple itu memainkan lidah ku yg basah memutar2 di nipple itu sesekali ku sedot kuat sekali sehingga Indri semakin menengadahkan kepalanya ke belakang sampai punggungnya meliuk ke belakang dan mendesah sangat mesra buatku..”aaaahhhh arii, oowwhh hisaaap teruss saying.. sampai aku terbaang..ssshhh”

    Usai puas mainin tete, Indri aku baringkan lalu kepalaku menjilati perutnya yg langsing sesekali member tanda merah di perut dan pinggulnya.. perlahan jemariku membuka kancing jeans yg dipakainya, jemariku menelusup kedalam jeansnya menembus cd yg dikenakannya, lalu berasa hangat sekali melewati bulu2 halus sampai di lubang aku gesek2 jariku dari bawah kea rah atas terasa hangat sekali vaginanya.. tidak mau kalah si Indri meraba2 penisku yg masih di balut levis yg kupakai. Jari lunglai it uterus menekan2 batang penisku yg semakin menonjol jelas di levisku..

    Sewaktu bermain di clit Indri jariku mengangkat jeans yg dipakainya dengan niat menurunkannya, dengan menaikkan pantatnya, Indri semakin membantu ku agar jeans itu semakin mudah turun dan hanya sampai lututnya saja. Itupun sudah cukup bagiku untuk melihat jelas vagina Indri berwarna merah muda sangat kontras dengan bulu2 halusnya yg hitam.. sangat rapih terawatt sekali. Langsung kujilat tonjolan clitnya sambil menggesek2 dengan jemariku lembut, “oooowwwhh.. saayang.. geliii.. aaahhh” desahan Indri ini semakin membuatku menjilati bibir pinggir vaginanya sesekali menusuk2 di lubangya dengan lidahku..

    Saat ku lihat wajah Indri dia hanya melihatku dengan mata sayup sambil menahan geli yg dibuat oleh gesekan jariku, matanya seakan protes kepadaku karena aku sudah membuka jeansnya tp levisku belum terbuka, lalu dengan inisiatif aku membuka kancing levisku, langsung saja jari dia ikut menurunkan resletingku dan memelorotkan levis + cd ku, kontan saja penisku keluar seakan meloncat Indri tampak kaget karena pas didepan mukanya, sebenarnya penisku berukuran normal, panjang kira2 15cm dengan diameter 3.5cm.

    lalu tampak malu Indri hanya mengurut lembut penisku tanpa mengulumnya, “aaahhh mungkin baru kali ini dia menyentuh penis seorang pria jadi tidak ku paksa untuk mengulumnya”. Posisi kami sekarang 69 hanya saling miring tidak bertindihan. Karena berasa ingin muntah penisku maka dengan lembut aku menghentikan kocokan dia, lalu aku merubah posisi di bawah dia duduk menurunkan jeansnya yg sebelumnya di lutut aku lepas hingga bugil, sesaat aku melihat kagum tubuhnya tanpa selembar benang pun.. lalu dengan tampak malu dia merapatkan kakinya seakan menyembunyikan vaginanya dilipatan pahanya.

    Dengan lembut aku kecup dan jilat betisnya dan pelan2 merenggangkan kedua kakinya merambat bibirku makin ke atas menjilati paha bagian dalamnya dia makin mengerang dengan desahan2 yg semakin membuat nafsuku bergelora. Saat kedua pahanya aku renggangkan, kepala penisku pun menyentuh belahan vaginanya menekan2 lembut clitnya, lalu badanku rebah mengulum bibirnya dengan nafsu dia melumat dan sesekali menggigit bibir ku..

    kukulum kupingnya sambil berbisik lirih ” driii.. saying.. yakin mw kita lanjutkan ini?” tanpa membalas pertanyaanku dia langsung melumat bibirku dan menatap mataku sesaat tajam sekali, sambil menganggukan kepalanya tanda bahwa Indri sudah siap dengan semuanya.. tanpa Tanya lagi aku pun memegang kepala penisku, setelah menggesek2 bibir vaginanya aku coba tekan pelan memajukan pantatku tapi usaha ini gagal karena penisku meleset lalu keluar dari lubang vaginanya.. sangat sempit sekali.

    Lalu ku coba meludah beberapa kali di lubang vaginanya dan memegang kepala penisku dan menekan pelan maju.. masih di jaga jariku agar tidak meleset lagi aku tekan terus penisku saat ini kepala penisku sudah ada di dalam vaginanya.

    Sekitar 4cm dalam lubang vaginanya penisku seperti tertahan oleh sesuatu tidak ku paksa menerobosnya tapi aku tarik keluar dan aku tekan lagi sekitar lima kali baru kutekan kemerobos sesuatu itu, Indri sontak kaget matanya melotot ke arahku, air matanya keluar dari sisi matanya seakan menyiratkan kesakitan.

    Lalu kutarik lagi penisku keluar aku kaget bukan kepalang saat kutari penisku (kpla penis masih didalam) di batang penisku terlihat merah darah perawannya, (oohh my God Indri masih perawan ternyata) hatiku merasa bersalah sekali telah melakukan ini, tapi penisku merasakan lain, makin keras seolah minta untuk lanjut.

    Lalu aku tekan dengan pelan lagi sampai seluruh batang penisku terbenam di dalam vaginanya hingga buluku bertemu dengan bulu lembutnya. Aku tahan penisku di dalam sangat sempit sekali , seakan penisku di jepit oleh sesuatu yg sangat kuat, lalu aku rebahkan badan ku memeluk Indri.. aku kecup bibirnya, aku jilat air matanya.. “saying.. kamu menyesal ya?” ..sahutku, “hkkkk..seperti menahan sakit dia bicara.. sakiitt jeff.. perih banget,,,..”.. “maaf ya Indriii sayang.. aku pelan2 kok..”

    Lalu dengan lembut aku mengocok penisku di vagina Indri yg mulai menyesuaikan ototnya menerima penisku. “aaahhh.. Indri sayaaangg… panas banget vaginamu sayaaang..” Indri tanpa mengucapkan kata dia hanya memeluk erat tubuh ku yg menindihnya merangkulkan kedua tangannya dipunggungku, tetapi kakinya melingkar di pinggulku seakan menerima pasra vaginanya aku hujam berkali2 oleh penisku..

    Perlahan dan hati2 sekali aku menancapkan penisku di vaginanya yg mulai basah dengan cairan2 asrama kita. Sekitar 10 menit berlalu aku sudah tidak kuat menahan gelombang yg terpusat di kepala penisku.. lalu aku berbisik kepada Indri.. “oohhh sayaangg aku mauu kelauaarrrr… yaaaangg aku keluarinn dimanaaa?”… sambil memacu kocokan penisku, lalu Indri hanya menjawab lirih..”dimana aja sayaaang… “ saat kulihat wajahnya masih amat terlihat bahwa dia masih kesakitan walau vaginanya sudah sangat becek oleh cairannya tp kali ini desahannya menunjukkan dia menikmati juga..

    Dengan menahan nafas aku memacu pompaan penisku di vaginanya dengan cepat lalu tubuhku mengejang .. semua gelombang di tubuhku terpusat di kepala penisku.. memuntahkan sperma sangat banyak di rahimnya. Aku tahan penisku dalam2 di vaginanya “aaaaaahahhhh.. sayaaanngg aku keluuarrrrrrr…” sambil meluk Indri di bawahku aku kecup lehernya yg penuh dengan keringat, pipinya dan aku kulum bibirnya… yg aneh walau tampak perih di wajahnya, kaki dia menekan pinggangku erat sekali seakan tidak diijinkan untu mencabut penisku.. dia pun memeluk erat tubuhku..

    Sekitar 5 menit keringat kami berbaur jadi satu.. air matanya sudah habis aku jilat, saat ini hanya senyum kecil di bibirnya menyambutku, “jeff.. sayaaangg.. aku senang kok .. memberikan keperawananku untuk kamu.., jangan tinggalkan aku ya jeff.?” lalu aku meyakinkan dia “iya Indri sayangg… aku gk kan ninggalin kamu kok, sambil mencubit hidungnya yg mancung gemas”.. lalu dia tidak senyum lagi tapi tertawa dan membalas cubitan di perutku sakiit sekali sampai merah.. saat itu aku langsung bangun membersihkan cairan yg keluar dari vaginanya putih bercampur darah perawannya hingga berwarna merah jambu..

    Lalu kita bergegas memakai pakaian kita tanpa mandi, dan setelah itu aku mengantarnya pulang .. sebelum sampai rumahnya aku mampirkan motorku di sebuah warung sate dan makan dengan lahap ternyata Indri pun suka sekali dengan sate, wah bener2 klop nih batinku bicara. Saat dirumahnya aku tidak berlama2 dan langsung pamit pulang dua buah kecupan mendarat di pipi kiri dan kananku, dan kuluman lembut di bibir kami. “yaaangg nanti sampai rumah telpon aku yaaa..”.. aku menganggukan kepala dan langsung pulang ke rumah ku .

    Demikian cerita kisah nyata ini bro & sist gw masih ingat betul kejadian ini, karena pertama kali gw melakukan ini demikian juga dengan Indri, keperjakaan gw dan keperawanan dia hilang di kamar gw. Sangat berbeda dengan cerita2 mupenger DS yg lain saat keperawanan wanita hilang yg gw alami saat itu hanya rasa perih yg dirasakan Indri, walau gerakan badan dan pinggulnya sangat bertentangan dengan ekspresi wajahnya. Tidak tau kenapa gw dan Indri akhirnya tidak melanjutkan hubungan ini, sepertinya dia masih memilih cowoknya untuk menjadi suaminya.

    Padahal gw dengan yakin ingin menyuntingnya, tp dia seperti ragu akan nerima gw. Akhir kata saat lost contact selama 1tahun lebih gw menemukan wanita lain, dan menyuntingnya menjadi istri, Indri sengaja tidak kuberitahu dan tdk ku undang takut menyakitinya, toh yg mengingkari janji bukan gw dia yg ragu nerima gw. Sekarang gw dah meried bro & sist, kenapa gw ingat lagi cerita ini, karena di FB gw kira2 3bulan lau ada friend request dari seorang cewek yg gk asing buat gw dia adalah “Indri “. film porno


    0 0


    cerita dewasa - Ini adalah pengalaman saya dengan Bu Edi, tetangga saya. Waktu itu kira-kira jam 9 pagi saya berniat mau kerumahnya untuk membayar listrik karena memang dibantu oleh beliau dengan menyalur listrik di rumahnya krn kebetulan belum pasang listrik sendiri…

    Trus sesampai dirumahnya ternyata sepi sekali. Aku kira tidak ada orang di rumah. Tapi aku liat pagar tidak dikunci, jadi inisiatif aku buka aja kemudian aku ketuk pintu rumah bu Edi… “Pagi bu” sapaku “Eh, mas leo…,masuk..” Cerita Panas : Bayar Listrik Berhadiah Ngentot | Aku pun langsung masuk kedalam rumah, kulihat Bu Edi pagi itu begitu seksi dengan menggunakan daster tanpa lengan yang serba tipis dan mini sehingga terlihat tubuh bu edi yang montok..”Wah kalo kayak gini bisa kacau ni otak…” kataku dalam hati “Ini bu, saya mau bayar listrik untuk bulan ini dan bulan depan. Saya dobel aja, kebetulan ada rejeki…” aku memulai pembicaraan.

    “Oalah….kenapa kok pake didobel segala sih mas?? Gak apa2 kok bayar satu aja dulu, khan tanggalnya jg msh muda gini, barangkali ada keperluan mendadak khan bisa dipakai dulu…” katanya. “Ah gak apa2 kok bu. Mumpung lagi ada aja. Daripada ntar kepakai bln depan saya jd bingung bayarnya….” Jawabku. “Mas leo ini bisa aja..masalah itu mah gampang mas bisa diatur…lagian tetangga dekat aja kok. Santai aja lah” serunya ramah. “Iya bu gak apa kok…dibayar dobel aja.” Kataku lagi. “Kalo gitu tunggu ya,,ibu ambil catatannya dulu..Oh iya mas leo mau minum apa? Panas apa dingin??” tanyanya lagi. “Ah gak usah repot2 bu….bentar lagi juga pulang kok..” seruku. “Udah gak apa2…kopi ya?? Biar gak buru2 pulang…” katanya lagi. “Boleh deh bu, terima kasih…..” jawabku sambil tersenyum. Ibu Edi pun langsung masuk kedapur, Sementara aku hanya terdiam sambil menghitung uang dari dompetku untuk memastikannya tidak kurang. Ibu Edi keluar dari dapur dengan membawa secangkir kopi.

    “Silakan diminum mas…” “Terima kasih bu..” Jawabku. Bu Edi duduk disampingku sambil membuka2 lembaran buku catatan pembayaran listrik bulan lalu. Aku mencium aroma wangi sekali, ditambah pemandangan indah krn daster bu edi agak rendah sehingga aku bisa melihat belahan dadanya yg putih dan padat berisi. Nampaknya bu edi baru selesai mandi. Aku merasakan ****** aku mulai membesar melihat pemandangan yahud ini… “Nah ini mas, totalnya masih sama seperti bulan kemarin, delapan puluh lima ribu. Jadi dibayar dobel kah?” Aku agak terkejut karena pikiranku masih melayang entah kemana. “Eh….oh…iya bu, jadi bayar dobel. Berarti totalnya berapa bu??” Jawabku sekenanya. “Berarti ya seratus tujuh puluh ribu…” kata bu edi sambil senyum. “Oh…eh….ii….iya bu saya bayar semua. Ini a…ada dua ratus ribu saya titipkan semua aja..” kataku gugup. Bagaimana tidak. Ketika menyebutkan jumlah tadi, pose bu edi sangat menantang, dengan belahan dada yg nampak jelas dan paha yg menganga.. “Lho kok kaget?? Kenapa?? Dibayar satu dulu aja gak apa2 kok mas” katanya. “eh…anu….nggak kok bu. Beneran saya ada kok.

    Saya bayar semua aja..” kataku sambil melirik belahan dada bu edi yg begitu menantang.. Nampaknya bu edi mengetahui aku menyelidiki dadanya yg sekal itu..Namun bu edi hanya tersenyum tanpa berusaha menutupinya. “Ya udah kalo gitu gak apa2 deh. Emang mas leo liatin apa sih koq kayaknya jadi gak konsentrasi gitu??” “Oh…eh…nggak kok bu.., anu….” aduh aku mulai bingung, sementara bu edi tersenyum memandang ku. “Kopinya diminum gih mas,, keburu dingin lho” serunya sambil tersenyum. “Masalah duitnya ntar aja deh, keliatannya mas leo lagi bingung gitu…” katanya sambil tersenyum nakal. Tiba2 bu edi menyentuh pahaku, “dari tadi ngliatin ini aja kenapa mas??” Tanya bu edi sambil menunjuk dadanya. “Oh….eh….anu…itu….gak sengaja bu…” jawabku makin gugup “Gak sengaja apa gak sengaja?? Koq diliatin terus sampai gak berkedip gitu..?” katanya sambil semakin mendekat ke aku. “Suka ya???” Tanyanya lagi “Mau??” aku semakin tidak bisa menjawab. Tapi kontolku semakin tegang krn bu edi mengelus-elus pahaku. “Eh..m..m…maksud ibu??” Srup bibirnya bu edi langsung melumat bibirku dan tangannya meramas-remas ******

    ku, pikiranku sangat kacau, aku masih bingung dan belum percaya kalo saat ini aku bermesraan dengan bu edi, yang selalu jadi fantasi sex ku. Birahiku pun mulai bangkit, aku pun mulai meremas-remas payudara bu edi yang tadinya hanya aku liatin saja. Kami saling melumat dan tangan bu edi terus meremas-remas kontolku. Tanganku pun mulai menelusup dari sela-sela daster bu edi dan masuk ke dalam BHnya. Aku mainkan dan aku pilin-pilin puting susu bu edi yang mulai mengeras.

    “Terus mas leo…ssshhs, enak banget..” dan tangan bu edi mulai membuka celana jeans ku, aku pun membantunya dan kemudian kulepas kaosku sehigga kini tinggal cd yang melekat. “Mas…kita ke kamar aja ya…jangan disini nanti diliat orang..” Dan kemudan mencium bibirku. Bu edi langsung masuk kekamar dan membuka dasternya, tubuh bu edi kini tinggal berbalut BH dan cd saja. Kemudian sambil menatapku nakal bu edi mulai membuka bh dan cd nya. Kini bu edi telah telanjang bulat dihadapanku… “Wow bener2 seksi nih….” Gumamku sambil memelototi tubuh bu edi satu per satu dari atas sampai bawah. Tubuh bu edi memang sangat mulus, kulitnya putih, payudaranya begitu menantang dengan puting kemerahan yg mengacung. Apalagi memek bu edi, begitu indah dengan klitoris yg menonjol, serta tidak ada satu helaipun bulu jembutnya..nampak sehabis dicukur.

    “Kok malah bengong mas leo….sini dong” Bu Edi duduk di tepi ranjang dan kemudian aku mendekat dan menunduk mencium bibirnya. Tangan bu edi melepaskan cd ku dan keluarlah kontolku. “Waaahhh….. mas…ini besar banget, apa begini ya kalo orang arab?” Kebetulan memang aku keturunan arab….”lebih besar dari punya suamiku nih….wah muat gak ya??” kata bu edi sambil mengelus-elus ****** ku, sesekali dijilati ujung hingga buah pelirku jg tak lepas dari jilatan bu edi. Aku hanya terpejam menikmati servis dari bu edi ini. Bu edi kemudian berdiri dan menciumku kemudian turun kedadaku, putingku di hisap dan dijilati. Ouh..bu enak banget bu, terus bu. Kemudian bu edi berjongkok dihadapan ku dan menjilat kontolku seperti menjilat es krim. Kemudian memasuk kan kontolku kemulutnya. Dia pun mengulum kontolku dengan lihai. Nikmat sekali rasanya, lebih nikmat dari hisapan istriku…. “ahh….Terus bu”, aku pun mulai memompa kontolku didalam mulut bu edi sehingga mulut bu edi terlihat penuh. Sesekali bu edi menggunakan giginya untuk mengulum kontolku…aaaauuhhhh rasanya benar-benar nikmat. Sekitar 10 menit bu edi mengoralku, sebelum akhirnya menciumi buah pelirku, menjilatinya lalu berdiri dan kembali mencium bibirku. Ternyata bu edi sangat menyenangi foreplay. Terbukti berkali-kali dia menjilat leher hingga belakang telingaku dan memainkan lidahnya di putingku. Bener-bener sensasi yang luar biasa. Aku pun tidak tinggal diam. Kini aku remasi payudara bu edi sambil aku jilat lehernya. Payudara nya jg tak luput dari jilatan dan remasanku sampai aku mulai mengulum putingnya.

    Bu edi hanya mengeliat-mengeliat dan mendesah mendapat perlakuan ini dariku. Sesekali aku gigit2 kecil putingnya dan bu edi melenguh nikmat karenanya…. Perlahan aku baringkan bu edi sambil terus melumati payudaranya. Ciumanku turun ke perutnya..”Bener2 putih dan perfect tubuh ini” batinku. “Ahhhh…..sssssshshhh…..ouh…..terus mas….ahhhhh….enak banget lidahmu….ahhh….mas leo pinter…..eeehmm..” bu edi mengeliat. Aku pun menjulurkan lidahku ke memeknya, asin, ternyata cairannya bu edi banyak banget keluar. Memek yang kemerahan itu bener-bener basah oleh ludahku yg bercampur lendirnya.. Aku pun mengangkangkan kakinya agar bisa menjilat lebih dalam, ku jilat klitorisnya lalu aku kulum-kulum dan sesekali kugigit pelan-pelan. Ouch…nikmat banget mas……terus…..auhhh…ouhhh…, hisap terus mas…” Aku pun menjilatnya dan kemudian ku masukkan jari ku kadalam memeknya dan bu indah pun menggelinjang keenakan…. Ouch..mas….ahhhhhh….terusin mas…aku gak pernah senikmat ini……jari kamu enak banget ahhh pinter mas…..shhhh…” Tak lama kemudian bu edi menjepit kepalaku dan menjambak rambutku dan aku pun mepercepat permainan fucking finger ku di memeknya.. “Shhhhh…,uhhhhffff…aku mau keluar mas..oouuuuhh….hisap terus mas….,ohh……”

    Akupun menghisap kuat kuat lubang kenikmatan itu dan “cret..cret..” Cairan bu edi menyemprot mulutku dan aku pun menjilatnya sampai bersih. Bu edi keliatan lemas….aku pun kembali berjongkok di atas kepala bu edi dan kembali ku sodorkan kontolku.. Bu edi pun menghisap dengan kuat kontolku..aku membalikkan badanku sehingga posisi kami sekarang 69, aku menahan badanku dengan lutut dan terus memompa mulut bu edi. Sementara memek bu edi kembali basah dan aku terus mengelus elusnya. Aku pun memperbaiki posisiku dan kini kami sama-sama berbaring.. Kulumat bibir bu edi yang sensual dan menggemaskan, sambil tanganku memainkan klitorisnya.. “Shh..uhf.. nikmat banget mas…aaahh….masukin sekarang mas….auuhhhh..cepet mas aku udah ga tahan nih..gatel banget rasanya.” Bu edi pun kusuruh mengangkang dan mengangkat kakinya kedepan hingga terlipat menyentuh payudaranya… Kini bibir memek bu edi muncul keluar dan menganga seakan berteriak minta dientot. Aku pun mengarahkan kontolku ke vagina bu edi dan mulai menggesek-gesekannya.. ”sssshhhh….aaahh…uuuhhh ayo maas masukin dong…ahhhhh”.. Aku pun menancapkan kontolku dengan cepat masuk ke dalam vagina bu edi yang sudah basah. “Ouhhhh….pelan-pelan mas….ahhhhhhhhhh……kontolmu gede banget mas….”. Ternyata memek bu edi masih sempit dan enak banget kontolku serasa dipilin-pilin. Aku pun memompa terus memek bu edi…semakin lama semakin cepat..

    “Ouh..terus mas…..iih…ahhh….sshhhh…”. Kemudian aku berhenti dan menancapkan kontolku sedalam-dalamnya lalu aku diamkan…..aku ciumin payudara bu edi…lalu aku kulum putingnya…Dan secara tiba2 aku goyang lagi dengan gerakan menekan dan memutar. “Shhhhhh…..ahhhhhh,,,masss pinter banget kamu…a.oooohhh…..enak mas….” Bu edi meracau tak karuan. Kemudian tubuh bu edi mengejang dan kontolku terasa dijepit kuat sekali.. “Ouh..aku keluar lagi mas…..enak mas…..enak banget,” Aku pun membalikkan badan bu edi dan ternyata bu edi langsung mengerti apa mauku dan dia pun langsung menungging dan kini kami dogy style..aku pun memasukan kontolku kedalam memek bu edi.. “Ouhh…..mas….kamu kuat banget….ahhhhhh…..leo…..terus sayang…..nikmat banget “ Aku terus memompa memek bu edi sambil meremas-remas payudara bu edi yang bergelantungan.. ”Ouh..ahh..terus mas….,aku gak tahan lagi mas….ahhhhh….. “ rintih bu edi. Aku pun merasa ada yang mau keluar dari kontolku,,,,aku semakin mempercepat kocokanku di memek bu edi. “huffft….aahhh….oh….sayang….aku mau keluar nih…” seruku. Aku tak peduli lagi dengan beda usia kami. Aku panggil bu edi dengan sayang. “ahhhh….uuhhh….iya sayang gak apa-apa terusin aja….shhhshhhh…” teriaknya. Rupanya tak dapat kutahan lebih lama lagi. Dengan tusukan terakhir aku berhenti dan cret…cret…..cret….ahhhh…..sayang…..uuuhhhh” teriakku mengiringi semprotan spermaku ke memek bu edi. “Auuuuuuuhhhh……oooooohhhh……” rintih bu edi. Aku merasa ada rasa hangat di sekujur kontolku…nampaknya bu edi orgasme lagi.. “aahh….”

    Kami berdua rebahan di kasur…bu edi tersenyum puas…lalu aku kecup bibirnya….. “makasih mas……enak bgt…..” ujar bu edi. “Iya sayang….aku juga merasa enak bgt….puaaaassss sama km….” seruku sambil lalu mengulum bibirnya lagi. Tanganku mulai meraba payudaranya lagi. “mas….aahhhh udah dulu mas…..capek….ssshhh..” “Iya sayang,,,,aku cm gemes aja sama ini …” jawabku sambil mencubit payudaranya.. Kami pun berpakaian lagi. Ketika hendak pamit, bu edi melumat bibirku dan meremas kontolku…. “Uangnya dibawa aja dulu ya…..bln depan aja bayarnya…..” kata bu edi di sela2 ciuman kami. “Aku balas meremas payudaranya lalu aku kulum lagi bibirnya. “kalo bulan depan kelamaan….ini gak betah “ kataku sambil menunjuk kontolku. “Iya gampang….ntar aku sms kalo rumah lagi sepi….ok sayang…..”jawabnya.. “Dengan senang hati” jawabku dan aku kulum bibirnya lagi sambil aku maikan puting payudaranya…. Aku pun pamitan pulang. Sejak itu kami jadi sering ML kalo rumah bu edi lagi sepi. Bahkan pernah juga di hotel kalo bener2 gak tahan tapi di rumah lagi ada anak-anaknya. Dan aku juga sering dibebaskan bayar listrik karena bu edi puas dengan pelayanan yang aku berikan… Sekian…. cerita dewasa


    0 0


    cerita dewasa - Namaku Cynthia, wnita berumur 25 tahun, aku dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang cukup mapan. Karena itu aku terbiasa berhias dan menikmati kehidupan yang lumayan mewah. Kulitku putih dan orang bilang tubuhku cukup ideal. Aku telah berumah tangga, Sandi suamiku mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang eksport import. Saat ini dia sedang tidak berada di rumah. Dia pergi keluar kota selama kurang lebih sebulan untuk mengurus keperluan bisnisnya.

     

    Cerita Porno Hot | Aku terbiasa ditinggal sendiri di dalam rumah mewahku. Tapi sebulan yang lalu dia pulang membawa seseorang yang akan dijadikan sopir di rumahku. Dia adalah Martono, seorang pria berumur kurang lebih 40 tahunan. Rambutnya botak kulitnya hitam dan wajahnya terlihat buruk keras. Suamiku yang mempekerjakannya sebagai sopir kami sebagai balas jasa telah menyelamatkan suamiku dari ancaman perampokan di jalan raya. Meskipun aku kadang-kadang ketakutan melihat matanya yang jelalatan melihatku, tapi aku menghormati keputusan suamiku. Dia memang pintar mengemudi mobil dan mengetahui seluk-beluk kotaJakarta. Seringkali Aku belanja ke Mall hanya diantar oleh Martono karena suamiku betul-betul sangat sibuk.

     

    Suatu hari ketika aku sedang memasak di dapur, tiba-tiba aku dikejutkan dengan kehadiran Martono yang menatapku dengan jelalatan.

     

    “Oh Pak Martono…. kaget saya melihat bapak tiba-tiba sudah ada disini.” Aku memanggilnya dengan sebutan bapak karena dia lebih tua dariku.

     

    “Maaf nyonya kalau saya ternyata mengagetkan …..”. Dia menjawab tapi tatapan matanya tidak berhenti menatap dadaku. Aku sedikit risih dengan tatapannya, lalu aku pura-pura menyibukkan diri memasak kembali. Martono masih diam saja di dapur menatap bagian belakang tubuhku.

     

    “Ada keperluan apa bapak ke dapur.” Akhirnya aku bertanya setelah sekian lama mendiamkannya.

     

    “Nyonya sangat cantik sekali…..dan seksi” Martono menjawab. Aku terkejut dengan jawabannya itu. Jantungku berpacu semakin cepat, aku mulai was-was.

     

    “Jangan-jangan….ah, tidak mungkin…. Semoga dia cuma berkata sebenarnya, hanya caranya mengungkapkan seperti orang yang terbiasa hidup di jalanan. Tanpa basa-basi.” Aku berusaha menenangkan deburan jantungku.

     

    “Terimakasih…..” aku menjawab dengan sedikit gemetar.

     

    “Sebenarnya Nyonya sangat menggairahkan, setiap kali saya di dekat Nyonya pasti “adik” saya terbangun. Saya masih yakin dapat memuaskan Nyonya.” Martono berkata tanpa basa-basi. Deg…. Dugaanku ternyata benar, aku takut sekaligus marah dengan Martono. Aku menghadapnya dengan mengacungkan pisau dapur yang sedang kupakai.

     

    “Hei Martono, jangan kurang ajar terhadapku. Ingat aku adalah majikanmu. Aku bisa memecatmu sekarang juga karena kelakuanmu yang tidak sopan terhadapku. Selama ini aku menerimamu karena menghormati suamiku.”aku membentak tanpa menghiraukan usianya yang lebih tua dariku.

     

    Tanpa-diduga-duga dia memelintir tanganku yang memegang pisau sehingga pisau itu terlempar. Aku mengaduh kesakitan. Tapi tangan kirinya telah memelukku dengan erat. Aku tidak bisa bergerak sama sekali, karena himpitan tenaganya yang kuat.

     

    “Kamu kira aku bisa ditakuti dengan mainan seperti itu…. hah.” Dia sekarang menelikung tanganku dan mendekapkan badanku ke badannya. Aku gemetar ketakutan dan tidak terpikir untuk berteriak saking gugupnya.

     

    “Aku memang mengincarmu dari dulu, karena itu mengatur siasat agar dia dirampok oleh kawa-kawanku. Aku pura-pura datang menolongnya. Sekarang kalau kau berani melawan, maka kau akan tahu akibatnya. Kau dan suamimu bisa kubunuh kapan saja bila kau coba-coba melapor pada pihak yang berwajib. Aku punya banyak kawan preman di jalanan yang bisa dengan mudah kuperintahkan.” Martono mengancamku. Aku semakin ketakutan, hilanglah sudah harapanku.

     

    “Aku akan melepaskan pelukanku kalau kau mengerti kondisimu saat ini.” Martono meneruskan. Aku hanya diam menggigil ketakutan dan mengangguk. Dia menyeringai dan melepaskan pelukannya. Aku langsung terduduk di lantai dan menangis. Martono tertawa penuh kemenangan. Sedangkan hatiku sangat kalut. Martono bisa melakukan apa saja terhadapku. Kalau aku melaporkan dia pada Polisi maka jiwaku dan suamiku akan terancam.

     

    “Kamu tidak perlu menangis… karena aku akan memberikan kepuasan batin yang tak terhingga kepadamu. Aku tahu kebutuhan batinku sangat kurang karena suamimu jarang berada di rumah. Kamu sangat kesepian kan?. Pikirkan saja bahwa suamimu tidak ada disini sedangkan kau merasa sangat kesepian, siapa yang salah sekarang….” Martono berkata dengan tenangnya.

     

    Sambil duduk Martono membuka resluiting celananya. Kemaluannya tampak telah membesar dan kini tepat mengarah di depan wajahku. Akupun kembali membuang muka sambil memejamkan mata. Martono mulai memaksa untuk mengoral batang kejantanannya. Tangannya keras segera meraih kepalaku dan wajahnya ke depan kemaluannya. Setelah itu kemudian Martono memaksakan batang kejantanannya masuk ke dalam mulutku hingga sampai pangkal penis dan sepasang buah zakar bergelantungan di depan bibirku. Dengan agak terpaksa aku membuka mulutku dan mulai menciumi penis Martono, sebenarnya ukuran penis Martono hampir sama dengan milik suamiku tetapi punya Martono sedikit lebih panjang dan agak membesar di bagian kepalanya. Akhirnya perlahan aku mulai menjilati dan mengulum penis itu. “Ohh.. Nikmat sekali sayaang, kau memang pintar”

     

    Martono mengerang sambil meremas rambutku lalu ia mendorong dan menarik penisnya di mulutku. Aku terus mengutuk diriku yang rela memberikan sesuatu yang lebih pada orang lain daripada untuk suamiku karena selama ini aku selalu menolak kalau Mas Sandi minta untuk memasukan penisnya ke mulutku. Aku gelagapan karena mulutku kini disumpal oleh kemaluan Martono yang besar itu. Martono mulai mengocokkan batang penisnya dimulutku yang megap-megap karena kekurangan Oksigen. Dipompanya kemaluannya keluar masuk dengan cepat hingga buah zakarnya terasa memukul-mukul daguku. Tak terasa air mataku mengalir deras, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa…. Bunyi berkecipak karena gesekan bibirku dan batang penis yang sedang dikulum tidak dapat dihindarkan lagi. Hal ini membuat Martono makin bernafsu dan makin mempercepat gerakan pinggulnya yang tepat berada di depan wajahku. Batang penisnya juga semakin cepat keluar masuk di mulutku, dan sesekali membuatku tersedak dan ingin muntah.

     

    Lama sekali rasanya batang penis Martono kukulum dan membuatku makin lemas dan pucat. Akhirnya tubuh Martono pun mengejan keras dan Martono menumpahkan spermanya di rongga mulutku. Hal ini membuatku tersentak dan kaget, ingin memuntahkannya keluar namun pegangan tangan Martono di kepalaku sangat keras sekali, sehingga dengan terpaksa aku menelan sebagian besar sperma itu.

     

    “Aaah..,” Martono pun mendesah.

     

    “Akhirnya aku bisa menikmati mulutmu yang indah sayang……..”

     

    Terasa sakit rasanya hatiku. Aku seperti wanita yang tidak berharga dan bisa dipermainkan oleh siapa saja. Aku hanya bisa menangis tanpa bisa melawan.

     

    “Ayo ikut aku…” Martono kemudian menarik tanganku dengan kasar. Dengan setengah menyeret dia membawaku ke kamar tidurku. Didorongnya tubuhku ke atas ranjangku yang empuk.

     

    “Hmm. Kamar yang bagus dan wangi…. Cocok untuk kita saling melepas hasrat yang sangat nikmat.” Martono mengagumi kamar tidurku yang luas dan bersih. Aku tetap berbaring telungkup dengan menangis. Sia-sia saja aku walaupun berteriak, tidak ada tetangga yang akan mendengarku. Hidup di Jakarta kadang-kadang tidak memperdulikan penderitaan tetanga.Yang paling parah, Martono bisa mencelakakanku, yang paling kutakuti sebenarnya kalau dia sampai mencelakakan suamiku.

     

    “Hei…jangan diam saja. Bangun sini.”Martono membentakku. Aku lalu bangun mendekatinya. Dia menyeringai dan berkata “Lepaskan seluruh pakaianmu dan menarilah.”

     

    “Gila… apakah aku disuruh berstriptease dihadapannya. Terhadap suamikupun aku belum pernah melakukannya.” Aku semakin gemetar….

     

    “Tolong, jangan lakukan ini kepada kami….kalau pak Martono perlu uang nanti kami beri sesuai permintaan bapak.” Aku memberanikan diri menolak kemauannya dengan suara yang bergetar.

     

    “Jangan menolak, atau aku telpon temanku sekarang juga untuk mengurus suamimu. Tapi kalau kau memberikan layanan terbaikmu, maka kau jamin dirimu dan suamimu tidak akan binasa. Rahasia diantara kita tidak akan diketahuinya dan kaupun dapat menikmati keperkasaanku. Ha.. ha.. ha..” Martono malah balik membentak.

     

    Perlahan-lahan aku mulai melepaskan pakaian yang kupakai. Kubuka kancing bajuku satu persatu dengan tangan gemetar. Nafas Martono nampak sedikit tertahan tegang ketika aku membuka bra warna pink yang kupakai. Aku menggoyang-goyangkan pantatku perlahan-lahan sambil membuka celana dalam yang merupakan bagian terakhir perlengkapan pakaianku. Aku menutupi payudaraku dan bagian kewanitaanku dengan kedua belah tanganku sebisa mungkin. Hatiku makin tidak karuan. Mata Martono semakin beringas.

     

    “Beruntung sekali aku mendapatkanmu…. Tubuhmu yang putih mulus dan kencang sungguh luar biasa indahnya. Mari sini sayang.”

     

    Martono menarik tanganku dan membaringkanku telentang. Dia dengan tergesa-gesa melepaskan pakaiannya. Badannya yang hitam menandakan dia terbiasa bekerja di bawah terik matahari. Terlihat beberapa tatto di badannya. Selama ini aku tidak pernah melihat dia mempunyai tatto. Kepalaku terasa berkunang-kunang, rasanya aku hampir tidak sanggup menahan peristiwa ini. Martono perlahan-lahan mendekati aku yang tergolek lemas ditempat tidurku. Diambang kesadaran kurasakan sesuatu yang basah merayap menelusuri kakiku dan terus beranjak naik menuju pahaku, tanganku berusaha mencari tahu apa sebenarnya yang menelusuri kaki dan pahaku.

     

    “Oh.. Martono.. apa yang Bapak lakukan..” aku tersentak kaget ketika kudapati ternyata lidah Martono menempel di belahan pahaku.

     

    “Tenanglah.. nikmati saja..”, aku berontak, aku tak bisa membiarkan kekurang ajaran orang ini, aku harus bisa melepaskan diri dari bajingan ini, tapi tak berdaya aku melakukan semua itu, tubuhku lemas, akan tetapi terasa dorongan hasrat menjalari seluruh tubuhku yang memang jarang mendapatkannya dari suamiku.

     

    “Bajingan kau…lepaskan!, aku ini majikanmu.” Kali ini timbul perasaan nekatku yang tadi dihimpit ketakutan.

     

    “Kurang ajar.. Bajingan.. lepaskan..!” kembali aku berteriak sambil berusaha menendang, tapi lagi-lagi aku begitu lemah dan tiba-tiba saja lidah Martono yang basah menyeruak menyapu organ tubuhku yang paling sensitif. “Akhh….” Oh.. Tuhan nikmat sekali rasanya lidah orang ini, tubuhku mengejang, lama lidah Martono bermain dengan Vaginaku dan sesekali ia menyentuh dan menggigit clitorisku yang mulai mengembang dan mengeras. Cairan vaginaku mulai keluar meleleh berbaur dengan air liur Martono yang masih saja menusukan lidahnya ke vaginaku. Tiba-tiba tubuhku kembali menegang, dan kurasakan sesuatu menjalar diseluruh tubuhku dan seakan berkumpul dirahimku lalu..

     

    “Ohh.. hh.. Akh..” erangan panjang dari mulutku mengiringi semprotan cairan hangat yang keluar dari dalam liang vaginaku dan membasahi mulut Martono. Ohh.. aku orgasme dengan orang selain suamiku dan hendak memperkosaku dengan biadab, tapi rasanya nikmat sekali orgasmeku dari Martono ini dan aku selalu menginginkan lebih dari itu. Kini tubuhku benar-benar lemas sambil kedua pahaku tetap menghimpit kepala Martono dengan nafas yang terengah-engah.

     

    Perlahan Martono melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan merayap keatas tubuhku yang masih belum bisa membuka mataku.

     

    “Apa kubilang.. nikmat kan?” Martono berbisik ditelingaku.

     

    “Ja.. hh.. jangan Pak sudah..” sebentar Martono menghentikan aksinya mungkin untuk memberiku kesempatan mengumpulkan tenaga kembali.

     

    “Nyonya tahu kalau saya udah jatuh cinta saat pertama melihat nyonya, jadi nikmati saja tanda cinta dari saya.

     

    “Tidak Pak.. jangan..” setengah menangis aku memelas agar ia mau melepaskanku dari nafsu bejatnya.

     

    “Pak Sandi sangat beruntung memiliki nyonya.., cantik dan bertubuh idaman lelaki..”

     

    Dengan lembut ia mencium keningku, hidungku, pipiku dan sambil menghembuskan nafasnya ia mencium telingaku membuat gairah dalam tubuhku kembali berkobar dan seluruh bulu-bulu halus di tubuhku berdiri. “Bibir nyonya indah..” itu yang terdengar sebelum ia melumat kedua belah bibir sensualku, aku berusaha menghindar tapi nikmat sekali rasanya. Perlahan aku mulai membalas dengan membuka bibirku membiarkan lidah Martono menyeruak masuk kedalam mulutku. Ia melepaskan ciumannya lalu bergerak menelusuri leherku dan menggigit puting susuku.

     

    “Susu nyonya sungguh menggairahkan.. indah sekali sayang..”

     

    Ia mengulum dan membenamkan wajahnya di belahan dadaku. Aku menggelinjang dan hasratku lebih berkobar akhirnya kudekap tubuh yang menindih diatasku, oh.. Tuhan ia sudah telanjang bulat, kurasakan belahan pantatnya di kedua tanganku. Lama ia menelusuri dan meremas payudaraku.

     

    “Jangan.. Pak.. aku mohon jangan.. aku nggak mau menghianati suamiku….!” untuk kesekian kalinya aku memelas sambil berusaha merapatkan kedua kakiku dan mendorong tubuh Martono agar menjauh dariku.

     

    Tanpa mempedulikan rintihanku Martono bergerak berusaha membuka kakiku dan menempatkan tubuhnya diantara kedua kakiku. Dengan reflek kedua tanganku bergerak menutupi selangkanganku, tapi kembali tangan Martono menarik kedua tangan ku dan membawanya keatas kepalaku. Langsung saja ia menyapu kedua ketiakku yang mulus tanpa bulu dengan lidahnya, kembali akupun merasakan sensasi kenikmatan sebagai akibat sapuan lidahnya yang basah itu. “Ohhh….” tubuhku bergetar sesuatu yang keras berusaha menyeruak masuk lubang kenikmatanku, dan perlahan benda itu mulai tenggelam dalam selangkanganku. Aku mendongak, mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang tiada taranya dan diakhiri dengan satu sodokan kuat akhirnya amblaslah seluruh penis Martono kedalam liang vaginaku.

     

    Tubuhku terasa penuh seakan benda itu menancap tepat di rahimku, hilanglah sudah pertahanan terakhir kesucian rumah tanggaku. Tanganku mencengkram erat tubuh Martono dan menancapkan kuku-kukuku di pundaknya, perlahan tetes air mata mengalir disudut mataku yang terpejam. Lalu Martono mulai menggerakan pantatnya dan mulai mengobok-obok isi liang vaginaku.

     

    “Ohh.. Nyonya.. nikmat sekali.. Kau.. kau.. begitu rapat..”

     

    Martono terus mengocok vaginaku maju dan mundur dan akupun semakin menikmatinya, hilang rasanya rasa pedih dihatiku terobati dengan kenikmatan yang tiada taranya. Mulutku mulai meracau mengeluarkan desahan dan ocehan.

     

    “Akhh.. Pak.. Aduuh.. ohh..” lama Martono memacu birahinya dan akupun mengimbanginya dengan menggelora, sampai akhirnya kembali aku mengejang dan sambil memeluk erat tubuh Martono aku kembali menyemprotkan cairan yang meledak dalam rahimku, aku orgasme untuk yang kedua dari Martono. Untuk beberapa saat Martono menghentikan gerakannya dan memeluk erat tubuhku sambil melumat bibirku. Aku benar-benar menikmati orgasme yang kedua ini, mataku terpejam sambil kulingkarkan kedua kakiku ke pinggang Martono.

     

    Tak berapa lama kemudian Martono mencabut penisnya yang masih mengacung kokoh dari dalam rahimku. “Ohh..” ada sesuatu yang hilang rasanya dari tubuhku.

     

    Perlahan ia bergerak menyamping dan membalikan tubuhku, kali ini aku pasrah dan lemah tak berdaya hanya menurut saja. Kembali ia menaiki tubuhku, kali ini dari belakang dan mulai menusuk-nusukan penisnya ke pantatku. Akupun menyambut sodokan benda tumpul itu dengan sedikit membuka kakiku dan mengangkat pantat kenyalku, cairan yang keluar dari rahimku mempermudah masuknya senjata Martono melalui jalan belakang dan kembali menancap di vaginaku. ia bergerak sambil kedua tangannya meremas payudaraku dari belakang dan menggenjotkan pantatnya menghantam liang vaginaku. Gesekan demi gesekan kurasakan semakin nikmat menyentuh kulit halus liang vaginaku, tanganku mencengkram erat seprei tempat tidurku yang acak-acakan.

     

    “Ohh…. Nyonya… Nikmat sekali… Ohh….”

     

    Martono benar-benar hebat, ia bisa bertahan lama menggauliku dengan berbagai posisi, sedangkan akupun semakin gila saja meladeni nafsu setan Martono. Untuk ketiga kalinya aku mencapai klimaks sedangkan Martono mesih saja berpacu diatas tubuhku. Sekarang pasisi tubuhku duduk dipangkuan laki-laki ini sambil mendekap dengan kepala mendongak kebelakang, leluasa ia mencumbu leherku yang mulai sudah basah dengan keringat yang keluar dari seluruh pori-pori tubuhku. Seakan tak pernah puas terus saja ia mengulum dan menjilati kedua payudaraku, kurasakan penis Martono menghujam telak keliang senggamaku yang mendudukinya. Kocokan demi kocokan yang semakin gaencar kurasakan menggesek kulir vaginaku sebelah dalam, erangan dan cengkraman menghiasi gerakannya. Kali ini aku benar-benar melepaskan seluruh hasratku yang selama ini terpendam, aku tak mempedulikan lagi siapa laki-laki yang menyetubuhiku, yang jelas aku ingin terpuaskan.

     

    Lama posisi duduk itu berlangsung sampai akhirnya tubuh Martono semakin gencar menyodok vaginaku, gerakannya semakin cepat. Martono menghempaskan tubuhku kembali terlentang ditempat tidur, tubuhnya mengejang dan memeluk rapat tubuhku sampai aku hampir tak bisa bernafas. Lalu kurasakan semburan hangat dengan kencang membentur dinding rahimku. “Akhhh….” Martono mengerang panjang sambil menekan pantatnya kebawah dengan keras, kucengkram dan kembali kulingkarkan kakiku kepinggangnya dan akupun melepaskan sisa orgasme yang masih tersisa ditubuhku. Untuk orgasme yang terakhir ini kami berlangsung hampir bersamaan, akhirnya dengan terkulai lemah tubuh Martono roboh menindih tubuhku yang lemas pula. Lama kami terdiam merasakan sisa kenikmatan itu dan akhirnya Martono mulai beringsut menjauh dari tubuhku.

     

    “Terima kasih Nyonya sayang..” setengah sadar dan tidak kudengar Martono membisikan kata-kata itu sambil mengecup keningku. Lalu ia berdiri mematung di samping tempat tidur. Aku tidak tahu kapan ia pergi karena setelah itu aku tertidur karena lelah dan kantuk yang menyerangku tanpa mempedulikan keadaan kamar tidurku yang acak-acakan.

     

    Sore hari aku baru terbangun dari tidurku, tubuhku serasa hancur dan lelah bukan kepalang. Kulihat keadaan diriku terasa sisa sperma yang mulai lengket membanjir di selangkanganku. kulihat banyak sekali cairan sperma Martono keluar meleleh dari dalam vaginaku bercampur dengan cairan rahimku dan membasahi seprei tempet tidur. Setengah merangkak aku menuju kamar mandi membersihkan tubuhku dari bekas keringat dan dosa, guyuran air hangat membuat tubuhku sedikit lebih segar walaupun rasa capek itu masih terasa ditubuhku. Kulihat vaginaku memerah dan bekas cupangan nampak di payudaraku, lama aku berada di kamar mandi menunggu cairan sperma Martono keluar semua meninggalkan liang rahimku. selesai mandi cepat-cepat kubereskan tempat tidurku dan mengganti seprei serta sarung bantal guling dengan yang masih baru..

     

    Aku masih termenung memikirkan kejadian siang tadi, aku mengutuk diriku sendiri dan sangat menyesal dengan hal itu. Bajingan benar Martono itu, ia telah menodai kesucian rumah tanggaku yang selama ini kujaga dengan baik. Yang lebih kusesalkan lagi akupun menikmati permainannya yang sangat nikmat. Belum pernah aku merasakan senggama sepanjang itu dengan Mas Sandi, aku bisa mencapai klimax sampai empat kali, kuakui hebat sekali permainan Martono.

     

    ———————————————

     

    Pada malam hari bel pintu berbunyi. Kupikir suamiku sudah pulang, aku buru-buru membukakan pintu. Betapa terkejutnya aku melihat Martono datang dengan membawa seorang teman yang berbadan tegap.

     

    “Selamat malam nyonya…..aku membawakan teman yang akan membuat nyonya merasakan sensasi yang luar biasa.” Martono menyeringai kepadaku sedangkan temannya senyum-senyum menyebalkan.

     

    “Bagaimana nyonya, bukankah sudah saya katakan untuk menikmati saja sensasi kenikmatan yang kami tawarkan daripada melaporkan kami kepada pihak yang berwajib. Saya melihat nyonya begitu bernafsu dan sangat menikmatinya juga, bukan?.”

     

    Aku menjadi jengah mengingat kejadian tadi siang. Memang diakui akupun terhanyut dibuai permainan Martono. Aku hanya diam memejamkan mataku dan menarik nafas dalam-dalam sekedar menenangkan perasaanku yang tidak karuan. Tiba-tiba aku mendorongnya maka ia terjatuh, dan kesempatan ini aku melarikan diri menuju pintu kamar mandi. Aku pikir untuk melarikan diri menuju kamar mandi dan mengunci diriku dari Martono dan temannya.

     

    Tapi tiba-tiba tangan Martono sudah menangkapku dan memelukku dengan erat.

     

    “Hentikan……..aku tidak mau melakukannya.” aku berteriak-teriak tetapi temannya Martono malah mengamati aku dengan napsu.

     

    “Kamu benar-benar membuatku bernafsu, bagaimana mungkin aku membiarkan wanita yang sangat menggairahkan pergi?” .

     

    “Sebaiknya nyonya jangan banyak bertingkah, berteriakpun percuma… lebih baik layani aku dan Bejo. Ha… ha… ha…” Martono menyeringai.

     

    “Lepaskan aku… lepaskan aku…” aku berusaha meronta, tapi Martono mengangkat tubuhku dan membawaku ke kamar tidurku yang telah digunakan tadi siang. Dengan mudahnya dia melemparku ke atas ranjang.

     

    Aku sangat terkejut dengan perkembangan keadaan ini. Mereka akan memperkosa aku seperti ini. Tetapi apa yang aku bisa lakukan? Sekarang kami semua berada di kamar tidurku. Bejo mendekat dan merobek pakaianku dan menarik paksa BH dan CD yang ku kenakan sehingga payudaraku terlihat jelas. Aku menyesal hanya mengenakan pakaian daster sehingga memudahkan mereka melampiaskan nafsunya. Aku malu sekali terlihat bagian- bagian rahasia di hadapan orang-orang selain suamiku.

     

    “wow…payudara yang indah, nyonya sungguh mempunyai anugerah yang tak terhingga.” kata Bejo.

     

    “Aku suka sekali payudara yang besar dan putih mulus tanpa cacat.” Bejo melanjutkan.

     

    “Kita beruntung mendapatkan buruan seperti ini…” Martono menyahut. Kemudian tangan Martono menggerayangi susuku dan meremas-remasnya kedua payudaraku. Martono menisap-isap putting susuku dengan penuh nafsu, dan Bejo mulai menggerayangi perut dan pahaku. Tiba-tiba terasa tangannya yang kasar memasuki celah sempit di vaginaku. Kini aku mengerti mereka akan berusaha merangsangku.

     

    “Ampun…..jangan lakukan ini kepadaku “aku memohon belas kasih mereka, tetapi mereka tidak menunjukkan sedikitpun rasa simpati, malah wajah mereka menunjukan kebuasan nafsu birahi. Mereka dengan cekatan telah melepaskan pakaian mereka masing-masing.

     

    Penis Martono sudah kulihat dan kunikmati tadi siang, tetapi sekarang aku terkejut melihat Penis Bejo yang luar biasa, panjangnya sekitar 18 cm dan kelihatan berurat-urat. Aku makin gemetar ketakutan sekaligus rasa aneh yang menjalar seakan-akan ingin merasakan sensasi penis besar milik Bejo. Wajahku terasa panas. “Ah, Mas Sandi… maafkan aku.”

     

    Tanganku telah ditangkap oleh Martono dan payudaraku kembali diisapnya. Bejo memegang pinggangku dan menaruh burungnya di lubang pantat ku.

     

    “Jangan… jangan disitu… tolong..” Aku menjerit-jerit kesakitan merasakan dorongan penis Bejo dari belakang.

     

    “Nyonya jangan cemas…akan sedikit menyakitkan…tetapi setelah itu kamu akan menikmatinya.” Bejo berkata kepadaku dengan senyum sinis.

     

    “Bukankah tadi siang memekmu telah dipakai oleh Martono, maka aku ingin mencicipi pantatmu yang kuyakin tidak pernah terpakai, masih perawan… ha.. ha… ha..”

     

    Tak lama aku berteriak kesakitan tetapi secepat aku membuka mulutku untuk menangis sopirku memasukkan burungnya di dalam mulutku dan aku tidak bisa menangis.

     

    Sementara itu Bejo menaruh penisnya pada lubang pantat ku dan menarik pinggangku ke arahnya. Dia tetapi tidak bisa memasukkan burungnya ke dalam lubang pantatku yang sakit.

     

    “Martono…apakah kamu punya mentega di dapur sebab lubangnya sangat sempit” Bejo bertanya

     

    “Wah beruntung sekali kau mendapatkan cewek perawan…..ambillah sendiri di dapur.” Martono malah tertawa. Bejo lalu pergi menuju dapur.

     

    “Martono, tolong lepaskan aku….Aku tidak sanggup lagi.” Aku memelas pada Martono.

     

    “Nyonya…tenang saja dan nikmati. Bukankah nyonya sudah tahu bahwa nyonya sudah lama kami idam-idamkan untuk dinikmati oleh kami. Aku adalah sopirmu dan Bejo adalah seorang sopir truk. Dalam hidup kami jarang-jarang memiliki kesempatan mendapatkan wanita menggairahkan seperti kamu! Maka bagaimana mungkin kami akan tinggalkan?” Martono malah menjawab dengan senyum kemenangan.

     

    Kemudian kusadari tidak ada cara lain dan tak seorangpun dapat menyelamatkanku. Maka aku berfikir untuk menikmatinya saja seperti yang diucapkan Martono kepadaku. Aku sudah merasa kepalang basah, kenapa tidak dinikmati saja sekalian, toh akupun merasakan kenikmatan yang tiada tara dengan Martono tadi siang. Aku merubah posisiku seperti seorang pelacur, aku tidak peduli lagi.

     

    Martono mulai bertindak dengan pekerjaannya Martono yang tertunda. Dia meremas-remas payudaraku, kemudian Bejo yang baru datang mengoleskan mentega pada lubang pantatku dan mengolesi burungnya juga. Kemudian ia memposisikan burungnya pada lubang pantatku dan dengan beberapa tekanan dia berusaha menerobos lubang pantatku. Aku merasakan sangat sakit tetapi aku sudah tidak melawan lagi. Bejo mendorong paksa burungnya dan posisi Martono di depanku membuatku terdorong mundur. Aku merasakan sesuatu yang besar dan kuat berada di pantatku.

     

    “Auh… sakit… ampun…” aku melepaskan penis Martono dari mulutku. Bejo sengaja mendiamkan burungnya beberapa saat membiarkanku agar terbiasa. Setelah beberapa menit Bejo mulai mendorong lagi penisnya.

     

    “Auh…. Jangan…” aku berteriak kembali, rasanya sangat sakit. Seluruh penis Bejo telah masuk dan merobek pantatku, terasa ada sedikit darah mengalir dari lubang pantatku. Aduh! Kontolnya itu sangat besar sehingga terasa sangat ketat di lubang pantatku!

     

    “Auhh.. aduh… aduh… tolong.. aku akan mati… Kau merobek pantatku.. rasanya punggungku mau patah… Kau Bajingan!” Aku menjerit dengan suara nyaring tetapi mereka berdua hanya diam dan mulai beraksi lagi.

     

    “Sekarang kontolku sudah masuk, Martono… kamu boleh meninggalkan aku sekarang.” Bejo berkata pada Martono. Martono hanya menganguk.

     

    “Baiklah, aku akan menonton pertunjukanmu….Nyonya, sekarang anda adalah bagiannya.” Martono sekali lagi mencium payudaraku dan meninggalkanku. Dia duduk di kursi meja hias dan menonton perbuatan Bejo terhadapku. Sekarang aku sepenuhnya dipermainkan oleh Bejo.

     

    “Kau kekasihku sekarang, aku akan membuatmu merasakan sensasi yang sangat menyenangkan…aku akan membuatmu ketagihan…kau akan jadi pelacurku.” Bejo sesumbar.

     

    “Sudahlah…kumohon keluarkan penismu…aku tak tahan lagi….Sakit… Rasanya aku hampir mati” terasa air mataku menitik.

     

    “Aku tidak akan membiarkanmu mati….Nikmati saja…sebentar lagi akan terasa lebih nikmat.” Bejo berbisik sambil menjilat telingaku.Dia lalu meraih payudaraku dan meremasnya.

     

    Kemudian ia mencabut burungnya separuh, lalu mendorong dengan kekuatan besar.

     

    “Jangan….Tolong hentikan..aku mau mati….Hentikan sebentar….sakit!” Aku mulai menangis tetapi ia tidak mendengarkanku dan tetap menggenjot pantatku dengan penuh nafsu. Aku roboh! Bejo tetap memperkosaku tanpa mendengarkan aku dan dia memegang pinggul ku dengan tangan nya dan menggenjotku dengan cepat.

     

    Selama memperkosaku, burungnya menyentuh bagian sensitifku dan membuatku merasakan getaran-getaran lembut dan menyenangkan. Aku mulai berpikir lagi, dalam kondisi tanpa pengharapan dan tak seorangpun dapat menolongku, mengapa aku tidak sekalian saja menikmati penis super ini. Pelan-pelan aku mulai menikmati gesekan penis Bejo pada pantatku, aku mulai menggoyangkan pinggulku. Kelihatannya Bejo menyadari perubahan dalam diriku.

     

    “Ayoo sayang…nikmati….Auh…enak sekali…betapa sesaknya pantatmu..”

     

    Aku menggoyangkan lagi pinggulku, rasa sakit yang terima tadi kini berangsur-angsur tidak terasa lagi. Bejo kini meningkatkan kecepatannya dan aku juga. Payudaraku menggantung mondar mandir akibat genjotan Bejo. Kurasakan penis Bejo sangat keras dan kuat di dalam pantatku.

     

    “Lihat…sekarang nyonya mulai menyukainya kan.” Martono berkomentar kepadaku.

     

    Bejo terus menggenjot pantatku, aku mulai menyukai permainannya.

     

    “Bejo…kau memang luar biasa..kau bisa menaklukkan wanita manapun. Aku salut padamu.” Martono malah terkagum-kagum pada Bejo.

     

    “Sebentar lagi, nyonya akan jadi pelacur kami.” Martono tertawa.

     

    “Kurang ajar….” Hatiku berteriak tetapi badanku masih bergerak-gerak mengikuti irama genjotan penis Bejo.

     

    “Auhh… ohh…” aku merintih-rintih tak sadar. Tangan bejo meremas-remas payudaraku dengan lembut. Rabaan tangannya membuatku makin terangsang. Perlahan-lahan tangannya bergeser ke bagian kewanitaanku. Jari-jarinya dengan kasar menyentuh vaginaku. “Ohhh……Hmmm…….” Tanpa sadar aku menggigil dan merintih. Aku merasakan kenikmatan yang lain dalam diriku. Jari-jarinya bermain-main di clitorisku. Darahku seperti berkumpul di titik sensitif itu.“Auhh…enak….Hmmm…Ohh….Nikm at…” tak tahan aku dibuatnya. Tubuhku rasanya semakin melayang-layang. Setelah beberapa saat, tubuhku menegang dan berkelojotan sesaat. Air maniku tumpah… aku orgasme.

     

    “Teruskan sayang… jangan ditahan… aku akan memberikan kebahagiaan untukmu.” Antara sadar dan tidak akau mendengar Bejo berbisik ditelingaku.

     

    Dalam permainan ini aku berkali-kali aku orgasme, tapi sepertinya Bejo mempunyai stamina yang luar biasa. Aku merasa kelelahan tetapi bahagia, setelah 25 menit kemudian tiba-tiba terasa penis Bejo mengeras. Jari-jarinya makin menekan clitorisku.

     

    “Ohh…. Aku keluar…” akhirnya Bejo berteriak.

     

    “Ohh…nikmatnya… keluarkan didalam saja, teruskan… jangan keluarkan kontolmu.” Aku tak sadar setengah berteriak. Bejo tertawa dengan penuh kemenangan. Cairan hangat memasuki lubang pantatku.

     

    “Auhhh…….” `Akupun orgasme bersamanya. Rasanya nikmat sekali. Bejo masih menduduki pantatku beberapa saat lalu mencabut burungnya. “Ploop….” Terdengar bunyinya. Martono dan Bejo tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

     

    Aku menghembuskan nafasku dan merasa sangat nikmat. Sekarang jam 3 malam. Tadi siang aku merasakan kenikmatan bersama Martono. Dan malam ini aku merasakan kenikmatan bersama Bejo. Aku menjadi sangat ketagihan. Selma ini aku hanya mendapat kepuasan dari suamiku. Tapi sekarang, aku sepertinya keranjingan berhubungan sex. Aku ingin mendapatkan lebih. Aku ingin yang lebih mengasyikkan….

     

    “Martono, aku akan istirahat……. Aku sungguh sangat puas” Bejo berkata.

     

    “Nyonya, anda sungguh sangat mengagumkan” Aku tersenyum mendengar pujian dari Bejo.

     

    “Istirahatlah…” Martono menjawab.

     

    “Tunggu dulu….” Setengah berteriak aku kepada mereka berdua. Mereka menatap wajahku dengan heran.

     

    “Kau telah memperkosa lubang pantatku, aku telah memberikannya. Tapi sekarang aku ketagihan.Aku ingin merasakan Kontol 18 cm itu dalam memekku. Aku ingin merasakan Kontol besar punyamu” Aku telah gila,aku tak peduli lagi siapapun yang akan memperkosaku, malah aku ketagihan.

     

    Martono berteriak padaku “Nah, lihat…. aku berjanji akan memberimu kesenangan yang terbaik di dunia.”

     

    “Dia benar….tinggalkanlah kami berdua, aku akan menikmati tubuhnya. Dia akan menjadi pelacur bagiku malam ini. Dan besok aku akan tinggalkan nyonyamu sebagai wanita yang sangat haus sex.” Dengan tenang Bejo berkata pada Martono. Martono sambil tertawa pergi ke ruang tamu kemudian Bejo menutup pintu.

     

    ———————“Nyonya sungguh seorang nyonya yang cantik dan mempunyai bentuk badan yang ramping dan menggairahkan.” Aku tersenyum. Aku menjadi sangat malu. Aku jadi salah tingkah. Aku malu tapi akupun menikmatinya. Aku begitu berharap pada apa yang akan terjadi berikutnya.

     

    “Betapa senangnya saya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan nyonya. Nyonya sungguh seorang nyonya yang cantik.” Bejo berkata dan berusaha membawaku dalam pelukannya. Aku gemetar terdiam.

     

    Kemudian dia menyibakkan rambutku, kemudian ia menaruh bibirnya pada bibir ku dan mulai mencium dengan sangat bernafsu dan kasar. Sementara itu tangannya diletakkan pada pantatku dan menekan-nekan dengan bernafsu. Bibir mungilku terasa sangat basah olehnya. Kemudian ia menarik blus biru yang kupakai. Dan tangannya terus menjalari badanku dan aku benar-benar merasakan ketidaksukaan tetapi sekarang aku adalah juga merasakan basah dan tidak sabar untuk mendapatkan kenikmatan darinya. Apa yang telah terjadi denganku….

     

    Biasanya suamiku hanya sanggup bertahan selama setengah jam untuk melayaniku. Tapi kini aku berhadapan dengan seorang pria jantan yang mungkin sudah sangat sering menaklukkan wanita-wanita. Sedangkan tadi siang Martono sanggup membuatku orgasme berkali-kali. Setelah agak lama Bejo berusaha merangsangku. Dan aku mulai menggelinjang gelinjang tak sabar. a berbaring di sampingku dan memintaku untuk merangsangnya. Ini adalah kesempatanku untuk melayani nafsunya walaupun aku merasakan malu awalnya tetapi sekarang aku telah berhasil secara penuh merangsangnya. Dan aku mulai menggerakkan tanganku di sekujur tubuhnya. Bejo menutup matanya dan aku mulai menciuminya. Dadanya berbulu, pahanya adalah sangat kokoh, lebih dari itu ia adalah seorang pria jantan. Aku mencium puting susu nya sekarang ia memulai merintih.

     

    “ohhhh….aaahhaaahhhhh .. ternyata nyonya pandai menyenangkan hati pria.”

     

    Sekarang aku betul-betul ingin lihat burung besar nya. Terlihatlah sesuatu yang luar biasa, seekor burung berukuran 18 cm secara penuh menegang dan dua bola sedang menggantung dengan indah. Aku duduk di dadanya dan mulai menjilat burungnya. Aku merasa sangat ingin untuk makan “pisang ambon” ini sebab pertama kali aku melihat burung sangat besar. Aku memainkan burungnya seperti anak perempuan kecil bermain-main dengan boneka. Tiba-tiba terasa vaginaku diciumi, aku betul-betul merasakan getaran-getaran listrik yang mengalir ke sekujur tubuhku karena sentuhan lidahnya yang menyentuh klitorisku.

     

    “Auh…Hmmf…” aku tidak sadar melenguh.

     

    Tetapi aku berusaha berkonsentrasi pada burung besarnya. Aku mulai menjilati batang pisangnya dan menggerakkan mulutku naik turun, aku ingin makan semakin banyak dan pada akhirnya tiba-tiba penisnya menegang dan menyemprotkan cairan sperma ke mulutku.

     

    Kemudian dengan liarnya Bejo menggerayangi tubuh telanjangku. Hisapan demi hisapan, jilatan lidahnya menyapu bersih lekuk tubuhku.

     

    “Aow…. hmm,” aku merintih saat lidah Bejo mulai menjilati bibir vaginaku kembali.

     

    “Woowww.. Mulus sekali nyonya ini.., gimana sayang? …Enak?,” Bejo seperti mengejekku, aku terpejam tak mampu memandang Bejo. Lidah Bejo semakin liar dan membuat kenikmatan tersendiri padaku.

     

    “Ehmmhh,” aku merintih tak bisa menahan kenikmatan itu, pinggulku mulai bergerak teratur seirama jilatan lidah Bejo divaginaku, aku pasrah dan menikmati permainan itu. Malah saat ini aku mulai bernafsu agar penis Bejo mengoyak vaginaku yang sudah gatal. Tapi rupanya Bejo sengaja menyiksaku, jilatan lidahnya sudah masuk menerjang vaginaku. Aku sudah bergerak tak karuan menerima kenikmatan darinya, tapi tak juga Bejo menyetubuhiku.

     

    “Ohhh.. Nngghh..,” aku tak tahan lagi, seluruh rasa nikmat berkumpul diklitorisku membuat pertahananku akhirnya jebol. Aku orgasme dengan belasan kedutan kecil divaginaku. Aku malu sekali pada Bejo yang tersenyum. Bejo kemudian mencium dan mengulum bibirku beberapa lama, tanpa sadar aku membalas lumatan bibirnya dengan nafsu pula. Kurasakan dia berusaha menepatkan posisi ujung penisnya dibelahan bibir vaginaku.

     

    “Hmmm…aahh.. Nghh..,” aku merintih nikmat saat penis besar Bejo mendesak masuk keliang nikmatku.

     

    “Ouhh.. sudah kusangka vaginamu masih rapat sayang.. nikmati permainan kita ya manis,” Bejo berbisik lagi membuatku semakin melayang dipuji-puji. Penis Bejo keluar masuk secara teratur di vaginaku dan aku mengimbanginya dengan gerakan pinggul memutar.

     

    “Hmm.., puaskan aku sayang..,” tak sadar aku membalas bisikan Bejo itu sambil memeluk tubuhnya untuk lebih rapat menindihku.

     

    “Cantik kamu sayang.., cantik sekali wajahmu saat nikmat ini,”

     

    “Ohh… teruskan sayang.. Aku milikmu saat ini..,”

     

    Kuakui permainan Bejo memang luar biasa, romantis, lembut, tapi sungguh memacu birahiku secepat genjotannya di tubuhku. Gerakan tubuh Bejo semakin cepat dan teratur diatas tubuhku. Erangan dan rintihanku sudah tak tertahan aku memang birahi saat itu. Tapi saat aku hampir klimaks, mendadak Bejo menghentikan aktifitasnya dan mencabut penisnya dari vaginaku.

     

    “Ayo sayang kita berdiri,” Bejo menarik tubuhku berdiri, lalu mendorong punggungku menjadi posisi menungging, dan Bejo dibelakangku kembali menghujamkan penisnya ke vaginaku. Aku merasakan kenikmatan yang yang tertahankan dengan posisi doggy style ini.

     

    “Ahh.. Ouhh.. teruss..,” hanya itu yang terucap di bibirku saat sodokan penis Bejo masuk dalam posisi nungging itu.Bejo semakin keras mengocokku dari belakang, aku semakin tak terkendali kurasakan kenikmatan sudah puncak dan menjalar diseluruh tubuhku mengumpul dibagian pantat, paha, vagina dan klitorisku.

     

    “Ahh sayang.. Ohh.. Hmmph..,” aku tak kuasa lagi membendung kenikmatan itu, dinding vaginaku berkedut berkali-kali disodok penis Bejo. Belum habis orgasme yang kurasakan, Bejo menarik tubuhku dan menggendongku. Aku memeluknya erat-erat.

     

    “Ayo cantik.. Ini lebih nikmat sayang.., sekarang keluarkanlah seluruh cairan kenikmatanmu,” dalam posisi itu penis Bejo masih mengocokku tangannya mengangkat tubuhku naik turun dengan posisi berdiri.

     

    “Ahhh.. Uohh….,” Vaginaku berkedut-kedut dengan cepat, orgasmeku begitu luar biasa ditangan Bejo.

     

    “Ouhhkk.. Aku mau keluar…. Ahhh,” Bejo orgasme dengan posisi berdiri menopang tubuhku yang lunglai. Kurasakan seburan spermanya menembus dinding rahimku. Lalu Bejo menjatuhkan tubuh kami diatas ranjang kembali, kami berpelukan seperti pasangan kekasih.

     

    Kemudian ia menciumku penuh kasih dan pergi ke ruang tengah.

     

    ———————————

     

    Aku terbangun jam 9 pagi, rasanya tubuhku agak lelah. Aku lalu menuju kamar mandi membersihkan sisa-sisa permainan tadi malam. Badanku benar-benar terasa segar setelah mandi. Setelah mandi aku menuju kulkas. Di lemari es dalam kamarku kulihat beberapa buah apel. Aku makan sekedar mengganjal perutku. Aku masih memakai handuk yang melilit tubuhku. Sambil bercermin, kuperhatikan tubuhku. Hmm.. masih seksi dan padat.

     

    Tiba-tiba sopirku Martono datang. Ia telah telanjang. sopirku adalah seorang laki-laki yang sangat buruk. Usianya sekitar 40 tahu, rambutnya botak dan berwajah buruk, tapi mempunyai perkakas yang besar pula walaupun tidak sebesar punya Bejo. Penisnya setengah ereksi.

     

    “Selamat pagi nyonya…” Martono menyapaku. Aku diam saja. Dia lalu melepas handukku dan menggendongku ke ranjang. Aku kini berbaring diranjang dengan telanjang bulat. Maryono mengamati badanku dengan sangat bernafsu.

     

    “nyonya, anda sungguh sangat seksi.”

     

    Aku tenang-tenang saja, namun aku bingung begitu menyadari bahwa sopirku sendiri telah memperkosaku dan menikmati tubuhku. Kemudian seperti seekor serigala lapar dia melompat kepadaku dan mulai menciumku di mana-mana. Martono sungguh bernafsu. Dia menciumi leherku dan membuatku melenguh. Setelah sekitar sepuluh beberapa menit dia menciumi bibir, wajah dan menghisap payudaraku, ia menjilat perutku dan turun menyentuh vaginaku yang berbulu dengan lidah. Aku menggigil dan menghentak seolah-olah aku mendapat suatu goncangan raksasa. Ia melebarkan kakiku dan mulai menjilati clitorisku dengan liar.

     

    “Hoohh…. Ehh.” aku mulai mengerang dengan tak terkendali.

     

    Martono meregangkan kaki ku lebih lebar. Sekarang memekku terpampang dengan jelas di wajahnya.

     

    “Ow..nyonya, memekmu sungguh indah.” Aku menutup mataku dengan malu. Kemudian ia menggosok-gosok kepala burungnya dan kemudian menempatkannya pada memekku.

     

    Ketika burungnya menyentuh memekku badan ku menggigil. Aku merintih. Kemudian ia menangkupkan payudaraku yang besar dengan tangan kanannya. Sopirku mempermainkan payudaraku dengan liar. Burungnya sudah siap untuk masuk memekku. Dia mencium bibirku dengan lembut, aku menaruh lidahku didalam mulutnya. Kami saling berpagutan.

     

    “Liang peranakanku koyak oleh Bejo dan masih terasa sakit, masukanlah kontolmu pelan-pelan..” aku meminta.

     

    Martono hanya tersenyum seperti setan kepadaku dan tiba-tiba dia mendorong dengan kuat sehingga penisnya sepenuhnya berada dalam vaginaku. Aduh! Bejo benar-benar telah membuat liang vaginaku mengendurkan dan memperbesar memekku, sehingga penis Martono masuk ke dalam liang peranakanku dengan mudah. benar Beberapa lama kemudian tubuhku melengkung dan menjerit. Vaginaku mengeluarkan cairan kenikmatan.. aku orgasme lagi! Martono memperhatikan wajahku dengan terheran-heran!!!!!! “Wow… luar biasa…” Martono berhenti sejenak dan menatapku dengan tatapan kesetanan sampai orgasmeku mereda.

     

    Akan tetapi begitu Martono mulai memompa vaginaku lagi, aku tidak bisa mengendalikan dan lagi-lagi dengan seketika punggungku melengkung dan menyemburkan orgasme. Mereka benar-benar telah merubahku sehingga aku tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Mereka merubahku menjadi seorang betina yang haus sex.

     

    “Nyonya, apakah anda berusaha untuk membuat rekor dunia didalam hal orgasme?. Lihatlah sekarang, bagaimana aku membuat anda seperti pelacur yang gila Kontol!!.”

     

    “Kamu akan jadi pelacurku!!!!” sambil mengatakan itu, ia mulai memompa pelan-pelan tetapi di dalam tubuhku rasanya sangat nikmat sekali. Kemudian teriakanku berubah jadi rintihan nyaring yang penuh nafsu. Aku merintih dengan suara menggairahkan.

     

    “Uohh……… teruskan…. Hmmm… nikmatnya… punyamu memang luar biasa.”

     

    “sayang memek mu menjadi sangat panas dan licin!!!!”

     

    Tetapi pada saat aku betul-betul terangsang, Martono menggodaku. Dia menghentikan goyangan pinggulnya dan mencabut penisnya. Dia mulai mencium payudaraku. Aku merintih kesetanan.

     

    “jangan dilepas… cepat masukkan… masukkan..” aku berteriak-teriak.

     

    Martono menatapku dan dengan tertawa dia bilang “Nyonya, sekarang anda betul-betul seperti seorang pelacur yang gila Kontol.

     

    Tidak sadarkah anda sedang meminta sopir nyonya untuk menyetubuhi anda sendiri.”

     

    “Semenjak kamu menceritakan kepadaku bahwa kau sengaja mencari cara untuk memperkosaku dan akan memberikan aku sensasi sex yang luar biasa dan tidak pernah aku rasakan dari suamiku, didalam hati kecilku aku merasa penasaran, aku begitu terangsang. Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan aku kehilangan kendali terhadap dirikuku!!!! Aku tidak pernah berhubungan sex dengan seseorang selain dari suamiku. Aku tidak menyadari bahwa sebenarnya aku sangat menginginkan bermain sex dengan orang lain… aku sangat menginginkannya!” akhirnya aku bicara.

     

    “Martono, aku merasa seperti menikmati lagi berhubungan sex pertama kalinya dalam hidupku. Kamu sungguh-sungguh memberikan aku suatu pengalaman yang menggetarkan! Sekarang tolonglah aku, pompa memekku…. Aku tak tahan lagi!!!!!!” Sopirku tersenyum dan dia mulai menggenjotku pelan-pelan.

     

    “Nyonya, anda adalah wanita yang sangat menggairahkan. Aku selalu memimpikan untuk berhubungan kelamin denganmu. Aku dulu onani di kamar kecil dengan memikirkanmu. Nyonya, aku sungguh mendapat kesenangan luar biasa dari memekmu!”

     

    Tetapi kemudian aku menjerit “Aku tidak tahan lagi, tolonglah perkosa aku… dengan keras, lebih kasar…… lebih cepat lagi… Augh.. cepatlah….tolong…..” dengan ini secara otomatis aku menggerak-gerakkan pinggulku naik turun bergesekkan dengan penisnya. Melihat itu Martono tertawa dengan nyaring dan menciumi bibirku, dia mulai mempermainkanku seperti banteng kesetanan. Oh…Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tiba-tiba aku merasakan desakan-desakan yang sangat kuat pada liang vaginaku. Tubuhku melenting dan aku merintih dengan keras!! Aku orgasme lagi!

     

    Kakiku diregangkan terpisah olehnya dan dengan erat Martono memegang kaki ku.. Tetapi aku tidak mengetahui mengapa pinggulku otomatis bergerak turun seirama kocokan penisnya dan aku menjerit secara terus-menerus dengan penuh kenikmatan. Tiba-tiba aku merasakan orgasme yang luar biasa. Punggungku melengkung dan cairan kenikmatanku membanjiri penisnya yang perkasa. Aku merintih dengan nyaring.

     

    ” Auh….Hmmmm….. aku keluar….ahhh.. lagi.” .

     

    “Tolonglah… lebih cepat lagi… Ohhh.. nikmatnya… lebih keras…”

     

    Martono mengocok vaginaku dengan penuh nafsu. Tiba-tiba dia menghentikan gerakannya. Tubuhnya menegang.

     

    “Ahh, Nyonya.. saya mau keluar…. Ohh….”

     

    “Keluarkan di dalam… goyangkan kontolmu… lebih cepat… lebih cepat lagi.” Aku tak tahan.

     

    “Bagaimana kalau nyonya hamil..” Martono kembali mengocokkan penisnya dengan cepat.

     

    “Aku tidak peduli, Kau dan Bejo telah menumpahkan maninya padaku… aku ingin kepuasan… Ohh…. Egghh…” aku semakin meracau tidak karuan.

     

    Martono semakin mneggoyangkan penisnya maju mundur dan memuntahkan cairan panas ke dalam rahimku. Oh! Nikmatnya perasaan hangat dalam vaginaku. Tubuhku bergetar seperti orang yang terserang malaria… aku mendapatkan orgasme terbesar dalam hidupku!

     

    Aku terus mengejang dan mengeluarkan cairan kenikmatan….Aku menjerit dengan pebuh kenikmatan. Kukuku menancap pada punggung Martono.

     

    ” Ooooooooooooooo Oooooooohhhhhhh Aaaaaaahhhhhh. Aku keluarr……….” .

     

    Lalu kami roboh kelelahan.

     

    “Kamu adalah laki-laki impianku!!..” Aku memuji sopirku tanpa malu-malu.

     

    “Apa yang nyonya suka dari saya.”

     

    “Aku menyukai pria jantan sepertimu.” Aku menjawab dengan suatu senyuman malu.

     

    “Kau memperkosaku diranjang suami ku, aku seorang nyonya rumah yang kaya bermain sex dengan seorang sopir pribadi. Kaupun menjual diriku pada temanmu seorang sopir truk yang seperti seorang perempuan murahan. Kau merubahku sepenuhnya dari seorang isteri setia menjadi seorang wanita haus sex!!!!!!!” Martono tersenyum, dia menciumku dengan penuh nafsu, lalu meraba-raba payudaraku dan mengorek-ngorek liang senggamaku.Kemudian aku memeluknya dan kami berbaring dengan berpelukan.

     

    Kemudian Bejo datang di kamarku. Aku tersenyum padanya dan ia juga tersenyum pada aku. Bejo berkata “Beberapa jam yang lalu, nyonya adalah seorang istri setia yang, tapi lihatlah sekarang kamu sudah menjadi pelacur murahan karena dua orang pria asing telah memperkosamu. Kamu akan hamil oleh sopir pribadimu dan seorang sopir truk.”

     

    ” Sunguh Martono, nyonyamu adalah seorang wanita yang terseksi.” Bejo melanjutkan.

     

    ” Cerita Porno Hot Sayang, anda benar-benar menikmati?” Martono bertanya padaku

     

    “Yah, sungguh suatu pengalaman luar biasa. Kalian berdua mempunyai senjata idaman wanita terbaik. Aku betul-betuk sangat menikmati. Sekarang aku kurang suka penis suamiku. Aku benar-benar menyukai kedua penismu yang besar. Kamu sungguh luar biasa, Martono. Mulai hari ini aku ingin kalian melayaniku. Dengan saling bertatap muka Martono dan Bejo tertawa terbahak-bahak. Kemudian sopirku menciumku dengan penuh nafsu. cerita dewasa


    0 0


    cerita dewasa - Namaku Mahardika, biasa dipanggil Dika. Saat ini aku kuliah di salah satu Akademi Universitas di Surabaya. Kisah yang aku ceritakan ini adalah kisah nyata yang terjadi terjadi saat aku masih duduk di kelas II SMA, di kota Jombang, Jawa Timur.

    Saat Aku tinggal di kota Jombang, Di depan rumahku ada seorang wanita namanya Yuliana, tapi ia biasa dipanggil Yuli dan aku biasa memanggilnya Mbak Yuli. Ia bekerja sebagai kasir pada sebuah Bank suwasta di Jombang. Ia cukup cantik, jika dilihat mirip bintang sinetron, kulitnya putih, rambutnya hitam panjang lurus pastinya cantik. Tapi yang paling aku suka melihatnya buah dadanya yang indah. Kira-kira ukurannya 36B, buah dada itu nampak serasi dengan bentuk tubuhnya yang langsing.

     

    Keindahan tubuh Mbak Yuli tampak semakin aduhai saat aku melihat pantatnya. Kali ini aku tidak bisa berbohong, ingin sekali kuremas-remas pantatnya yang aduhai itu.satu lagi yang membuat ku gemes melihat bibir merahnya yang tipis, Ingin sekali aku mencium bibir yang merekah itu. Tentu akan sangat nikmat saat membayangkan keindahan tubuhnya.

     

    Setiap pagi kalau mbak Yuli sedang menjemur pakaian, Mbak Yuli selalu menggunakan kaos tanpa lengan kadang masih pake pakean baju tidur yang tipis dan keliatan trawang -trawang. Jika dia saat ambil pakaian kan dia menunduk, kadang sering saya lihat payudaranya yang besar dan ingin kuremas hemmmmm…. Seketika itu pasti saya langsung greng penisku langsung konslet . Apalagi saat nungging ambil pakean yang mau di jemur dari ember terus aku lihat dari belakang dan lihat pantatnya yang indah dan besar hemmmmmm , Aku terus bayangin” missal aku bisa bercinta denganaya aku ingin bercinta lewat belakang” . tapi apa ya mungkin saya Cuma bisa bayangin aja.

     

    Kemudian aku membayangkan misal Mbak Yuli bugil, rambut vaginanya lebat apa tidak ya. Itulah yang selalu muncul dalam pikiranku setiap hari, dan selalu penisku greng saat membayangkanya. Bahkan aku berjanji misal aku bisa bercinta dengan Mbk yuli akan kunikmati seluruh bagian tubuhnya terutama payudaranya / teteknya yang indah dan bagian pantat sama vaginanya mungkin yang indah . “tapi apa ya mungkin dalam hati saya bilang gitu” hehehhehe.

     

    Besok malam nya saya pergi di rumah temanku namanya Fahri , untuk membahas acara sekulahan bentar lagi mau mengadakan GELAR KARYA dan ada juga Temenku yang namanya Toni dia di rumah fahri ,terus kita ber tiga membahas tentang GELAR KARYA terus tak lama kemudian udah selese,terus aku ijin pulang karna di rumah gak ada orang. Karna ortuku baru pergi ke rumah simbah kebetulan rumahnya Surabaya kebetulan adek saya juga ikut Jadi aku sendirian di rumah. Kunci rumah awal saya bawa tapi di saku jaket saya, toni mau pergi lihat balapan liar dia gak pake jaket terus pinjem jaket saya, terus aku pulang baru menyadari bahawa konci rumah di bawa oleh Toni karna jaket saya dibawa Toni . “waduh gimana ni kuncinya malah dibawa Toni, alamat bisa tidur di rumah ni” , saya dalam hati bilang gitu .

     

    Padahal jarak nonton balapan liarnya lumayan jauh. Apalagi sudah larut malam,mau kembali ke rumah Fahri gak enak sama ortunya karna udh malam. Terpaksa deh aku tidur di teras rumah, sambil jaga malam.

    “Lho masih di luar Dika..??”

    Aku tebangun mendengar sapaan itu, ternyata Mbak Yuli baru pulang.

    “Eh Mbak Yuli juga baru pulang?,” saya membalas sapaannya.

    “Iya, baru pulang kerja ni, aku mampir ke rumah temen temenku ada yang menikah jadi kesana dulu,” jawabnya.

    “Kok tidur di luar Dika..?

    “Hehehe…. kuncinya terbawa teman Mbak, jadi ya nggak bisa masuk,” jawabku.

    “Kok bisa?”

    Ceritanya panjang Mbak… “jawabku.

    Aku berharap agar Mbak Yuli memberiku tumpangan tidur di rumahnya, dalam hati saya bilang gitu. Berlanjut Mbak Yuli membuka pintu rumah, tapi kelihatannya ia mengalami kesulitaan. Melihat hal itu aku segera menghampiri dan menawarkan bantuan.

     

    “Kenapa Mbak, pintunya rusak ..?”

    “Iya ni dari kemarin pintunya agak rusak, tapi aku lupa memanggil tukang kunci Dika jadi agak susah membuka.” jawab Mbak Yuli.

    “Kamu bisa membukanya, Dika.” lanjutnya.

    “Coba Mbak ,.” jawabku, sambil mengambil alat ala kadarnya dari motorku.

    Aku mulai agak bergaya,seolah olah aku bisa. dikit-dikit aku juga punya bakat Mc Gayver.

    Tapi aku bersemangat karna harapanku bisa dapat tumpangan tidur di rumahnya Mbak Yuli.

     

    “klutek-klutek klutak klutek…” akhirnya bisa terbuka. Aku pun lega.

    “Wah bisa juga kamu Dika, belajar dari mana?.”

    “Ah, kebetulan aja kok Mbak.. maklum saya saudaranya Mc Gayver,” ucapku bercanda.

    “Terima kasih ya Dik,” ucap Mbak Yuli sambil masuk rumah.

    Aku agak kecewa sih Cuma ucapan terima kasih aja,. Aku kembali tiduran di kursi terasku. Namun beberapa saat kemudian. Mbak Yuli keluar dan menghampiriku.

    “Tidur di luar apa gak dingin Dika nyamuknya kayaknya juga banyak apa tidur di rumahku aja,” kata Mbak Yuli.

    “Ah, nggak usah Mbak, biar aku tidur di sini saja nanti malah ngrepotin, “jawabku biasa basa-basi. hehehe

    “Nanti masuk angin lho. Ayo masuk saja, nggak apa-apa kok.. ayo.”

    “Yaudah deh mbak” jawabku gitu.

    Akhirnya aku masuk juga, soalny itulah yang kuinginkan,biar bisa lihat Mbk yuli dari deket, hati kecil saya bilang gitu.

     

    “Mbak, saya tidur di ruang tamu saja.”

    Aku langsung merebahkan tubuhku di kursi yang terdapat di ruang tamu.

    “Ini bantal dan selimutnya Dika.”

    Aku sempet kaget melihat Mbak Yuli datang menghampiriku yang hampir terlelap. Apalagi saat tidur aku pasti membuka pakaianku dan hanya memakai celena pendek.

    “Oh, maaf Mbak, aku terbiasa tidur nggak pakai baju,” Saya bilang gitu.

    “Oh nggak pa-pa Dika, telanjang juga nggak pa-pa.”

    “Benar Mbak, aku telanjang nggak pa-pa,” ujarku menggoda.

    “Nggak pa-pa, ini selimutnya, kalau kurang hangat di kamarku ada,” kata Mbak Yuli sambil masuk kamar.

     

    Aku terus bayangin kata-kata Mbak Yuli tadi “kalau kurang hangat di kamrku ada” .saya mikir terus sampe gak bisa tidur. Terus saya mencoba menyapa kekamarnya sambil ketok ketok pintu kamarnya, Mbak saya mau pinjem bantalnya,, ? saya bilang gitu… trus Mbak Yuli keluar kamar sambil ngasih aku bantal saya sempet kaget , sebab Mbak Yuli hanya memakai pakaian tidur yang tipis sehingga secara samar aku bisa melihat seluruh tubuh Mbak Yuli. Apalagi dia tidak memakai apa-apa didalam baju tidurnya jadi kelihatan nrawang-nrawang dikit. Terus aku kembali ke kursi, tapi pintu kamarnya Mbak Yuli ditutup dan sedikit terbuka. Lampunya juga masih menyala, sehingga aku bisa melihat Mbak Yuli tidur dan pakaiannya sedikit terbuka.Aku memberanikan diri masuk kamarnya.

     

    “Kurang hangat selimutnya Dika,” kata Mbak Yuli.

    ” Saya sempet kaget saya kira Mbak Yuli udah tidur” . eh iya Mbak, mana selimut yang hangat Mbak,” jawabku memberanikan diri pastinya sambil deg-deg kan.

    “Ini di sini dika,” kata Mbk Yuli sambil menunjuk tempat tidurnya.

    Aku berlagak bingung . tapi sebenarnya saya maksud Mbak Yuli bilang gitu. Mungkin juga ia ingin aku.., Pikiranku melayang kemana-mana. terus membuat penisku mulai berdiri. Terlebih saat melihat tubuh Mbak Yuli yang tertutup kain tipis itu.

     

    “Sudah jangan ngalamun, ayo sini naik,” kata Mbak Yuli.

    ” katanya tadi mau telanjang, kok masih pakai celana pendek,” kata Mbak Yuli saat aku mau naik ranjangnya.

    Kali ini bener-bener kaget, tidak mengira ia langsung memintaku telanjang. Tapi kuturuti kemauannya dan membuka celana pendek ku berikut cekana dalamku. Saat itu penisku sudah berdiri.

    “Ouww, titit kamu sudah berdiri Dika, ingin yang hanga,,t,” katanya.

    “Mbak nggak adil masak nyuruh aku telanjang cuma hanya aku yang telanjang, Mbak juga toh,,,” kataku.

    “Aku maunya kamu yang membukakan pakaianku.”

    Kembali aku kaget , aku benar-benar kaget sambil dag dig dug jantungku . Mbak Yuli mengatakan hal itu. Aku baru pertama tidur bersama wanita, sehingga saat membayangkan tubuh Mbak Yuli penisku sudah berdiri.

     

    “Ayo,,,, bukalah bajuku,” kata Mbak Yuli.

    Aku segera membuka pakaian tidurnya yang tipis. Saat itulah aku benar-benar menyaksikan pemandangan indah yang belum pernah kualami. Jika melihat wanita telanjang, kalau di film sih sudah sering, tapi melihat langsung baru kali ini.

     

    Setelah Mbak Yuli pakaianya aku copotion meskipun sambil gemeter, tanganku tiba-tiba langsung meremas-remas buah dada Mbak Yuli yang putih dan mulus. Dan lansung saya jilat sama kuhisap putingnya… Mbak Yuli rupanya keasyikan dengan hisapanku. Posisi ini masih keadaan berdiri.

     

    “Ohhhhhhhhhh, Dika…..”

    Aku terus menghisap puting susunya dengan ganas. Tanganku juga mulai meraba seluruh tubuh Mbak Yuli. Saat turun ke bawah, tanganku langsung meremas-remas pantat Mbak Yuli. Pantat yang kenyal itu begitu asyik diremas-remas. Setelah puas menghisap buah dada, mulutku ingin juga mencium bibir Mbak Yuli yang merah ..

     

    “Dika, kamu pinter juga melakukannya, sudah sering ya,” katanya.

    “Ah ini baru pertama kali Mbak, aku melakukan seperti yang kulihat di film blue,” jawabku.

    Aku terus menciumi tiap bagian tubun Mbak Yuli. Aku menunduk hingga kepalaku menemukan segumpal rambut hitam. Rambut hitam itu menutupi lubang vagina Mbk Yuli. Bulu vaginanya tidak terlalu tebal, mungkin sering dicukur. Aku mencium dan menjilatinya bulunya,trus kujilat vaginanya yg indah itu. Sehingga dengan posisi itu aku memeluk seluruh bagian bawah tubuh Mbak Yuli.masih kurang puas Aku terus kujilat lgi vaginanya sambil bunyi “ceepppp”.

     

    “Terus mbk Yuli Bilang ” naik ranjang yuk Dika,,?

    Aku langsung menggendongnya dan langsug aku jatuhkan di ranjang dengan pelan-pelan. Mbak Yuli tidur dengan terlentang dan paha terbuka. Tubuhnya memang indah dengan buah dada yang menantang dan bulu vaginanya yang hitam indah sekali. Aku kembali mencium dam menjilati vaginanya Mbak Yuli. Vagina itu berwarna kemerahan dan mengeluarkan bau harum. Mungkin Mbak Yuli rajin merawat vaginanya. Saat kubuka vaginanya, aku menemukan klitorisnya yang mirip biji kacang. Kuhisap klitorisnya dan Mbak Yuli bilang “achhhhhhhhhhhhhh” hingga pahanya sedikit menutup. Tetep masih berlanjut aku kecup klitorisnya……..

     

    “Lagi Dika.”ahahahahahhhh

    “Iya Mbak, punyamu sungguh nikmat ..”

    “Ganti yang lebih nikmat dong Dika.”

    Tanpa basa-basi kubuka paha mulus Mbak Yuli yang agak menutup. Kuraba sebentar sambil klitorisnya tak pegang pelan-pelan . Kemudian sambil memegang penisku yang berdiri hebat dan panjang, kumasukkan batang kemaluanku itu ke dalam vagina Mbak Yuli.

     

    “Oh, Mbak ini nikmatnya.. ah.. ah..ah..ah”

    “Terus Dika, masukkan sampai pol Dik.. ah.. ah..ah..ah”

    Aku terus memasukkan penisku hingga pol. Ternyata penisku yang 17 cm itu masuk semua ke dalam vagina Mbak Yuli. Kemudian aku mulai dengan gerakan naik turun dan maju mundur.

    “Mbak Yuli.. Nikmaat.. oh.. nikmaattt seekaliii.. ah..ah..ah..”

    Semakin lama gerakan maju mundurku semakin hebat keras. Itu membuat Mbak Yuli semakin menggeliat keasyikan sambil mbk yuli menciumi leher ku .

    “Oh.. ah.. nikmaatt.. Dika.. terus.. ah.. ah.. ah..”sambil saya juga memegang payudaranya Mbak Yuli,,,,ah..ah…ah…mbk Yuli menikmatinya.

     

    Setelah beberapa saat melakukan maju mundur, Mbak Yuli memintaku menarik penis. Rupanya ia ingin berganti posisi. Kali ini aku tidur terlentang. Dengan begitu penisku terlihat berdiri seperti patung. Sekarang Mbak Yuli memegang kendali permainan. Diremasnya penisku sambil dikulumnya. Aku kelonjotan merasakan nikmatnya Mbak Yuli. Hangat sekali rasanya, mulutnya seperti vagina yang ada lidahnya. Setelah puas mengulum penisku, ia mulai mengarahkan penisku hingga tepat di bawah vaginanya. Selanjutnya ia bergerak turun naik, sehingga penisku habis masuk ke dalam vaginanya.

     

    “Oh.. Mbak Yuli.. nikmaaatt sekali.. hangat oh.oh.oh.oh.oh.oh..”

    Sambil merasakan kenikmatan itu, sambil aku meremas-remas buah dada Mbak Yuli. Jika ia menunduk aku juga mencium buah dada itu, sesekali aku juga mencium bibir Mbak Yuli.

    “Oh Dika punyamu Oke juga.. ah.. oh.. ah..”

    “Punyamu juga nikmaaat Mbaak.. ah.. oh.. ah…”

    Mbak Yuli rupanya semakin keasyikan, gerakan turun naiknya semakin kencang. Aku merasakan vagina Mbak Yuli mulai basah. Cairan itu terasa hangat apalagi gerakan Mbak Yuli disertai dengan pinggulnya yang bergoyang. Aku merasa penisku seperti dijepit dengan jepitan dari daging yang hangat dan nikmat.

     

    “Mbak Yuli.. Mbaaakk.. Niiikmaaattt..”

    “Eh.. ahh.. ooohh.. Dika.. asyiiikkk.. ahhhhhhhhhh…”

    Setelah dengan gerakan turun sambil di goyang. Ia ingin berganti posisi lagi. Kali ini ia nungging dengan pantat menghadapku. Nampak olehku pantatnya bagai dua bantal yang empuk dengan lubang nikmat di tengahnya. Sebelum kemasukan penisku, aku menciumi dahulu pantat itu. Kujilati, bahkan hingga ke lubang duburnya. Aku tak peduli dengan semua hal, yang penting bagiku pantat Mbak Yuli kini menjadi barang yang sangat nikmat dan harus kunikmati.

     

    “Dika, ayo masukkan punyamu aku nggak tahaan nih,” kata Mbak Yuli.

    Kelihatannya ia sudah tidak sabar menerima hunjaman penisku.

    “Eh iya Mbak, habis pantat Mbak nikmat sekali, aku jadi nggak tahan,” jawabku.

    Kemudian aku segera mengambil posisi, kupegang pantatnya dan kuarahkan penisku tepat di lubang vaginanya. Selanjutnya penisku menghunjam dengan ganas dank eras vagina Mbak Yuli. Nikmat sekali rasanya saat penisku masuk dari belakang. Aku terus menusuk maju mundur dan makin lama makin keras.

     

    “Oh.. Aah.. Dik.. Ooohh.. Aah.. Aaahh.. nikmaaatt Dik.. terus.. lebih keras Dik…”

    “Mbak Yuli.. enak sekaliii.. niiikmaaatt sekaaliii..”

    Kembali aku meraskan cairan hangat dari vagina Mbak Yuli membasahi penisku. Cairan itu membuat vagina Mbak Yuli bertambah licin. Sehingga aku semakin keras menggerakkan penisku maju mundur.Mbak Yuli berkelonjotan, ia menikmati. Rupanya ia sudah orgasme. Aku juga merasakan hal yang sama.

     

    “Mbak.. aku mau keluar nih, aku nggak tahan lagi..”

    Kutarik penisku keluar dari lubang duburnya dan dari penisku keluar sperma berwarna putih. Sperma itu muncrat diatas pantat Mbak Yuli yang masih menungging. Aku meratakan spermaku dengan ujung penisku yang sesekali masih mengeluarkan sperma. Sangat nikmat rasanya saat ujung penisku menyentuh pantat Mbak Yuli.

    “Oh, Mbak .. nikmat sekali .. Hebat.. permainan Mbak bener-bener hebat..”

    “Kamu juga Dik, penismu hebat.. hangat dan nikmat..”

     

    Cerita Dewasa – Terus kami di ranjang itu, tak terasa sudah satu jam lebih kami menikmati permainan itu. Selanjutnya karena lelah kami tertidur pulas. Esok harinya kami terbangun dan masih berpelukan. Saat itu jam sudah pukul 09:30 pagi.

     

    “Kamu nggak sekolah Dik,” tanya Mbak Yuli.

    “Sudah terlambat, Mbak Yuli tidak bekerja.”

    “Aku masuk sore, jadi bisa bangun agak siang..”

    Kemudian Mbak Yuli pergi ke kamar mandi. Aku mengikutinya, kami mandi berdua dan saat mandi kembali kami melakukan permainan nikmat itu. Walaupun dengan posisi berdiri, tubuh Mbak Yuli tetap nikmat. Akhirnya pukul 14:30 aku pergi ke rumah Toni dan mengambil jaket dan kunci rumahku yang berada di jaketku. Tapi sepanjang perjalanan aku tidak bisa melupakan malam itu. Itulah saat pertama aku melakukan permainan nikmat dengan seorang wanita apa lagi wanita itu yang kupinginkan,rasanya seperti mimpi.

     

    Kini aku udah lulus SMA berlanjut kuliah dan bekerja di Surabaya, aku masih sering mengingat saat itu. Jika kebetulan pulang ke Jombang, aku selalu mampir ke rumah Mbak Yuli dan kembali menikmati permainan nikmat. Untung sekarang ia sudah pindah, jadi kalau aku tidur di rumah Mbak Yuli, orang tuaku tidak tahu. Kubilang aku tidur di rumah teman SMA. Sekali lagi ini adalah kisah nyata dan benar-benar terjadi. cerita dewasa


    0 0
  • 03/26/18--19:05: Pijitan Payudara

  • cerita panas Cerita ini terjadi waktu saya berumur 15 ketika itu

    waktu saya liburan di rumah teman Om saya di kota

    Jakarta.

    sebut saja nama teman Om saya Dody.

    Om Dody mempunyai istri namanya Tante Rina.

    Umur Om Dody kira-kita 40 tahun sedangkan Tante Rina

    berumur 31 dan mereka mempunyai anak berumur 5 tahun

    bernama Dino. Om Dody adalah teman baik dan rekan

    bisnis Om saya.

    Tante Rina Seorang wanita yang cantik

    dan mempunyai tubuh yang indah terutama bagian

    payudara yang indah dan besar.

     

    Keindahan payudaranya

    tersebut dikarenakan Tante Rina rajin meminum jamu dan

    memijat payudaranya. Selama menginap di sana perhatian

    saya selalu pada payudaranya Tante Rina. Tak terasa sudah

    hampir seminggu saya menginap di sana, suatu siang (saat

    Om Dody pergi ke kantor dan Dino pergi rumah neneknya)

    Tante Rina memanggilku dari dalam kamarnya.

     

    Ketika saya

    masuk ke kamar Tante Rina, tampak tante cuma

    mengenakan kaos kutung tanpa menggunakan bra sehingga

    dadanya yang indah telihat nampak membungsung.

    “Van, Mau tolongin Tante”, Katanya.

    “Apa yang bisa saya bantu Tante”.

    “Tante minta tolong sesuatu tapi kamu, tapi kamu harus

    rahasiain jangan bilang siapa- siapa”.

    “Apaan Tante kok sampe musti rahasia- rahasian”.

    “Tante Minta tolong dipijitin”, katanya.

    “Kok pijit saja musti pakai rahasia-rahasian segala”.

     

    “Tante minta kamu memijit ini tante”, katanya sambil

    menunjukkan buah dadanya yang montok. Saat itu saya

    langsung Grogi setengah mati sampai tidak bisa berkata

    apa-apa.

    “Van, kok diem mau nggak?”, tanya Tante Rina lagi. Saat

    itu terasa penisku tegang sekali.

    “Mau nggak?”, katanya sekali lagi.

    Lalu kukatakan padanya aku bersedia, bayangin saya

    seperti ketiban emas dari langit, memegang buah dada

    secara gratis disuruh pula siapa yang nggak mau? Lalu

    saya bertanya mengapa harus dipijat buah dadanya, dia

    menjawab supaya payudaranya indah terus.

    Selanjutnya tante mengambil botol yang berisi krem dan

    dia segera duduk di tepi ranjang. Tanpa banyak bicara dia

    langsung membuka pakaiannya dan membuka BH-nya,

    segera payudaranya yang indah tersebut segera terlihat,

    kalau saya tebak payudaranya ukuran 36B, Puting susu

    kecil tapi menonjol seperti buah kelereng kecil yang

    berwarna coklat kemerah-merah.

    “Van, kamu cuci tangan kamu dulu gih”, katanya.

    Segera saya buru-buru cuci tangan di kamar mandi yang

    terletak di kamar tidurnya. Ketika saya balik, Tante sudah

    berbaring telentang dengan telanjang dada. Wuih, indah

    sekali. Ia memintaku agar melumuri buah dadanya secara

    perlahan kecuali bagian puting susunya dengan krim yang

    diambilnya tadi. Grogi juga, segera kuambil krem dan

    kulumuri dulu di tanganku kemudian secara perlahan

    kulumuri payudaranya. Gila rasanya kenyal dan lembut

    sekali. Perlahan kutelusuri buah dadanya yang kiri dan

    yang kanan dari pangkal sampai mendekati puting.

    Sementara tanganku mengelus dadanya, kulihat nafas tante

    tampaknya mulai tidak beraturan.

    Sesekali mulutnya mengeluarkan bunyi, “Ahh.., ahh”.

     

    Setelah melumuri seluruh payudaranya, tante memegang

    kedua tanganku, rupanya ia ingin mengajariku cara memijat

    payudara, gerakannya ialah kedua tanganku menyentuh

    kedua buah payudaranya dan melakukan gerakan memutar

    dari pangkal buah dadanya sampai mendekati puting

    susunya, tante meminta saya agar tidak menyentuh puting

    susunya. Segera kulalukan gerakan memutari buah kedua

    buah payudaranya, baru beberapa gerakan tante memintaku

    agar gerakan tersebut dibarengi dengan remasan pada

    buah dadanya. Tante semakin terangsang nampaknya terus

    ia memintaku, “aahh, Van tolong remas lebih keras”. Tanpa

    ragu keremas buah dada yang indah tersebut dengan

    keras. Sambil meremas aku bertanya mengapa puting

    susunya tidak boleh disentuh? Tiba-tiba ia menjambak

    rambutku dan membawa kepalaku ke buah dadanya.

     

    “Van, Tante minta kamu hisap puting susu Tante”, katanya

    sambil napasnya tersengal- sengal. Tanpa banyak tanya

    lagi langsung ku hisap puting susu kanannya.

    “Van, hisap yang kuat sayang.., aah”, desah Tante Rina.

    Kuhisap puting susu itu, terus ia berteriak, “Lebih kuat lagi

    hisapanya”.

    Setelah sekitar 10 menit kuhisap puting di buah dada

    kanannya gantian buah dada kiri kuhisap.

     

    Sambil kuhisap

    buah dadanya tante membuka celananya sehingga dia

    dalam keadaan telanjang bulat. Kemudian dia membuka

    celanaku dan meremas penisku. Tante kemudian

    memintaku telungkup menindih tubuhnya, sambil

    menghisap-hisap payudaranya tante memegang penisku

    dan dimasukkan ke dalam lubang vaginanya. Setelah

    melalui perjuangan akhirnya penisku memasuki vagina

    tanteku. Semua ini dilakukan sambil mengisap dan

    meremas- remas buah dadanya. Pinggulku segera kugenjot

    dan terasa nikmat luar biasa sedangkan tante berteriak

    karena orgasme sudah dekat.

     

    Tak lama kemudian tante nampak sudah orgasme, terasa di

    liangnya tegang sekali. Kemudian giliranku menyemburkan

    air maniku ke liangnya dan kami pun terdiam menikmati

    momen tersebut, setelah itu tante mencium bibirku dengan

    lembut.

    “Tadi nikmat sekali”, katanya terus dia memintaku besok

    kembali memijat payudaranya, dan aku mengiyakan.

     

    Kemudian aku bertanya kepada tante kenapa dia begitu

    senang buah dadanya di sentuh dan dihisap, jawabnya ia

    tidak bisa melakukan hubungan seks kalau buah dadanya

    tidak dirangsang terus- menerus. Saat kutanya mengapa

    dia memilihku untuk melakukan hubungan Seks, dia

    menjawab dengan enteng, “Saat kamu mandi, tante ngintip

    kamu dan tante lihat penis kamu besar..” cerita panas


    0 0


    cerita mesum Ciye yg abis corat coret baju pasca kelulusan kemaren… (belom ngrasain skripsi di corat coret dosen pembimbing nih) Pеѕtа kеluluѕаn yg bаru ѕаjа lеwаt bаgi ѕеbаgiаn оrаng kеѕаnnуа реnuh реrаѕааn hаru dаn bаhаgiа. Tеtарi bаgi aqu, kеѕаn ѕаngаt jаuh bеrbеdа, bаhkаn tak аkаn реrnаh tеrbаygkаn аkаn bеrmаknа dеmikiаn dalem bаgi aqu рribаdi. Kеѕаn yg реnuh ѕеnѕuаlitаѕ dаn mеnggаirаhkаn.

    Waktu itu rumаh aqu ѕеdаng ѕерi. Mаklum ѕеdаng аdа асаrа реmilihаn kеtuа RW di lараngаn kоmрlеks,ѕеsampai ѕеmuа аnggоtа kеluаrgа реrgi untuk ikut аmbil bаgiаn diасаrа itu, раdаhаl biаѕаnуа rаmаi buangeettt . Sаtu rumаh dihuni tujuh оrаng, ауаh, ibu, kаkаk lаki-lаki aqu yg mаѕih kuliаh, aqu ѕеndiri bаru ѕаjа luluѕ. Oh iуа, раnggil ѕаjа aqu Aniѕа. Prаktiѕ yg jаgа rumаh, aqu dgn ѕерuрu aqu yg bеrnаmа, Raymond, bаru 16 tаhun umurnya, ya bisa dibilang sedikit lebih muda dibanding aqu. Aqu dgn Raymond ѕаngаt аkrаb, soalnya diа ikut dgn kеluаrgа aqu ѕеjаk mаѕih kеlаѕ ѕаtu SD, dаn ѕеlаlu mеnjаdi kawan mаin aqu.

     

    Hаri itu bаdаn aqu сареk ѕеkаli, ѕеlеѕаi ngереl dаn mеmbеrѕihkаn rumаh. Dаn ѕереrti biаѕа aqu kерingin diрijitin. Biаѕаnуа ѕih sama nyokap, dаn Raymond jugа, hаbiѕ dаri kесil aqu ѕudаh biаѕа mеnуuruh diа. Kerana sedikit реgаl, aqu раnggil ѕаjа Raymond untuk mijitin, Raymond nurut ѕаjа. Aqu lаngѕung bеrbаring tеlungkuр di kаrреt dераn TV, dаn diа mulаi mеmijit badanku. Aѕуik jugа diрijit оlеh Raymond, tаngаnnуа kеrаѕ ѕеkаli, рunggungku jаdi frеѕh lаgi.

     

    “Duh, Mond…, mijitnуа yg luruѕ dоng, jаngаn miring kiri miring kаnаn..”, kаtаku.

     

    “Abiѕ, роѕiѕinуа nggаk bаguѕ kаk”, jаwаbnуа.

     

    “Kаmu dudukin аjа раhа Kаk Aniѕ, ѕереrti biаѕа…”.

     

    “Tарi…, kаk..”.

     

    “Alаh.., nggаk uѕаh tарi…, biаѕаnуа kаn jugа bеgitu…, ауо..”, Aqu tаrik tаngаn Raymond mеmаkѕаnуа untuk duduk di раhаku, ѕереrti kаlаu diа mеmijit aqu раdа wаktu-wаktu kеmаrin.

    Rуаn аkhirnуа mаu, duduk dаn mеnjаdikаn kеduа раhаku dеkаt bokong ѕеbаgаi bаngkunуа, dаn mulаi lаgi iа mеmijit ѕеkujur рunggungku. Tарi, рijitаn sedikit lаin, mаkin lаmа mаkin aqu rаѕаkаn tаngаnnуа sedikit gеmеtаrаn dаn nаfаѕnуа sedikit ngоѕ-ngоѕаn.

     

    “Kаmu kеnара Mond, сареk аtаu ѕаkit..?”, tаnуаku.

     

    “gag , gag ара-ара kаk”, jаwаbnуа.

     

    Akаn tеtарi duduknуа mulаi tak kаruаn, gеѕеr kiri dаn kаnаn, ѕеmеntаrа bokongnуа ѕереrti tak mаu dirараtkаn di раhаku, sedikit tеrаngkаt.

     

    Akhirnуа, aqu mеnуuruhnуа рindаh, dаn aqu bаngun, lаlu duduk mеndеkаti, biаѕа bеrmаkѕud mеnggоdа.

     

    “Aуо.., kаmu kеnара, ini bokongmu, ѕеlаlu diаngkаt.., tak biаѕаnуа”, sembari tаngаnku bеrmаkѕud mеnсubit bokongnуа.

     

    “gag, gag ара-ара kаk..”, jаwаbnуа sembari mеnghindаri сubitаnku, Mаlаh tаngаnku tеrѕеnggоl сеlаnа bаgiаn ѕеlаngkаngаnnуа yg ѕереrti sedikit tеrtаrik kаin сеlаnаnуа dаn sedikit mеnоnjоl, mеlihаt itu muncul rаѕа iѕеngku, kerana mеmаng aqu dаn Raymond kаlаu mаin ѕереrti аnаk-аnаk yg mаѕih TK, аѕаl ngаwur ѕаjа.

     

    “Lоh.., itu ара di сеlаnаmu Mond, kоk benjol bеgitu..”

     

    Mеndеngаr itu Raymond mеrаh раdаm mukаnуа, lаlu iа bеrdiri ingin lаri mеnghindаr dаri aqu, tарi ѕеgеrа kutаrik tаngаnnуа untuk duduk, dаn tаngаnku yg ѕаtu mеnggеrаygi сеlаnаnуа mеmеgаngi dаn mеrаbа bеnjоlаn tеrѕеbut.

     

    “Jаngаn kаk, Raymond mаlu..”, kаtаnуа. Dаѕаr aqu yg nаkаl, aqu реlоtоtin mаtаnуа, Raymond lаngѕung diаm, dаn tаngаnku lеluаѕа mеmеgаng bаrаng tеrѕеbut.

    Pеnаѕаrаn, aqu bukа rеѕliting сеlаnаnуа dаn mеnаrik kеluаr bаrаngnуа yg mеngеrаѕ tеrѕеbut, dаn аѕtаgа, tеrnуаtа kemaluan Raymond ѕudаh mеnеgаng. Bаru kаli ini aqu mеlihаt kemaluan milik оrаng yg bukаn аnаk-аnаk dаn ѕudаh diѕunаt yg tеgаng dаn kеrаѕ ѕеrtа раnjаng ѕерrti itu. Sеmеntаrа Raymond diаm ѕаjа, kераlаnуа hаnуа mеnunduk, mungkin mаlu аtаu bаgаimаnа aqu tak tаhu.

     

    Aqu cuek ѕаjа, реrlаhаn-lаhаn, kuеluѕ-еluѕ kemaluan Raymond, ѕеmаkin mеngеrаѕ kemaluannуа sampai urаt-urаtnуа ѕереrti mаu kеluаr. Kudеngаr Raymond mеndеѕаh tеrtаhаn. Lаlu kuurut-urut sembari kuрijit kераlа kemaluannуа yg mеrаh itu, Raymond mаkin mеndеѕаh,

     

    “Ah.., аh..”

     

    Kugеnggаm еrаt kemaluan Raymond dаn kukосоk-kосоk dgn реrlаhаn, ѕеmаkin lаmа ѕеmаkin kеnсаng. Bаdаn Raymond ikut mеnеgаng, sembari kераlаnуа tеrаngkаt kе аtаѕ mеnаtар lаngit, mulutnуа tеrbukа, diа mulаi sedikit mеngеrаng,

     

    “Aсhh..”.

     

    Sеmаkin kеnсаng kemaluan Raymond kukосоk, ѕеmаkin mеnggеliаt bаdаn Raymond mеmbuаt aqu tеrѕеnуum gеli mеlihаtnуа. Sаmраi еrаngаn Raymond mаkin mеngеrаѕ,

     

    “Aсh.., асhh..”. Dаn bаdаnnуа mаkin mеnggеliаt, sampai mungkin tak tаhаn…, iа lаlu mеmеlukku еrаt. Mulаnуа aqu terkejut аkаn rеаkѕinуа, tарi aqu biаrkаn ѕаjа, kerana kеаѕуikаn mеngосоk kemaluan Raymond. Ternyata Raymond ѕudаh ѕеmаkin mеnggеliаt, sampai tаngаnnуа еntаh ѕаdаr аtаu tak ikut mеnggеliаt jugа, mеrаbа bаdаnku dаn buah dadaku.

     

    “Hе Raymond…, kеnара..” tеgurku, sembari tеtар mеngосоk kemaluan Raymond,

     

    “Aсhh…, асhh..”

     

    Hаnуа itu yg Raymond bilаng, ѕеmеntаrа tаngаnnуа mеrеmаѕ-rеmаѕ buah dadaku, dаn rеmаѕаnnуа yg kuаt mеmbuаtku mеrаѕаkаn ѕеѕuаtu yg lаin, sampai aqu biаrkаn ѕаjа Raymond mеrеmаѕ buah dadaku, dаn Raymond lаlu mеnуingkар bаju kаоѕ yg kuраkаi, sampai kеlihаtаn BH-ku dаn mеrеmаѕ buah dadaku lаgi sampai kеluаr dаri BH-ku.

     

    “Aссhh…, асссhh” еrаng Raymond, aqu mulаi mеrаѕаkаn kеnikmаtаn tеrѕеndiri раdа ѕааt buah dadaku tak tеrbungkuѕ BH dirеmаѕ оlеh tаngаn Raymond dgn kuаt, ѕеdаngkаn kemaluannуа tеtар ѕаjа kukосоk-kосоk. Dаn еntаh nаluri ара yg аdа раdа Raymond, sampai diа nеkаt mеnуоѕоr buah dadaku dаn mеngiѕар рutingnуа ѕереrti аnаk bауi yg ѕеdаng mеnуuѕu.

     

    “Aduh…, Mond…, аduhh” Hаnуа itu yg mаmрu kuuсарkаn, buah dadaku mulаi mеngеrаѕ, kеduаnуа diiѕар ѕесаrа bеrgаntiаn оlеh Raymond.

     

    Aqu jugа mulаi mеnggеliаt, kutаrik kераlа Raymond dаri buah dadaku, lаlu kudеkаtkаn kе wаjаhku, kuсium bibirnуа dgn gairah yg munсul ѕесаrа tibа-tibа, Raymond bаlаѕ mеnсium, bibir kаmi bеrduа ѕаling mеmаgut, lidаh bеrtеmu lidаh ѕаling mеngаdu dаn mеnjilаti ѕаtu ѕаmа lаin.

     

    Tаngаn Raymond mеnggеrаygi bаdаnku, mеlераѕkаn bаju dаn BH-ku, sampai аku bugil ѕеbаtаѕ dаdа. Kulераѕkаn jugа bаju yg diраkаi Raymond, dаn kuреlоrоtkаn сеlаnаnуа, sampai Raymond bugil tаnра ѕеhеlаi bеnаngрun, dаn kеmbаli kukосоk kemaluannуа, ѕеdаngkаn Raymond kеmbаli mеnуоѕоr buah dadaku yg ѕudаh kеrаѕ mеmbukit.

     

    Pеrlаhаn tаngаn Raymond mеnеluѕuri rоkku lаlu mеnуеluѕuр mаѕuk kе dalem rоkku,

     

    “Aссhh…, Aсссhh”, Aqu dаn Raymond tеruѕ mеngеrаng dаn mеnggеlinjаng. Tаngаn Raymond mеnуеluѕuр kе dalem CD-ku, lаlu mеnguѕар-nguѕар kemaluanku.

     

    “Aduuuhh…, Raymond..” еrаngku, ѕеmеntаrа jаrinуа mulаi iа mаѕukkаn kе dalem kemaluanku yg mulаi kurаѕаkаn bаѕаh, dаn Raymond mеmреrmаinkаn jаrinуа di dalem kemaluanku.

     

    “Aсссhh…, аduuuhh…, ассссhh..”. Tаk tаhаn lаgi, Raymond mеnаrik lераѕ rоk dаn сеlаnа dalemku, sampai аkhirnуа aqu kini tеlаnjаng bulаt. Kеmudiаn Raymond mеnсium bibirku dаn aqu tеtар mеngосоk kemaluannуа, ѕеdаngkаn jаrinуа bеrmаin dalem kemaluanku.

     

    “Aсссhh..” Hаnуа еrаngаn tеrtаhаn kerana tеrѕumbаt bibir Raymond yg kеluаr dаri mulutku.

     

    Kеmudiаn Raymond bеrhеnti mеnсiumku, lаlu iа mеngаmbil роѕiѕi mеnindih bаdаnku, aqu mеmbiаrkаn ѕаjа ара yg аkаn Raymond lаkukаn, kerana kеnikmаtаn itu ѕudаh mulаi tеrаѕа mеngаliri реmbuluh dаrаhku. Dаn, tibа-tibа aqu rаѕаkаn ѕаkit yg tеrаmаt ѕаngаt di ѕеlаngkаngаnku.

     

    “аасссссhh, Raymond.., ара yg kаu lаkukаn..”, tаnуаku. Tарi tеrlаmbаt, ternyata Raymond ѕudаh mеmаѕukkаn gagang kemaluannуа kе dalem kemaluanku, dаn ѕереrti tak mеndеngаrkаn реrtаnуааnku, Raymond mulаi mеngоyg gagang kemaluannуа nаik turun dalem kemaluanku yg ѕеmаkin bеrlеndir dаn mulаi tеrаѕа bаѕаh оlеh аlirаn dаrаh реrаwаnku yg mеngаlir mеmbаѕаhi kemaluanku.

     

    “Aсссhh…, Raymond…, аduuhh Raymond..”, еrаngku.

     

    Bаdаnku ѕеmаkin mеnggеlinjаng, kujерit bаdаn Raymond dgn kеduа kаkiku ѕеmеntаrа tаngаnku mеmеluk еrаt dаn mеnggоrеѕkаn kukuku di рunggung Raymond. Sеmаkin kеnсаng gоygаn kemaluan Raymond dаn ѕеmаkin kеrаѕ рulа еrаngаn kаmi bеrduа.

     

    “Aсссh…, аduhh..”

     

    Sampai аkhirnуа kurаѕаkаn ѕеѕuаtu yg ѕаngаt nikmаt yg tеrdоrоng dаri dalem…, dаn еrаngаn раnjаng aqu dаn Raymond, “ааhh”. Bеrѕаmааn ѕеmрrоtаn mаni Raymond dalem kemaluanku dаn ѕеmburаn lendirku yg mеnсiрtаkаn kеnikmаtаn yg tаk реrnаh kurаѕаkаn dаn kubаygkаn ѕеbеlumnуа.

     

    Raymond mеnаrik kеluаr kemaluannуа, lаlu bеrbаring di ѕаmрingku. Kаmi bеrduа ѕаling bеrtаtараn, ѕереrti аdа реnуеѕаlаn tеntаng ара yg sudah tеrjаdi, аkаn tеtарi ternyata gairah kаmi bеrduа lеbih kuаt lаgi. Kurаih kеmbаli dаn kudеkаtkаn wаjаhku kе wаjаh Raymond, kаmi lаlu bеrсiumаn lаgi dаn ѕаling mеlumаt, kеmudiаn kuреgаng еrаt kemaluan Raymond, sampai kеmbаli mеnеgаng dаn kеmbаli lаgi kаmi mеlаkukаn hubungаn bаdаn tеrѕеbut sampai bеbеrара kаli.

     

    Sampai hаri ini aqu dаn Raymond, bilа аdа kеѕеmраtаn mаѕih mеnсuri wаktu dаn tеmраt untuk mеlаkukаn hubungаn bаdаn, kerana mеngеjаr kеnikmаtаn yg tiаdа tаrаnуа, kаdаng di kаmаrku, di kаmаr Raymond, аtаuрun di dalem kаmаr mаndi. cerita mesum


    0 0


    cerita dewasa Malam itu aku dinner dengan clientku di sebuah cafe. Sebuah band tampil menghibur pengunjung cafe dengan musik jazz. Lagu “I’m Old Fashioned” dimainkan dengan cukup baik. Aku memperhatikan sang penyanyi. Seorang gadis berusia kira-kira 26 tahun. Suaranya memang sangat jazzy.

    Gadis ini wajahnya tidak terlalu cantik. Tingginya kurang lebih 160 cm/55 kg. Tubuhnya padat berisi. Ukuran payudaranya sekitar 36B. Kelebihannya adalah lesung pipitnya. Senyumnya manis dan matanya berbinar indah. Cukup seksi. Apalagi suaranya. Membuat telingaku fresh.

     

     

    “Para pengunjung sekalian.. Malam ini saya, Felicia bersama band akan menemani anda semua. Jika ada yang ingin bernyanyi bersama saya, mari.. saya persilakan. Atau jika ingin request lagu.. silakan”.

     

     

    Penyanyi yang ternyata bernama Felicia itu mulai menyapa pengunjung Cafe. Aku hanya tertarik mendengar suaranya. Percakapan dengan client menyita perhatianku. Sampai kemudian telingaku menangkap perubahan cara bermain dari sang keyboardist. Aku melihat ke arah band tersebut dan melihat Felicia ternyata bermain keyboard juga.

     

     

    Felicia bermain solo keyboard sambil menyanyikan lagu “All of Me”. Lagu Jazz yang sangat sederhana. Aku menikmati semua jenis musik dan berusaha mengerti semua jenis musik. Termasuk jazz yang memang ‘brain music’. Musik cerdas yang membuat otakku berpikir setiap mendengarnya.

     

     

    Felicia ternyata bermain sangat aman. Aku terkesima menemukan seorang penyanyi cafe yang mampu bermain keyboard dengan baik. Tiba-tiba aku menjadi sangat tertarik dengan Felicia. Aku menuliskan request laguku dan memberikannya melalui pelayan cafe tersebut.

     

    “The Boy From Ipanema, please.. And your cellular number. 081xx. From Boy.”, tulisku di kertas request sekaligus menuliskan nomor HP-ku. Aku melanjutkan percakapan dengan clientku dan tak lama kemudian aku mendengar suara Felicia.

     

     

    “The Boy From Ipanema.. Untuk Mr. Boy..?”

     

    Bahasa tubuh Felicia menunjukkan bahwa dia ingin tahu dimana aku duduk. Aku melambaikan tanganku dan tersenyum ke arahnya. Posisi dudukku tepat di depan band tersebut. Jadi, dengan jelas Felicia bisa melihatku. Kulihat Felicia membalas senyumku. Dia mulai memainkan keyboardnya.

     

     

    Sambil bermain dan bernyanyi, matanya menatapku. Aku pun menatapnya. Untuk menggodanya, aku mengedipkan mataku. Aku kembali berbicara dengan clientku. Tak lama kudengar suara Felicia menghilang dan berganti dengan suara penyanyi pria. Kulihat sekilas Felicia tidak nampak. Tit.. Tit.. Tit.. SMS di HP-ku berbunyi.

     

     

    “Felicia.” tampak pesan SMS di HP-ku. Wah.. Felicia meresponsku. Segera kutelepon dia.

     

    “Hai.. Aku Boy. Kau dimana, Felicia?”

     

    “Hi Boy. Aku di belakang. Ke kamar mandi. Kenapa ingin tahu HP-ku?”

     

     

    “Aku tertarik denganmu. Suaramu sexy.. Sesexy penampilanmu” kataku terus terang. Kudengar tawa ringan dari Felicia.

     

     

    “Rayuan ala Boy, nih?”

     

    “Lho.. Bukan rayuan kok. Tetapi pujian yang pantas buatmu yang memang sexy.. Oh ya, pulang dari cafe jam berapa? Aku antar pulang ya?”

     

     

    “Jam 24.00. Boleh. Tapi kulihat kau dengan temanmu?”

     

    “Oh.. dia clientku. Sebentar lagi dia pulang kok. Aku hanya mengantarnya sampai parkir mobil. Bagaimana?”

     

     

    “Okay.. Aku tunggu ya.”

     

    “Okay.. See you soon, sexy..”

     

    Aku melanjutkan sebentar percakapan dengan client dan kemudian mengantarkannya ke tempat parkir mobil. Setelah clientku pulang aku kembali ke cafe. Waktu masih menunjukkan pukul 23.30.

     

     

    Masih 30 menit lagi. Aku kembali duduk dan memesan hot tea. 30 menit aku habiskan dengan memandang Felicia yang menyanyi. Mataku terus menatap matanya sambil sesekali aku tersenyum. Kulihat Felicia dengan percaya diri membalas tatapanku. Gadis ini menarik hingga membuatku ingin mencumbunya.

     

    Dalam perjalanan mengantarkan Felicia pulang, aku sengaja menyalakan AC mobil cukup besar sehingga suhu dalam mobil dingin sekali. Felicia tampak menggigil.

     

     

    “Boy, AC-nya dikecilin yah?” tangan Felicia sambil meraih tombol AC untuk menaikkan suhu. Tanganku segera menahan tangannya. Kesempatan untuk memegang tangannya.

     

    “Jangan.. Udah dekat rumahmu kan? Aku tidak tahan panas. Suhu segini aku baru bisa. Kalau kamu naikkan, aku tidak tahan..” alasanku.

     

    Aku memang ingin membuat Felicia kedinginan. Kulihat Felicia bisa mengerti. Tangan kiriku masih memegang tangannya. Kuusap perlahan. Felicia diam saja.

     

     

    “Kugosok ya.. Biar hangat..” kataku datar. Aku memberinya stimuli ringan. Felica tersenyum. Dia tidak menolak.

     

     

    “Ya.. Boleh. Habis dingin banget. Oh ya, kamu suka jazz juga ya?”

     

    “Hampir semua musik aku suka. Oh ya, baru kali ini aku melihat penyanyi jazz wanita yang bisa bermain keyboard. Mainmu asyik lagi.”

     

    “Haha.. Ini malam pertama aku main keyboard sambil menyanyi.”

     

     

    “Oh ya? Tapi tidak terlihat canggung. Oh ya, kudengar tadi mainmu banyak memakai scale altered dominant ya?” aku kemudian memainkan tangan kiriku di tangannya seolah-olah aku bermain piano.

     

     

    “What a Boy! Kamu tahu jazz scale juga? Kamu bisa main piano yah?” Felicia tampak terkejut. Mukanya terlihat penasaran.

     

     

    “Yah, dulu main klasik. Lalu tertarik jazz. Belum mahir kok.” Aku berhenti di depan rumah Felicia.

     

    “Tinggal dengan siapa?” tanyaku ketika kami masuk ke rumahnya. Ya, aku menerima ajakannya untuk masuk sebentar walaupun ini sudah hampir jam 1 pagi.

     

     

    “Aku kontrak rumah ini dengan beberapa temanku sesama penyanyi cafe. Lainnya belum pulang semua. Mungkin sekalian kencan dengan pacarnya.”

     

     

    Felicia masuk kamarnya untuk mengganti baju. Aku tidak mendengar suara pintu kamar dikunci.

     

    Wah, kebetulan. Atau Felicia memang memancingku? Aku segera berdiri dan nekat membuka pintu kamarnya. Benar! Felicia berdiri hanya dengan bra dan celana dalam. Di tangannya ada sebuah kaos.

     

     

    Kukira Felicia akan berteriak terkejut atau marah. Ternyata tidak. Dengan santai dia tersenyum.

     

     

    “Maaf.. Aku mau tanya kamar mandi dimana?” tanyaku mencari alasan. Justru aku yang gugup melihat pemandangan indah di depanku.

     

    “Di kamarku ada kamar mandinya kok. Masuk aja.”

     

     

    Wah.. Lampu hijau nih. Di kamarnya aku melihat ada sebuah keyboard. Aku tidak jadi ke kamar mandi malah memainkan keyboardnya. Aku memainkan lagu “Body and Soul” sambil menyanyi lembut. Suaraku biasa saja juga permainanku. Tapi aku yakin Felicia akan tertarik. Beberapa kali aku membuat kesalahan yang kusengaja. Aku ingin melihat reaksi Felicia.

     

    “Salah tuh mainnya.” komentar Felicia. Dia ikut bernyanyi.

     

     

    “Ajarin dong..” kataku.

     

    Dengan segera Felicia mengajariku memainkan keyboardnya. Aku duduk sedangkan Felicia berdiri membelakangiku. Dengan posisi seperti memelukku dari belakang, dia menunjukkan sekilas notasi yang benar. Aku bisa merasakan nafasnya di leherku. Wah.. Sudah jam 1 pagi. Aku menimbang-nimbang apa yang harus aku lakukan. Aku memalingkan mukaku. Kini mukaku dan Felicia saling bertatapan. Dekat sekali. Tanganku bergerak memeluk pinggangnya. Kalau ditolak, berarti dia tidak bermaksud apa-apa denganku. Jika dia diam saja, aku boleh melanjutkannya. Kemudian tangannya menepis halus tanganku. Kemudian dia berdiri. Aku ditolak.

     

     

    “Katanya mau ke kamar mandi?” tanyannya sambil tersenyum. Oh ya.. Aku melupakan alasanku membuka pintu kamarnya.

     

    “Oh ya..” aku berdiri.

     

     

    Ada rasa sesak di dadaku menerima penolakannya. Tapi aku tak menyerah. Segera kuraih tubuhnya dan kupeluk. Kemudian kuangkat ke kamar mandi!

     

     

    “Eh.. Eh, apa-apaan ini?” Felicia terkejut. Aku tertawa saja.

     

     

    Kubawa dia ke kamar mandi dan kusiram dengan air! Biarlah. Kalau mau marah ya aku terima saja.

     

     

    Yang jelas aku terus berusaha mendapatkannya. Ternyata Felicia malah tertawa. Dia membalas menyiramku dan kami sama-sama basah kuyup. Segera aku menyandarkannya ke dinding kamar mandi dan menciumnya!

     

     

    Felicia membalas ciumanku. Bibir kami saling memagut. Sungguh nikmat bercumbu di suhu dingin dan basah kuyup. Bibir kami saling berlomba memberikan kehangatan. Tanganku merain kaosnya dan membukanya. Kemudian bra dan celana pendeknya. Sementara Felicia juga membuka kaos dan celanaku. Kami sama-sama tinggal hanya memakai celana dalam. Sambil terus mencumbunya, tangan kananku meraba, meremas lembut dan merangsang payudaranya. Sementara tangan kiriku meremas bongkahan pantatnya dan sesekali menyelinap ke belahan pantatnya. Dari pantatnya aku bisa meraih vaginanya. Menggosok-gosoknya dengan jariku.

     

     

    “Agh..” kudengar rintihan Felicia. Nafasnya mulai memburu. Suaranya sexy sekali. Berat dan basah. Perlahan aku merasakan penisku ereksi.

     

     

    “Egh..” aku menahan nafas ketika kurasakan tangan Felicia menggenggam batang penisku dan meremasnya.

     

     

    Tak lama dia mengocok penisku hingga membuatku makin terangsang. Tubuh Felicia kuangkat dan kududukkan di bak air. Cukup sulit bercinta di kamar mandi. Licin dan tidak bisa berbaring. Sewaktu Felicia duduk, aku hanya bisa merangsang payudara dan mencumbunya. Sementara pantat dan vaginanya tidak bisa kuraih. Felicia tidak mau duduk. Dia berdiri lagi dan menciumi puting dadaku!

     

     

    Ternyata enak juga rasanya. Baru kali ini putingku dicium dan dijilat. Felicia cukup aktif. Tangannya tak pernah melepas penisku. Terus dikocok dan diremasnya. Sambil melakukannya, badannya bergoyang-goyang seakan-akan dia sedang menari dan menikmati musik. Merasa terganggu dengan celana dalam, aku melepasnya dan juga melepas celana dalam Felicia. Kami bercumbu kembali.

     

    Lidahku menekan lidahnya. Kami saling menjilat dan menghisap.

     

     

    Rintihan kecil dan desahan nafas kami saling bergantian membuat alunan musik birahi di kamar mandi. Suhu yang dingin membuat kami saling merapat mencari kehangatan. Ada sensasi yang berbeda bercinta ketika dalam keadaan basah. Waktu bercumbu, ada rasa ‘air’ yang membuat ciuman berbeda rasanya dari biasanya.

     

     

    Aku menyalakan shower dan kemudian di bawah air yang mengucur dari shower, kami semakin hangat merapat dan saling merangsang. Aliran air yang membasahi rambut, wajah dan seluruh tubuh, membuat tubuh kami makin panas. Makin bergairah. Kedua tanganku meraih pantatnya dan kuremas agak keras, sementara bibirku melumat makin ganas bibir Felicia. Sesekali Felicia menggigit bibirku.

     

    Perlahan tanganku merayap naik sambil memijat ringan pinggang, punggung dan bahu Felicia. Dari bahasa tubuhnya, Felicia sangat menikmati pijatanku.

     

     

    “Ogh.. Its nice, Boy.. Och..” Felicia mengerang.

     

    Lidahku mulai menjilati telinganya. Felicia menggelinjang geli. Tangannya ikut meremas pantatku.

     

     

    Aku merasakan payudara Felicia makin tegang. Payudara dan putingnya terlihat begitu seksi.

     

    Menantang dengan puting yang menonjol coklat kemerahan.

     

     

    “Payudaramu seksi sekali, Felicia.. Ingin kumakan rasanya..” candaku sambil tertawa ringan. Felicia memainkan bola matanya dengan genit.

     

     

    “Makan aja kalo suka..” bisiknya di telingaku.

     

    “Enak lho..” sambungnya sambil menjilat telingaku. Ugh.. Darahku berdesir. Perlahan ujung lidahku mendekati putingnya. Aku menjilatnya persis di ujung putingnya.

     

    “Ergh..” desah Felicia. Caraku menjilatnya lah yang membuatnya mengerang.

     

    Mulai dari ujung lidah sampai akhirnya dengan seluruh lidahku, aku menjilatnya. Kemudian aku menghisapnya dengan lembut, agak kuat dan akhirnya kuat. Tak lama kemudian Felicia kemudian membuka kakinya dan membimbing penisku memasuki vaginanya.

     

     

    “Ough.. Enak.. Ayo, Boy” Felicia memintaku mulai beraksi.

     

     

    Penisku perlahan menembus vaginanya. Aku mulai mengocoknya. Maju-mundur, berputar, Sambil bibir kami saling melumat. Aku berusaha keras membuatnya merasakan kenikmatan. Felicia dengan terampil mengikuti tempo kocokanku. Kamu bekerja sama dengan harmonis saling memberi dan mendapatkan kenikmatan. Vaginanya masih rapat sekali. Mirip dengan Ria. Apakah begini rasanya perawan? Entahlah. Aku belum pernah bercinta dengan perawan, kecuali dengan Ria yang selaput daranya tembus oleh jari pacarnya.

     

    “Agh.. Agh..” Felicia mengerang keras. Lama kelamaan suaranya makin keras.

     

     

    “Come on, Boy.. Fuck me..” ceracaunya.

     

    Rupanya Felicia adalah tipe wanita yang bersuara keras ketika bercinta. Bagiku menyenangkan juga mendengar suaranya. Membuatku terpacu lebih hebat

    menghunjamkan penisku. Lama-lama tempoku makin cepat. Beberapa saat kemudian aku berhenti. Mengatur nafas dan mengubah posisi kami.

     

     

    Felicia menungging dan aku ‘menyerangnya’ dari belakang. Doggy style. Kulihat payudara Felicia sedikit terayun-ayun. Seksi sekali. Dengan usil jariku meraba anusnya, kemudian memasukkan jariku.

     

     

    “Hey.. Perih tau!” teriak Felicia. Aku tertawa.

     

    “Sorry.. Kupikir enak rasanya..” Aku menghentikan memasukkan jari ke anusnya tetapi tetap bermain-main di sekitar anusnya hingga membuatnya geli.

     

     

    Cukup lama kami berpacu dalam birahi. Aku merasakan saat-saat orgasmeku hampir tiba. Aku berusaha keras mengatur ritme dan nafasku.

     

     

    “Aku mau nyampe, Felicia..”

     

    “Keluarin di dalam aja. Udah lama aku tidak merasakan semburan cairan pria” Aku agak terhenti. Gila, keluarin di dalam. Kalau hamil gimana, pikirku.

     

     

    “Aman, Boy. Aku ada obat anti hamil kok..” Felicia meyakinkanku. Aku yang tidak yakin. Tapi masa bodoh ah. Dia yang menjamin, kan? Kukocok lagi dengan gencar. Felicia berteriak makin keras.

     

     

    “Yes.. Aku juga hampir sampe, Boy.. come on.. come on.. oh yeah..”

     

     

    Saat-saat itu makin dekat.. Aku mengejarnya. Kenikmatan tiada tara. Membuat saraf-saraf penisku kegirangan. Srr.. Srr..

     

     

    “Aku orgasme. Sesaat kemudian kurasakan tubuh Felicia makin bergetar hebat. Aku berusaha keras menahan ereksiku. Tubuhku terkejang-kejang mengalami puncak kenikmatan.

     

    “Aarrgghh.. Yeeaahh..” Felicia menyusulku orgasme.

     

     

    Dia menjerit kuat sekali kemudian membalikkan badannya dan memelukku. Kami kemudian bercumbu lagi. Saatnya after orgasm service. Tanganku memijat tubuhnya, memijat kepalanya dan mencumbu hidung, pipi, leher, payudara dan kemudian perutnya. Aku membuatnya kegelian ketika hidungku bermain-main di perutnya. Kemudian kuangkat dia.

    Mengambil handuk dan mengeringkan tubuh kami berdua. Sambil terus mencuri-curi ciuman dan rabaan, kami saling menggosok tubuh kami. Dengan tubuh telanjang aku mengangkatnya ke tempat tidur, membaringkannya dan kembali menciumnya. Felicia tersenyum puas. Matanya berbinar-binar.

     

     

    “Thanks Boy.. Sudah lama sekali aku tidak bercinta. Kamu berhasil memuaskanku..”

     

    Pujian yang tulus. Aku tersenyum. Aku merasa belum hebat bercinta. Aku hanya berusaha melayani setiap wanita yang bercinta denganku. Memperhatikan kebutuhannya.

     

     

    Aku sangat terkejut ketika tiba-tiba pintu kamar terbuka. Sial, kami tadi lupa mengunci pintu!! Seorang wanita muncul. Aku tidak sempat lagi menutupi tubuh telanjangku.

     

     

    “Ups.. Gak usah terkejut. Dari tadi aku udah dengar teriakan Felicia. Tadi malah sudah mengintip kalian di kamar mandi..” kata wanita itu. Aku kecolongan. Tapi apa boleh buat. Biarkan saja. Kulihat Felicia tertawa.

     

    “Kenalin, dia Gladys. Mbak.. Dia Boy.” aku menganggukkan kepalaku padanya.

     

    “Hi Gladys..” sapaku.

     

     

    Kemudian aku berdiri. Dengan penis lemas terayun aku mencari kaos dan celana pendek Felicia dan memakainya. Gladys masuk ke kamar. Busyet, ni anak tenang sekali, Pikirku. Sudah jam 2 pagi. Aku harus pulang. cerita dewasa


    0 0


    cerita dewasa Cerita ini berawal pada saat kami baru pindah mengisi rumah baru di Bogor. Pada saat itu kami baru mengisi rumah kurang lebih 1 bulan istri saya mengeluh kesepian karena rumah sekitar kami masih banyak yang kosong dan harus mengurus 2 anak lelaki kami yang memang sedang bandel-bandelnya. Maka kami pun sepakat untuk mencari saudara/pembantu untuk menemani istri saya di rumah serta membantu menjaga kedua anak kami dan akhirnya istri saya pun berangkat ke kampung halamannya untuk mencari saudara/pembantu di kampungnya yang bisa menemani dia.

    Singkat cerita akhirnya dapatlah saudara jauh dari istri saya yang bisa di ajak ke rumah baru kami tersebut, memang sih saudara jauhnya tersebut cukup manis dan sangat lugu sekali, maklum orang dusun dan baru pertama kali keluar dari kampungnya sendiri dan langsung dibawa ke tempat yang cukup jauh dari lingkungan rumahnya, tapi kalau masalah pekerjaan memang sudah cukup lihai dari yang namanya mencuci pakaian, mencuci piring, masak, ngepel dan lainnya sudah boleh disebut rapih deh.

     

     

    Awalnya saya tidak ada perasaan apa-apa sama si Rani ini, tapi setelah waktu berjalan kira-kira 2 bulan Si Rani ini bergabung di rumah kami, barulah terlihat kalau anak ini sedang lagi seger-segernya dan baru mau gede, maklum umurnya waktu itu masih 18 tahunan dan kalau saya perhatikan setiap gaji yang kami kasih ke dia selalu dibelikan segala macam keperluan pribadi (kosmetik dll) dan karena dia suka bersolek diri maka setelah 2 bulan itu dia sudah mulai kelihatan lebih dewasa dan lebih bersih dibandingkan waktu pertama kali datang dari kampungnya di Ciamis.

     

     

    Suatu hari (kalau tidak salah waktu itu hari Sabtu) Saya kerja setengah hari, jadi waktu sampai di rumah itu kurang lebih sekitar Jam 2 siang dan pada saat saya masuk ke dalam ternyata tidak ada suara yang menjawab, maka saya pun mencoba mencari orang rumah. Dan ternyata yang ada hanya hanya Rani saja yang sedang tidur di kamarnya yang tidak terkunci, dan pada saat itulah baru pertama kalinya saya melihat dia dalam keadaan sedang tidur dengan hanya menggunakan daster pemberian dari istri saya dan pada saat itu dasternya pun tersingkap sampai di atas pinggang. Wow… suatu pemandangan yang cukup menggoda untuk dinikmati, maka pada saat itulah timbul pikiran kotor saya untuk mencoba meraba bagian yang tersingkap tersebut.

     

     

    Secara perlahan saya dekati dia yang masih tertidur lelap di atas kasur gulung yang kami sediakan untuknya, lalu tanpa ada kesulitan apapun saya sudah mulai mengusap bagian kaki, lalu naik ke bagian pahanya yang hitam manis itu dengan perlahan dan lembut, sampai saking asyiknya saya mengelus-elus bagian itu secara tidak sadar penis saya dibalik celana mulai mengencang, dan karena karena ini juga akal sehat saya sudah mulai hilang karena rabaan-rabaan tangan ini sudah mulai menjalar ke bagian dadanya yang baru mulai merekah. Memang sih saya cuma meraba dari luarnya saja, tapi bisa dibayangkan betapa indahnya bagian dalamnya kalau dibuka.

     

     

    Tapi rabaan itu saya stop karena si Rani menggeliat yang mebuat saya kaget dan langsung lari meninggalkan kamarnya. Dan tidak lama saya keluar dari kamarnya Rani, istri, anak dan mertua saya datang habis makan Bakso bang yang ada di seberang komplek kami.

     

     

    Setelah kejadian hari itu saya selalu mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan untuk menikmati yang indah-indah dari si Rani tersebut, bahkan pada suatu hari waktu saya mendapatkan uang sampingan dari salah satu kolega kerja, saya coba membelikan dia baju tidur terusan, celana dalam, dan bh yang semua warnanya pink yang di bungkus Koran supaya istri gak curiga. Dan di dalamnya saya kasih sedikit tulisan yang bunyinya: “dipake ya Ran, supaya kamu makin betah disini dan jangan sampe ketahuan si ibu”

     

     

    Rupanya pemberian saya itu tidak ditolak dan Rani pun langsung ngucapin terima kasih. Dan rupanya pancingan saya itu berhasil, kenapa saya bilang berhasil? Karena si Rani ini rupanya agak sedikit kasih angin ke saya dimana ada kesempatan selalu berlagak genit & manja, dan kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk selalu curi-curi kesempatan. Pernah suatu kali saya bercandain dia di dapur,

     

     

    “Ran.. kamu tambah manis aja deh… Kamu udah punya pacar apa belum?” tanya saya ke dia sambil saya colek bokongnya yang padet itu.

     

    Dia pun menjawab tanpa beban dan manja, “Belum sih Pak, tapi kayaknya sih mau dapet nih. Abis udah ngasih Rani baju segala sih”

     

    Nah… sejak kejadian di dapur itu saya pun semakin berani.

     

     

    Akhirnya kesempatan yang saya tunggu-tunggu datang juga, waktu itu anak-anak saya sudah mulai masuk liburan sekolah dan mereka minta diantar ke rumah neneknya di Bogor, dan kami pun (saya, istri & anak)berangkat ke Bogor untuk liburan sekolah dan karena saya harus tetap bekerja maka saya hanya menginap satu malam saja di Bogor untuk kemudian kembali ke rumah pada hari Minggu sorenya. Perjalanan Bogor - Bandung terasa sangat lama sekali karena macet, juga banyak bus-bus pariwisata yang melintas di jalur itu untuk mengantar-jemput orang-orang yang sedang liburan sekolah.

     

     

    Walaupun agak kesel dan capek akhirnya sampai juga ke rumah pada malam hari sekitar jam 7 malam. Sesampainya di depan rumah saya bunyikan klaskon mobil supaya si Rani membukakan pintu pagar, dan tidak lama kemudian dia keluar dengan memakai daster yang saya belikan dan dimata saya malam itu si Rani nampak lebih seger. Pada saat mobil sudah saya parkir di dalam teras rumah saya mencium bau wangi, sepertinya ini bau parfumnya Rani.

     

     

    Singkat cerita saya pun sudah selesai membersihkan badan dan menuju ke meja makan untuk menyantap makan malam yang telah disiapkan sama si Rani, saya pun menyantapnya dengan penuh semangat, maklum lapeeer.

     

     

     

    Selesai makan saya istirahat di ruang keluarga untuk nonton acara tv. Sedang asyik-asyiknya saya nonton, datanglah otak mesum saya untuk memancing si Rani, dan saya pun atur strategi untuk minta tolong dipijat sama si Rani, maka saya panggillah dia,

     

     

    “Ran.. tolong kesini”

     

    “”Iya pak” jawabnya.

     

    “Tolong pijitin pundak saya dong… kamu bisa kan?” Tanya saya sambil pura-pura cuek.

     

    Dia pun menjawab, “Iya pak, bisa.. Dipijitnya mau pakai minyak apa.?” tanyanya.

     

     

    “Kalau bisa sih pakai minyak kayu putih campur minyak goreng aja” jawab saya dengan santai.

     

    Maka dia pun berjalan ke kotak obat untuk mengambil minyak kayu putih, terus ngeluyur ke dapur untuk ambil minyak goreng. Setelah itu dia mendekati saya dan bertanya,

     

     

    “Mau dipijit dimana pak?”

     

    “Disini saja (Diruang keluarga)” jawab saya.

     

    “Tapi tolong diperiksa dulu pintunya udah ditutup apa belum” kata saya ke dia dan diapun memeriksanya.

     

    “Sudah pak” jawab Rani.

     

     

    Saya pun sudah tengkurap di depan tv seperti orang yang sudah siap untuk dipijat. Si Rani juga sudah siap memijat di belakang saya. Pada saat dia mulai membalur minyak-minyak tersebut di badan sudah mulai terasa darah ini naik tapi masih tetap saya tahan, dan ternyata tangan si hitam manis ini memang bisa diandalkan untuk memijat, tapi disamping itu saya coba curi-curi pandang ke wajahnya yang manis itu dan wangi parfumnya itu masih saja tercium di hidung saya sampai-sampai si otong saya sudah mulai naik menegang. Tapi untuk memecah keheningan saya coba ngobrol sama dia ngalor-ngidul sampai akhirnya tertuju kepada dia yang masih belum punya pacar.

     

     

    Disinilah saya coba untuk agak berani memegang tangannya yang mungil itu dan dia pun tidak menolaknya, dia hanya bilang,

     

    “Jangan pak… nanti ada yang lihat”

     

    Tapi saya tidak peduli dengan omongannya, dan bahkan membuat saya semakin bersemangat.

     

    “Gak apa-apa kok Ran.. disinikan Cuma ada kamu sama saya aja.. kan si teteh lagi di Bogor”

     

    Birahi setan saya rupanya sudah tidak bisa terkendali lagi, maka saya pun langsung mencium jari-jarinya terus berlanjut ke tangannya terus keatas dan akhirnya saya cium bibirnya. Dia diam saja tanpa ada penolakan seperti waktu tadi pertama saya pegang tangannya. Maklum Orang belum pernah dicium sama cowok bibirnya agak gemetaran dan masih kaku. Saya pun coba membimbingnya dengan sabar sampai akhirnya dia mulai bisa mengimbangi serangan bibirnya. Saya masukkan lidah kedalam mulutnya dan saya permainkan sampai dia mulai benar-benar pasrah, bahkan dia mencoba membalas serangan bibir saya yang memiliki kumis tipis yang membuat semua mantan cewek-cewek saya dulu pasrah kalau sudah kena ciuman maut saya ini.

     

     

    Tidak hanya sampai disitu saja, setelah dia pasrah maka saya pun sudah mulai berani lagi bergerilya di kedua bukit kembarnya yang masih sangat ranum. Dari luar dengan lemah lembut saya usap-usap berulang kali sampai terasa kalau putingnya sudah mulai menonjol karena birahinya yang naik, dan karena dia makin pasrah saya pun serang dia lagi ke bagian lehernya saya cium dengan penuh nafsu sampai dia mulai tersengal-sengal nafasnya menahan gejolak jiwa. Tidak hanya disitu, saya pun sudah memasukkan tangan saya ke balik BH-nya yang berukuran 34, dan dia pun membiarkannya.

     

     

    Tangan saya pun mulai bergerilya lagi, mengangkat daster yang dipakainya sampai hanya tersisa BH & CD yang berwarna pink, warna ini adalah warna Favorit saya dan selalu membuat saya bernafsu kalau cewek memakai pakaian dalam dengan warna ini. Tanpa buang-buang waktu lagi saya langsung mengusap vaginanya dari luar CD-nya yang sudah mulai basah. Saya putar-putar terus berulang kali, sampai-sampai keluarlah omongan dari mulut si Rani,

     

     

    “Pak... ampun.. Pak… Rani gak tahan… geli banget… ooh… ooh… ooh… ampun Pak… ooohh…”

     

    Saya bukannya kasihan tapi malah makin bernafsu aja. Saya turunkan cdnya sampai terlihatlah memek perawan yang sudah basah oleh cairan kenikmatan itu, dan tanpa ampun lagi saya mengobel-ngobel memeknya dengan penuh perasaan dan kelembutan sampai akhirnya kepala Rani bergerak tidak beraturan kekiri kekanan sampai meracau.

     

     

    “Aaah… Pak… aahhh pak… Rani kok mau pipis nih… aah…”

     

     

    Jari ini malah semakin gencar memainkannya sambil berkata ke Rani,

     

    “Tenang Ran… kamu pipisin aja biar enak…”

     

    Dan tidak lama kemudian dia pun mengeluarkan cairan keninkmatan, seerrr… seerrrr… seerrr… dengan derasnya membasahi jari-jari saya sambil mengapitkan kedua belah pahanya sampai-sampai tangan saya tidak bisa ditarik, berada diantara kedua pahanya yang hitam manis.

     

     

    Rani terpejam setelah merasakan kenikmatan yang tidak ada duanya keluar dari vagina perawannya. Saya pun tidak tinggal diam saja melihat kepasrahannya, maka dengan cekatannya saya melumat kembali bibirnya sambil mengusap-usap dua bukit kembarnya yang sudah tanpa BH lagi. Tidak lama saya menikmati bibirnya lalu turun ke leher dan terus saya sapu dengan lidah menuju ke bukit kembarnya, dia pun sudah pasrah tanpa daya ketika bibir saya mulai melumat putingnya yang masih ranum dan mulai mengeras karena terangsang oleh permainan bibir yang berkumis tipis ini. Dia hanya meracau.

     

     

    “Pak… jangan Pak… saya takut ada yang lihat… aaah… ooh… aah.. ohh…”

     

    “Tenang aja Ran, teteh ga ada kok… Aduh Ran… nikmat banget susu kamu… segeerrr”

     

    Saya dengan nafsunya melumat payudara si Rani, saya permainkan lidah saya ini diatas pentilnya beberapa kali, dan sedikit saya gigit kecil, dia pun menjerit manja.

     

     

    “Ooohh… aah… ampun Pak… Rani gak tahan mau pipis lagi… aaaahhh…”

     

    Saya pun semakin ganas memainkan lidah saya mengemut bak anak yang lagi nenen sama ibunya dan Rani pun semakin tidak karuan gerakannya, dan akhirnya dia orgasme untuk yang kedua kalinya sambil berkata,

     

     

    “Aaahh… ahh… Rani mau… pipis… lagi… aah…aaahhh… enak…”

     

     

    Puas juga rasanya sudah bikin perawan kampung meerasakan kenikmatan yang luar biasa, maka tanpa pikir panjang lagi saya buka CD yang dari tadi sudah keras torpedo di dalamnya, dan menyodorkannya ke mulut dia yang lagi digigit sambil meerasakan sisa-sisa kenikmatan. Memang sih dia agak kaget,

     

    “Iiiii… ini apaan pak kok di deketin ke mulut Rani…???” kata Rani.

     

     

    “Tenang Ran, coba kamu jilatin aja nanti juga kamu bisa ngerasain enaknya…” rayu saya ke dia.

     

     

    “Ah enggak ah... Rani takut pak”

     

    Akhirnya saya paksakan untuk dikulum kemulutnya sambil saya bilang,

     

    “Kamu harus coba dulu… anggap aja kamu makan es krim, caranya kamu jilatin dulu ujungnya, terus kamu sedot-sedot, terus kamu kulum pake lidah…” dan diapun mau juga mencobanya walaupun agak jijik juga ragu.

     

    Awalnya memang agak kasar dia memainkannya, tapi saya coba sambil mengusap-usap rambutnya yang hitam terus turun ke lehernya untuk merangsang dia. Dan ternyata berhasil, dia pun mulai bisa memainkannya.

     

     

    “Rani… terus diisap… terus… enaaak Ran, mainin lidahnya… Ran… terus… keluar masukin dari mulut kamu…”

     

    “Wow… enaakkk banget… kamu mulai pinter nih…” puji saya ke dia.

     

     

    Saya sudah mulai terangsang dengan permainannya, saya dorong dia ke ujung sofa dan saya coba mencari selangkangannya. Setelah saya dapatkan, maka saya mencari memek perawan yang ada diantara kedua selangkangannya, lalu saya jilatin dengan penuh nafsu. Dia agak kaget juga waktu saya mulai menjilati memeknya yang sudah basah dari tadi dan sempat menolak.

     

     

    “Pak… jangan Pak… Rani malu… tadi kan abis kencing, nanti bau lho…” katanya sambil meracau.

     

     

    “Ooh… aah… ooh... aah… Pak jangan…” katanya sambil menutupi memeknya dengan kedua pahanya yang hitam manis, dan dengan sedikit paksaan saya buka pahanya lalu menyerangnya lagi dengan jilatan-jilatan kenikmatan.

     

    “Ooh… oh… aachh…” desahnya.

     

     

    Saya masukkan lidah saya kedalam memeknya dan tampak jelas klitorisnya yang memerah serta tercium bau khas memek perawan kampung yang membuat siapapun yang menciumnya pengen ngerasain juga. Dan setelah saya terus memainkannya dia pun akhirnya pasrah dan tidak ada lagi penolakan, bahkan dia makin pintar lagi memainkan penis saya didalam mulutnya. Permainan 69 sembilan itu berjalan sekitar 15 menit sampai akhirnya kedua pahanya menjepit kepala saya sebagai tanda kalau dia mau keluar lagi, dan saya bilang ke dia,

     

     

    “Rani… ooh… tolong jangan dikeluarin dulu… honey… please…”

     

     

    Tapi rupanya dia sudah gak tahan lagi, maka keluarlah cairan kenikmatan itu lagi, dan…

     

    “Aaachh… Rani… pipis lagi… nih… Pak… Bapak nakal sih…”

     

     

    Terlihat di wajahnya yang memerah karena menikmatinya dan karena dia sudah keluar untuk ke 3 kalinya sedangkan saya belum keluar, maka saya paksa dia untuk mengulum penis saya dengan segala kemampuannya. Dan setelah berjalan sekitar 5 menit dimainkan oleh bibir mungilnya itu, akhirnya saya pun hampir sampai keluar dan sengaja saya tidak bilang ke Rani kalau saya mau keluar.

     

     

    “Ooh… ohh… enaaak… Ran… kamu sudah pinter… ooohh… enak banget”

     

    Dan akhirnya… crooott… croottt… croottt…

    muncrat juga sperma dari penis saya yang ada dalam mulutnya, dan pada saat keluar itu saya tahan kepalanya Rani supaya tetap mengulum penis saya, dan alhasil dia pun menelan semua sperma yang keluar bahkan sampai keluar luber dari mulutnya. Dia hanya diam dan menatap saya dengan sendu sambil berkata,

     

     

    “Eeeh... bapak jahat sama Rani… kok ga dibilangin kalo mau pipis… Rani jadi minum air pipis bapak nih…”

     

     

    Dasar perawan kampung, dengan polosnya dia tanya ke saya,

     

    “Pak… kok air pipisnya kentel yah… trus agak asin lagi… Rani takut pak…”

     

     

    Dasar perawan kampung pake tanya segala lagi, gerutu saya dalam hati. Setelah saya keluar saya minta Rani untuk membersihkannya dan dia saya ajak ke kamar mandi untuk sama-sama membersihkannya di kamar mandi yang ada di kamar saya dan dia pun saya gandeng ke kamar dengan sama-sama kami telanjang bulat.

     

    Hobisex69 - Setelah kami saling membersihkan badan di kamar mandi dalam kamar saya, saya gandeng dia untuk sama-sama berdiri didepan kaca lemari pakaian yang cukup tinggi agar dia bisa lihat saya dan dia sedang berbugil ria dan sambil saya dekap dia dengan mesranya dengan diiringi rabaan-rabaan nakal tangan saya ke bukit kembarnya yang masih segeeer juga ranum, sedangkan tangan saya yang satunya coba mengobel memeknya dengan lembut. Hal ini sengaja saya lakukan agar dia bisa saya ajak lebih lanjut lagi.

     

     

    Ternyata siasat saya membuahkan hasil, dia menggeliat keenakan pentil susunya diusap-usap dan lehernya saya kecup-kecup kecil sambil sesekali saya jilat dengan lidah saya. Siasat itu terus saya jalankan sambil kecupan saya ke sekujur tubuhnya sampai saya berada tepat di bukit kembarnya dan saya ledek dia bak anak kecil yang pengen nenen ke ibunya,

     

    “Say… aku mau nenen dong.. aku haus nih…” tanpa ragu saya serang bukit kembarnya dan dia diam saja sambil meracau.

     

     

    “Aaahh… ooh... aahhh… enaaaak Pak… gelii… kena kumis bapak… Rani gak kuat berdiri nih…”

     

    Dengan perlahan tapi pasti saya ajak dia untuk ditelentangin di atas springbed, dan tanpa susah payah dia pun sudah pasrah telentang tanpa sehelai benagpun di atasnya. Saya mulai dengan menciumi memeknya yang masih perawan itu sambil saya jilati dengan lidah yang pengalaman ini. Baru juga berselang 5 menit saya mainkan lidah saya si Rani sudah mulai basah dan melenguh,

     

     

    “Aachh… aach… oohhh… terusin Pak… enak banget jilatannya…”

     

     

    Tidak hanya di situ saja menjilatinya lidah ini terus menelusuri ke bagian duburnya dan diantara keduanya itulah saya pacu menjilatinya lagi.

     

     

    “Ooh… enak Pak.. aach… aaachh… eeh… Bapak jorok.. kok dubur Rani dijilatin juga… aaahh… tapi enaaaaakkkk… aaachh terusin… ooohh…”

     

    Karena melihat gelagat seperti itu, tangan saya pun mulai bergerilya ke bagian bukit kembarnya untuk diusap-usap, dan tanpa diduga-duga dia menarik paksa torpedo saya untuk dikulum lagi dengan buasnya. Rupanya dia sudah bener-bener horny, dan sekarang dia sudah tidak ragu-ragu & malu-malu lagi untuk mengulumnya.

     

    Serangan itu terus berlangsung sekitar 20 menitan sampai akhirnya dia terkulai lemas sambil berkata,

     

     

    “Aaaah… aahh… Rani mau pipis lagi nih… ooh pak awas nanti kena pipis Rani… aaahh…” dan keluarlah semua yang ada di dalamnya.

     

    Saya benar-benar sudah konak banget ngeliat dia seperti itu dan tanpa tunggu-tunggu lagi dan buang-buang waktu lagi saya pun langsung memantapkan posisi torpedo pas di depan memek perawan kampung itu. Dengan lemah lembut saya bimbing torpedo saya memasuki lubang kenikmatan itu sambil bibir ini terus menciumi dan mengisap kedua bukit kembarnya si Rani, dan karena sudah terbuai kenikmatan dia pun tidak ada perlawanan yang berarti sampai pada saat saya akan memasukan torpedo saya, dia meracau

     

     

    “Pak… jangan pak… jangan… nanti… aachh… aduuhh… sakiiiitt…”

     

    “Tenang aja sayang… sakitnya cuma sebentar kok.. nanti pasti enak…”

     

     

    Sedikit demi sediki penis saya memasuki memeknya dan dengan berirama saya ayun maju mundur maju mundur berulang kali sampai akhirnya Rani tidak bersuara lagi, bahkan dia sudah mulai menikmati irama birahi kami.

     

     

    “Ooh… memek kamu masih perawan sayang... ooh… enak banget… sempit bangeett… Rani… oohhh… enak…”

     

     

    Rani mulai mengimbangi permainan saya, saya tarik pelan-pelan penis saya, terus itu keluar masuk beberapa kali.

     

    “Ooh.. Pak.. enak Pak.. terus.. pak… genjotin oh.. oh.. oh.. ach… aachh…”

     

     

    Tanpa sadar dia sudah mulai menggoyang pantatnya kekiri kekanan, saya makin semangat melihat goyangan perawan kampung ini apalagi melihat susunya yang turun naik terdorong gerakan badannya yang erotis, medadak saya cabut kontol ini dari sarangnya dan Rani berteriak,

     

     

    “Oooh… jangan dicabut.. oohh lagi enaaak… niiihhh…”

     

     

    Ini sengaja saya lakukan untuk memancing rasa penasarannya, dan ternyata berhasil. Dia langsung mendorong saya ke atas tempat tidur untuk merubah posisi agar dia berada di atas, dan dia langsung naik ke atas perut saya mengambil posisi yang pas untuk memasukan kontol ini ke dalam sarangnya. Setelah pas posisinya dia pun langsung bergoyang laksana kuda yang kehilangan kendali. Terdengar suara penis keluar masuk memek, preetttt… preetttt… dalam kondisi seperti itu saya pegang pantatnya agar gerakan erotisnya tambah berirama turun naiknya.

     

     

    Tepat diatas kepala saya terlihat indah dua buah bukit kembar yang bergelantungan seakan meminta untuk dilahap. Tanpa ragu-ragu lagi saya pun melahapnya dengan penuh gairah.

     

    “Oohh…csusu kamu enak banget Ran… terus goyang Ran…”

     

     

    Mulut saya memainkan lidahnya di kisaran puting susunya sementara dia terus bergoyang, dan akhirnya gerakan-gerakannya semakin cepat tanpa terkendali, sampai-sampai dia mencakar saya sambil berteriak.

     

     

    “Ooohh… Pak… Pak… saya mau.. mau pipis lagi… ooouchh.. aahhh…”

     

     

    Karena gerakannya yang semakin dahsyat saya pun menurun-naikkan pantat saya agar dia cepat keluar. Dan alhasil dia mengejang lalu terkulai jatuh di atas dada saya, sangat terasa air kehangatan yang keluar dari dalam memek itu mengguyur kontol yang masih berada di dalam sarangnya. Saya tidak mau kehilangan kesempatan yang enak itu hanya direnggut sama Rani saja. Setelah dia sampai, saya tarik kontol saya dari memeknya dan Rani saya suruh menungging untuk saya masukin lagi penis saya.

     

     

    Walaupun saya tahu dia masih belum hilang rasa nikmatnya dan setelah dia pada posisi saya masukan kontol ini ke memek perawan kampung itu dengan mudahnya, lalu saya gerakkan keluar masuk, dan karena memek itu masih basah bekas cairan kenikmatan yang keluar dari dalamnya maka gerakan itu bisa langsung pada yang inti yaitu tusukan panjang dan pendek. Dia pasrah, kontol saya keluar masuk dengan bebasnya dan antara pantat dengan pangkal kontol saya saling beradu.

     

    Permainan ini berlangsung sekitar 15 menitan, dan akhirnya saya pun hampir sampai ke klimaks yang saya tunggu-tunggu. Gerakan saya percepat, dan si Rani pun ikut bergoyang juga sampai akhirnya …

     

     

    “Rani… saya.. mau sampai.. nih… ooh… aah… terus goyang sayang… ooh… ooh… oooohh… croot… croot… crott… seeerrr…”

     

    “Oooh enak pak… jangan di cabut dulu kontolnya… ooohh.. enaaaaakkk… biarin aaajaah… dulu di dalem.. pak Rani lagi eenaaakkkk…please jangan dilepaaassss.. oh… oh…”

     

     

    Rupanya si Rani pun mencapai oragnsmenya untuk yang kesekian kalinya. Dia hanya terdiam dan kami pun lunglai berduaan diatas springbed telanjang bulat setelah bergelut dengan birahi selama kurang lebih 3 jam. Si Rani saya belai rambut hitamnya dengan mesra, saya cium pipinya dan saya kulum sebentar bibirnya, sebagi tanda terima kasih. Tidak terlihat di wajahnya rasa penyesalan sedikitpun, bahkan sepertinya dia mau mengulang lagi pertempuran malam itu.

     

     

    Maka sejak saat itu apabila ada kesempatan untuk ML sama dia selalu kami lakukan kapan saja dan dimana saja tidak mengenal tempat dan waktu, sampai akhirnya dia pulang ke kampunya karena dipanggil sama orangtuanya untuk kawin, dan sejak itu saya tidak pernah ketemu lagi sama dia. Oh… sungguh pengalaman yang sangat nikmat.

     

     

    Selamat jalan Rani, Perawan kampung yang manis. cerita dewasa


    0 0


    cerita sex Perkenalkan namaku Bayu, aku mempunyai seorang istri yang lumayan cantik. Rambut hitam panjang dan lurus, kulitnya putih mulus, matanya kecoklatan. Ukuran toketnya lumayan gede 36B. Aku pertama kali jatuh cinta sama istriku gara-gara kepencut sama toketnya.

    Tapi Dicerita ini, aku akan bercerita tentang adik istriku atau adikm iparku yang gak kalah mulus sama istriku. Namanya Ayu, umurnya 25tahun. Kalau dilihat dari bodynya sih hampir mirip tapi masih lebih montok adik iparku.

     

     

    Waktu itu aku pulang kerja agak malam. Istriku yang penakut mengajak adiknya untuk tidur di rumah kami untuk menemaninya (tapi itu tanpa sepengetahuanku). Aku sampai rumah pukul 23.00 WIB. Rasa penat dengan pekerjaan ditambah udara dingin buat aku horni berat. Aku langsung saja mandi. Pintu kamar mandi sengaja kubuka lebar dan aku menikmati air hangat untuk melepas lelahku. Karena aku sudah horni berat, aku memutuskan untuk ngocok kontolku. Tapi pada saat sedang asyik-asyiknya ngocok dan kontolku lagi tegang maksimal. Tiba-tiba.. Cerita Seks Dewasa

     

    Ayu : Lho mas Bayu sudah pulang…kog gak kedengeran suara mobilnya.

     

     

    Aku sangat kaget banget mendengar suara Ayu, spontan saja aku langsung balik badan.

     

    Aku : Ayu…kamu nginep sini ya?

     

     

    Ayu : Iya mas, mba Yuyun yang nyuruhku untuk nginep disini soalnya dia takut di rumah sendiri katanya mas pulang malem. Oya mas mandi kog pintunya gak ditutup sih…

     

     

    Aku : Maaf habisnya udah kebiasaan sih…lagian aku kira gak ada kamu

     

    Ayu : Oh…ih tuh burung mas goyang-goyang hahahaaa…

     

    Aku : Ini bukan burung lagi ini kontol namanya

     

    Ayu : Hahaaaa…habisnya lucu sih geleng-geleng kayak burung cari makan…hahahaaa

     

    Aku : Hahahaa…bisa aja kamu Yuk..oya tengah malem gini bangun mau ngapain?

     

    Ayu : Kebelet pipis mas…kan kamar mandinya cuma satu aja…minggir mas aku mau pipis dulu.

     

    Aku : Gak lihat apa aku mandi aja belum selesai…ya udah pipis di toilet aja.

     

    Ayu : Tapi mas, aku kalau pipis kebiasaan harus lepas celana biar gak basah

     

    Aku : Ya udah lepas aja gitu aja kog repot lagian aku juga gak ganggu pipismu kog.

     

    Ayu : Entar kamu lihat memek aku lagi…

     

    Aku : Kalau cuma memek setiap hari aku juga lihat memek kakak kamu dah biasa.

     

    Ayu : Kalau memekku beda mas,special edition, masih seret belum pernah dimasukin kontol bengkak kayak punyamu.

     

     

    Aku : Jelas aja kamu mainnya sama brondong yang kontolnya kecil hahahaaa..

     

    Dan karena sudah kebelet banget Ayu pun melepas celananya dan terlihatlah memek mungilnya. Aku pun melihatnya cara dia pipis.

     

    Aku : Jadi itu ya memek specialnya, Spesial empuk maksudnya.

     

     

    Ayu : Ih mas gangguin aja, tuh liat kontolmu yang keras kayak batang kayu. Kasian ya udah horni, tapi mbak Yuyunnya udah tidur, gak bisa tersalurkan akhirnya ngocok deh..hahahhaa…

     

     

    Aku : Dasar Ayu…

     

    Ayu : Mau Ayu bantuin mas?

     

    Aku : Bantuin apa?

     

    Ayu : Ya buat bantuin biar ketegangan dikontol mas reda…tapi jangan bilang sama mbak Yuyun ya mas….janji…

     

     

    Aku : Beres jangan khawatir…ayo Yuk buruan…keburu kakak kamu bangun.

     

    Dan tanpa disuruh tangan imut Ayu langsung meremas dan mengocok kontolku yang sudah sangat menegang.

     

     

    Ayu : Ukuran kontolmu gede juga ya mas, pantes mbak Yuyun hobi ngentot sama kamu mas. Bukanya dulu pas masih pacaran kamu pernah mengirim gambar kontolmu ke hp dia. Dia samapi kanget dan melempar Hpnya. Karena aku penasaran akhirnya aku mengambil Hpnya dan melihat gambar kontolmu. Dan sekarang gak nyangka kalau bakal megang langsung kontol kakak iparku sendiri.

     

    Hampir 10 menit Ayu mengocok kontolku, bukannya keluar tapi malah bikin kontolku makan tegang dan keras.

     

     

    Ayu : Lho mas, udah 10 menit aku mengocoknya bukanya keluar malah tambah besar dan keras kan jadi pegal tangaku.

     

    Aku : Kalau tanganmu pegal gantian aja pakai mulutmu.

     

     

    Ayu : Maksudmu aku suruh nyepong kontolmu gitu?

     

    Aku : Iyalah..biar cepet keluar dan kamu gak pegal lagi.

     

    Ayu : YA udah buruan siram dulu tuh kontolmu masih bnayak sabunnya

     

    Setelah kusiram air, Ayu pun langsung melahap kontolku dengan liarnya.

     

     

    Aku : Pinter juga kamu nyepong…kontoku rasanya nyut-nyutan Yuk… Enak banget deh…kamu pasti sering nyepong pacarmu ya?

     

    Ayu : Udah jangan banyak omong mas nikmatin aja. Emang aku dulu sering nyepong mantan-mantanku mas. Dan baru kali ini aku nyepong kontol yang usianya paling tua.

     

     

    Aku : Biarpun tua tapi besar dan mantab kan Yuk…hahahaha

     

    Ayu : Bisa ja kamu mas, udah ah diam jadi gak fokus nih nyepongnya

     

    10 menit sudah Ayu nyepongin kontolku tapi tetep aja aku belum bisa keluar.

     

    Ayu : Mas aku kog jadi horni gini ya…habisnya daritadi mainin kontolmu terus sih…memekku jadi basah deh.

     

     

    Aku : Coba sini aku pegang

     

     

    Aku langsung meraba memek Ayu dan ternyata benar memeknya sudah basah. Tanpa panjang lebar lagi langsung saja jari tengaku kumasukkan dalam lubang memeknya. Kukocok memeknya dan Ayu pun mendesah pelan.

     

     

    .Ayu : Ssthhhh..aaaahhh…enak banget mas…kocokanmu nikmat sekali…kocok terus maasss…aaaahhhh….aku mau keluar maaasss…

     

    Aku : Tahan dulu Yuk, aku yang daritadi aja belum keluar masa kamu yang gitu aja udah mau keluar.

     

     

    Ayu : Ya udah kalau gitu masukin ja kontolmu ke dalam lubang memekku…Aku juga horni berat nih mas…

     

     

    “Sleeeppp…bleeesss….” akhirnya kontolku masuk ke dalam lubang memek Ayu.

     

    Aku : Benar katamu Yuk…memekmu benar-benar spesial…spesial seret kayak masih perawan..aaahhh…

     

     

    Ayu : Hehehe…ternyata enakan sama kontol gede ya mas…aaahhh…genjot terus maaasss…aaahhh….aku mau keluar maasss…

     

    Aku : Kita keluarin bareng ya Yuuukk…keluarin dimana Yuk?

     

     

    Ayu : Diluar aja mass…takut hamil

     

    Aku dan Ayu : Aaahhhh…yeessss…ooohhh….. (kita berdua meraih orgasme bersamaan.

     

    Cairan spermaku pun berceceran diperut Ayu semua, setelah itu aku basuh spermaku yang menempel pada perutnya dan kucebokin memek Ayu

     

     

    Ayu : Enak banget mas, jadi ketagihan. Sekarang maunya sama kontol gede aja ga mau sama kontol kecil lagi…sini mas kubersihin kontolmu.

     

     

    Aku dan Ayu mandi bareng. Setelah selesai kami berdua berbenah. Aku langsung masuk ke kamar tidur di samping istriku, sedangkan Ayu masuk ke kamar sebelah.

     

     

    Aku jadi khilaf karena melihat memek adik iparku sendiri. Khilaf yang membawa kenikmatan. cerita sex


    0 0


    cerita bokep Mbak Diah adalah sosok wanita dari desa yang begitu cantik dan mempunyai bodi yang sangat mengigurkan. Mbak Diah ini sudah bekerja dirumahku lama sekali, kurang lebih 10 tahun. Mbak Diah juga sudah dianggap seperti keluarga sendiri karena ortuku juga sudah percaya padanya. Mbak Diah umurna masih muda 28 tahun Sementara umurku 22 tahun. Dan kali ini aku akan meneritakan bagaimana mbak Dia mengajariku tentang semua yang berhubungan dengan “sex”. Selain itu mbak Diah juga banyak mengajariku tentang bagamana agar bisa meuaskan seorang perempuan. Namun selum mendapatkan ajara dari mbak Diah, aku juga sedikit banyaktau dar video porno.

    Ceritaku ini terjadi bermula ketika kedua ortuku sedang pergi keluar kota untuk menengok keluarga ayahku yang kecelakaan dan terluka parah. Aku sempet mau ikut namun karena aku ada ujian jadilah aku dilarang oleh kedua ortuku. Karena diruma aku hanya anak satu-satunya maka jadilah sekaran dirumah hanya ada aku dan mbak Diah. Seketika itu juga melihat keadaan ang sepi, otak kotorku pun keluar, aku langsung berpikir bagaimana caranya untuk aku bisa enikmat tubuh mbak Diah sangat menggiurkan itu. Payudara yang sangat besar dan padat, bongkahan pantatnya membuat birahiku naik. Ingin sekali aku langsung memaksa mbak Diah, namun aku masih berpikir karena aku takut kalau aku dilaporkan pada kedua ortuku.

     

     

     

    Selama ujian berlangsung, aku gak bisa konsen dan hanya mbak Diah yang ada dipikirnku. Pikiranku terus melayang mebayangkan mbak tubuh molek mbak Diah telanjang dan aku menikmati setiap jengkal tubuhnya.

     

    Kubayangkan betapa nikmatnya memek mbak Diah saat kuentot dengan desahan-desahan yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya ujianku selesai danaku langsung pulang kerumah. Aku sangat bersemangat karena sampai dirumah aku bisa menikmati keseksian mbak Diah. Dan benar seperti yang kubayangkan, ketika aku sampai dirumah, kulihat pemandangan yang tak seperti biasanya. Kulihat mbak Diah memakai pakaian yang sangat ketat sekali hingga payudaranya sangat menonjol besar sekali dan seketika itu juga aku langsung bernafsu melihatnya.

     

     

     

    Ketika aku mau masuk kamar, mbak Diah-pun menyapaku,

     

     

     

    “Kenapa mas Bayu menundukkan kepalanya begitu”

     

    “Gak papa kok mbak” jawabk sambil tidak melihat mbak Diah

     

     

     

    Dan aku langsung pergi begitu saja meninggalkan mbak Diah yang sedang asik menonton TV. Sampai didalam kamar, aku masih terheran Dengan kemolekan tubuh mbak Diah yang sangat menggoda sekali. Kemudian aku-pun berimajinasi membayangkan kenikmatan menyetubuhi mbak Diah dan aku-pun langsung melampiaskan anganku Dengan menonton film porno lewat HP-ku. Dan tak kusangka aku menonton film porno Dengan volume yang tinggi hingga mbak Diah mendengarnya dan langsung mbak Diah nyamperin aku dikamarku dan menegurku,

     

     

     

    “Hayoooo…lagi nonton apa mas?? Suaranya terdengar sampai diluar lho mas”

     

    “Eeennngg…Ennggaak nonton apa-apa kok mbak” jawabku dengan wajah yang sudah memerah

     

    “Aaaahhh…mbak tau hlooo mas, Mas Bayu gak usah bohong deeh,, gak papa kok kan mas juga sudah besar, apa mau mbak temenin nontonnya??” tanya mbak Diah

     

     

     

    Mendengar pertanyaan mbak Diah-pun aku bingung mejawabnya hingaga aku terdiam dengan wajah yang tertunduk. Namun dilar dugaanku, setelah aku diam tak menjawab pertanyan mbak Diah, mbak DIah-pun langsung menuju sebelahku. Hatiku saat itu sangat deg-deg’an sekali, jantungku berdetak tak karuan dan,

     

     

     

    “Jangan malu-malu mas, mbak tau kok kalau setiap hari mas memperhatikan mbak, benar kan??” tanya mbak Diah dengan berbisik disebelahku

     

     

     

    “iiii…iiiiYhaaaa…kok mbak tau, pasti mbak juga memperhatikanku kan??” tanyaku balik

     

    “Sudah lama aku menantikan saat-saat seperti ini mas” ucap mbak Diah lirih disebelah kupingku persis, hingga wajah kami sekarang sudah berdekatan

     

     

     

    Mbak Diah menghadap wajahku saat kutatap wajahnya. Mata kami saling bertatapan. Kulihat Mbak Diah sepertinya senang dan menyukai apa yang kulakukan. Tanganku jadi lebih berani mengusap-usap lengannya lalu kedadanya. Kuusap dadanya yang kenyal menegang dengan putting yang mulai mengeras.

     

    Kudekatkan mulutku untuk mencium pipinya. Dia berpaling menyamping, kemudian kutarik lagi pipinya. Mulut kamipun bertemu. Dan aku mencium bibirnya.

     

     

     

    Inilah pertama kalinya aku melakukannya kepada seorang perempuan. Desahan halus keluar dari mulut Mbak Diah saat kedua tanganku meremas punggungnya dan lidahku mulai menjalari leher Mbak Diah. Ini semua akibat film porno yang sering kutonton. Mbak DIah bersandar kedinding, namun gak meronta. Sementara tanganku menyusup masuk kedalam bajunya, mulut dan lidahnya kukecup, kuhisap dan kugelitik langit-langit mulutnya. Kancing BH-nya kulepaskan. Hingga tanganku bisa bergerak bebas mengusap payudaranya. Putingnya kupegang dengan lembut. Kami sama-sama hanyut dibuai kenikmatan walaupun kami masih berdiri bersandar di dinding.

     

     

     

    Aku dan mbak DIah sangat terangsang tak karuan. Nafas kami semakin memburu. Aku merasa tubuh Mbak DIah menyandar kedadaku. Dia sepertinya pasrah. Kemudian baju daster Mbak Diah kubuka. Didalam cahaya remang dan hujan lebat itu, kutatap wajahnya. Matanya terpejam. Daging kenyal yang selama ini terbungkus rapi menghiasi dadanya dan kuremas perlahan. Bibirku mengecup putting susunya secara perlahan. Kuhisap putting susunya yang mengeras itu hingga memerah. Mbak Diah semakin gelisah dan nafasnya sudah gak teratur lagi. Tangannya liar menarik-narik rambutku, sedangkan aku tenggelam dicelah payudaranya yang membusung. Mulutnya mendesah-desah, “Ssshh…, sshh!”. Putting susunya yang merekah itu kujilat berulangkali sambil kugigit perlahan-lahan.

     

    Kulepaskan ikatan kain dipinggangnya. Lidahku sekarang bermain dipusar Mbak Diah, sambil tanganku mulai mengusap-usap pahanya.

     

     

     

    Saat kulepaskan ikatan kainnya, tangan Mbak DIah semakin kuat menarik rambutku. “Mas Baayyuuu…Mas Bayuu…” suara Mbak DIah memanggilku perlahan. Aku terus melakukan usapanku. Nafasnya terengah-engah saat CD-nya kutarik kebawah. Tanganku mulai menyentuh daerah kemaluannya. Rambut halus disekitar kemaluannya kuusap-usap perlahan. Saat lidahku baru menyentuh vaginanya, Mbak Diah menarikku berdiri. Pandangan matanya terlihat sayu bagai menyatakan sesuatu.

     

    Pandangannya ditujukan tempat tidurnya. Aku segera mengerti maksud Mbak Diah dan lansung menuntun Mbak Diah menuju tempat tidur. Bau khas vaginanya merangsang sekali. Dengan satu bau khas yang sukar diceritakan.

     

    “Mas Bayuu” bisiknya perlahan di telingaku

     

    Aku terdiam sambil mengikuti apa yang kuinginkan. Mbak DIah sepertinya membiarkan saja. Kami benar-benar tenggelam. Mbak DIah sekarang kutelanjangi. Tubuhnya berbaring telentang sambil kakinya menyentuh lantai. Seluruh tubuhnya sangat menggiurkan.

     

    Mukanya berpaling kesebelah kiri. Matanya terpejam. Tangannya meremas kain sprei. Payudaranya membusung seperti minta disentuh. Putting susunya terlihat berair karena liur hisapanku tadi. Perutnya mulus dan pusarnya cukup indah. Aku melihat gak ada lipatan dan lemak seperti perut perempuan yang telah melahirkan. Memang Mbak Diah tidak memiliki anak karena dia bercerai setelah menikah 3 bulan. Kakinya merapat. Karena itu aku gak dapat melihat seluruh memeknya. Cuma sekumpulan rambut yang angat lebat namun halus menghiasi bagian bawah.

     

     

     

    Kemudian, tanganku terus membuka kancing bajuku satu-persatu. Retsluiting jeansku kuturunkan. Aku telanjang bulat dihadapan Mbak Diah. K0ntolku berdiri tegang melihat kecantikan sosok tubuh Mbak Diah. Payudara yang membusung dihiasi putting kecil dan daerah dibulatan putingnya kemerah-merahan. Indah sekali kupandang dicelah pahanya. Mbak Diah terlentang kaku. Tidak bergerak. Cuma nafasnya saja naik turun. Kemudian aku-pun duduk dipinggir kasur sambil mendekap tubuh Mbak Ayuk. Sungguh lembut tubuh mungil Mbak Diah. Kupeluk dengan gemas sambil kulumat mesra bibir ranumnya. Tanganku meraba seluruh tubuhnya. Sambil memegang putting susunya, kuremas-remas payudaranya yang kenyal itu. Kuusap-usap dan kuremas-remas. Nafsuku terangsang semakin hebat hingga k0ntolku menyentuh pinggang Mbak Diah. Kudekatkan k0ntolku ketangan Mbak Dah yang kemudian digenggamnya k0ntolku erat-erat kemudian diusap-usapnya.

     

     

     

    Memang Mbak DIah tahu apa yang harus dilakukan. Maklumlah dia sudah pernah menikah. Dibandingkan denganku, aku cuma tahu teori dengan melihat film porno saja. Tanganku terus mengusap perutnya hingga kecelah selangkangannya. Terasa lendir basah dikemaluannya. Aku beralih dengan posisi 69. Rupanya Mbak DIah mengerti keinginanku. Kemudian dipegangnya k0ntolku yang sudah tegang dan dimasukkannya kedalam mulutnya. Mataku terpejam-pejam saat lidah Mbak DIah melumat kepala k0ntolku dengan lembut.

     

    K0ntolku dikulum sampai kepangkalnya. Sukar untuk dibayangkan betapa nikmatnya diriku.

     

     

     

    Bibir Mbak Diah terasa menarik-narik batang k0ntolku. Gak tahan diperlakukan begitu, kemudian aku mendesah menahan nikmat. Kubuka lebar-lebar paha Mbak Diah sambil mencari liang vaginanya. Kusibakkan vaginanya yang telah basah itu. Kujulurkan lidahku sambil memegang klitorisnya. Mbak Diah mendesah. Kujilat-jilat dengan lidahku. Kulumat dengan mulutku. Lubang kemaluan Mbak Diah semakin memerah. Bau kemaluannya semakin kuat. Aku jadi semakin terangsang. Seketika kulihat air berwarna putih meleleh dari lubang memeknya. Tentu Mbak Diah sudah cukup terangsang, pikirku.

     

    Aku kembali pada posisi semula. Tubuh kami berhadapan. Tangannya menarik tubuhku untuk rebah bersama. Payudaranya tertindih oleh dadaku. Mbak Diah memperbaiki posisinya saat tanganku mencoba mengusap-usap pangkal pahanya. Kedua Kaki Mbak Diah mulai membuka sedikit saat jariku menyentuh memeknya. Lidahku mulai turun kedadanya. Putting susunya kuhisap sedikit kasar.

     

    Punggung Mbak Diah terangkat-angkat saat lidahku mengitari perutnya. Akhirnya jilatanku sampai kecelah pahanya. Mbak Diah semakin membuka pahanya saat kujilat klitorisnya, kulihat Mbak Diah sudah gak bergerak lagi. Kakinya kadang-kadang menjepit kepalaku sedangkan lidahku sibuk mencari tempat-tempat yang bisa mendatangkan kenikmatan baginya. Desahan Mbak Diah semakin keras dan nafasnya pun yang terus mendesah. Rambutku ditarik-tariknya dengan mata terpejam menahan kenikmatan. Aku bertanya,

     

     

     

    “Gimana Mbak rasanya?” suaraku lembut dan sedikit manja

     

     

     

    Mbak Diah gak menjawab. Mbak Diah hanya membuka matanya sedikit sambil menarik napas panjang. Aku mengerti. Itu bertanda dia setuju. Tanpa disuruh, kuarahkan k0ntolku kearah lubang memeknya yang sekarang sudah terbuka lebar. Lendir dan liurku telah banjir dilubang memeknya.

     

     

     

    Kugesek-gesekan kepala k0ntolku dicairan yang membanjir itu. Perlahan kutekan kedalam. Tekanan k0ntolku memang agak sedikit susah. Terasa sempit. Kulihat Mbak Diah menggelinjang seperti kesakitan.

     

     

     

    “Pelan-pelan mas Bayu” mbak DIah berbicara dengan nafas sesak

     

     

     

    Aku sekarang mengerti, vagina mbak Diah sudah sempit lagi setelah 5tahun gak disetubuhi, walaupun dia sudah gak perawan lagi. Memang aku belum berpengalaman kerena ini merupakan pertama kalinya aku menyetubuhi seorang perempuan walau umurku sudah matang. Kutekan lagi. Kumasukkan k0ntolku perlahan. Kutekan punggungku kedepan. Sangat hati-hati. Terasa memang sempit. Kemudian mbak Diah memegang lenganku erat-erat. Mulutnya meringis seperti orang sedang menggigit tulang. Hanya sebagian k0ntolku yang masuk. Kubiarkan sebentar k0ntolku berhenti, terdiam. Mbak Diah juga terdiam tenang. Sementara itu, kupeluk tubuh mbak Diah dengan gemas sambil memainkan payudaranya, menjilat, mengusap dan menggigit-gigit lembut. Mulutnya kukecup sambil lidahnya kumainkan.

     

    Kami memang sudah sangat bernafsu dan snagat terangsang. Kemudian kutanya dengan suara lembut,

     

     

     

    “Mau diteruskan mbak???”

     

    Mbak Diah membuka matanya. Dibibirnya terlihat senyum manis yang menggairahkan. Kutekan k0ntolku kedalam. Lalu kutarik kebelakang perlahan-lahan. Kuhentakkan perlahan, emang sempit memek mbak Diah, mencengkram seluruh batang k0ntolku.

     

    k0ntolku terasa seperti tersedot didalam memek mbak Diah. Kami semakin terangsang! k0ntolku mulai memasuki vagina mbak Diah lebih lancar. Terasa hangatnya sungguh menggairahkan. Mata mbak Diah terbuka menatapku dengan pandangan yang sayu saat k0ntolku mulai kukeluar-masukkan. Bibirnya dicibirkan rapat-rapat seperti gak sabar menunggu tindakanku selanjutnya. Sedikit demi sedikit k0ntolku masuk sampai kepangkalnya. Mbak Diah mendesah dan mengerang seiring dengan keluar-masuknya k0ntolku divaginanya. Kadang-kadang punggung mbak Diah terangkat-angkat menyambut k0ntolku yang sudah melekat divaginanya. Lama kumaju-mundurkan k0ntolku seiring dengan nafas kami yang semakin gak teratur lagi. Suatu saat kurasakan badan mbak Diah mengejang dengan mata yang tertutup rapat. Tangannya memeluk erat-erat pinggangku.

     

     

     

    Punggungnya terangkat tinggi dan satu keluhan berat keluar dari mulutnya secara pelan. Denyutan divagina mbak Diah terasa kuat seakan melumatkan k0ntolku yang tertanam didalamnya. Goyanganku semakin kuat. Kasur mbak Diah bergoyang mengeluarkan bunyi berdecit-decit. Leher mbak Diah kurengkuh erat sambil badanku rapat menindih badannya. Saat itu seolah-olah kurasakan ada denyutan yang menandakan spermaku akan keluar. Denyutan yang semakin keras membuat k0ntolku semakin menegang keras. Mbak Ayuk mengimbanginya dengan menggoyangkan pinggulnya.

     

     

     

    Goyanganku semakin kencang. Vagina mbak Diah semakin keras menjepit k0ntolku. Kurangkul tubuhnya kuat-kuat. Mbak Diah diam saja. Bersandar pada tubuhku, mbak Diah lunglai seperti gak bertenaga. Kugoyang terus hingga tubuh mbak Diah seperti terguncang-guncang. Mbak Diah membiarkan saja perlakuanku itu. Nafasnya semakin kencang.

     

     

     

    Dalam keadaan sangat menggairahkan, akhirnya aku sampai kepuncak. spermaku muncrat kedalam vagina mbak Diah. Bergetar badanku saat spermaku muncrat. Mbak Diah mengait pahaku dengan kakinya. Matanya terbuka lebar memandangku. Mukanya serius. Bibir dan giginya dicibirkan. Nafasnya terengah-engah.

     

     

     

    Mbak Diah mengerang agak kuat. Waktu kumuntahkan spermaku, tusukanku dengan kuat menghunjam masuk kedalam. Kulihat mbak Diah menggelepar-gelepar. Dadanya terangkat dan kepalanya mendongak kebelakang. Aku lupa segala-galanya. Untuk beberapa saat kami merasakan kenikmatan itu. Beberapa tusukan tadi memang membuat kami sampai kepuncak bersama-sama. Memang hebat. Sungguh puas. Memang inilah pertama kalinya aku melakukan senggama. Mbak Diah lah perempuan pertama yang mendapatkan air perjakaku. Walaupun dia seorang janda, bagiku dia adalah perempuan yang sangat cantik. cerita bokep


    0 0
  • 04/14/18--18:45: Saat Kemah di Puncak

  • film porno Ini terjadi kurang lebih lima tahun yang lalu (tepatnya tanggal 31 Desember 1995). Saat itu kelompok kami (4 lelaki dan 2 perempuan) melakukan pendakian gunung. Rencananya kami akan merayakan pergantian tahun baru di sana. Sampai di tempat yang kami tuju hari telah sore, kami segera mendirikan tenda di tempat yang strategis.

    Setelah semuanya selesai, kami sepakat bahwa tiga orang lelaki harus mencari kayu bakar, sisanya tetap tinggal di perkemahan. Aku, Robby, dan Doni memilih mencari kayu bakar, sedangkan Fadli, Lia dan Wulan tetap tinggal di tenda. Baru beberapa langkah kami beranjak pergi, tiba-tiba Wulan memanggil kami, katanya dia ingin ikut kelompok kami saja (alasannya masuk akal, dia tidak enak hati sebab Fadli adalah pacar Lia, dan Wulan tidak ingin kehadirannya di tenda mengganggu acara mereka). Karena Fadli dan Lia tidak keberatan ditinggal berdua, kami (Robby, Doni, aku dan Wulan) segera melanjutkan perjalanan.

     

     

    Ada beberapa hal yang perlu aku ceritakan kepada pembaca tentang dua orang teman wanita kami. Lia sifatnya sangat lembut, dewasa, pendiam dan keibuan. Sifat ini bertolak belakang dengan Wulan. Mungkin karena dia anak bungsu dan ketiga kakaknya semua lelaki, jadi Wulan sangat manja, tapi terkadang tomboy. Tapi di balik semua itu, kami semua mengakui bahwa Wulan sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Lia.

     

     

    Tidak berapa lama, sampailah kami pada tempat yang dituju, lalu kami mulai mengumpulkan ranting-ranting kering. Sambil mengumpulkan ranting, kami membicarakan apa yang sedang dilakukan Fadli dan Lia di dalam tenda. Tentu saja pembicaraan kami menjurus kepada hal-hal porno. Setelah cukup apa yang kami cari, Robby mengusulkan singgah mandi dulu ke sungai yang tidak berapa jauh dari tempat kami berada. Wulan boleh ikut, tapi harus menunggu di atas tebing sungai sementara kami bertiga mandi. Wulan setuju saja. Singkat kata, sampailah kami pada sungai yang dituju. Aku, Robby dan Doni turun ke sungai, lalu mandi di situ. Wulan kami suruh duduk di atas tebing dan jangan sekali-kali mengintip kami.

     

     

    Ketika sedang asyik-asyiknya kami berkubang di air, tiba-tiba kami mendengar Wulan menjerit karena terjatuh dari atas tebing. Tubuhnya menggelinding sampai akhirnya ia tercebur ke dalam air. Cepat-cepat kami berlari mencoba menyelamatkan Wulan (kami mandi hanya menanggalkan baju dan celana panjang, sedangkan celana dalam tetap kami pakai). Robby yang pandai berenang segera menjemput Wulan, lalu menariknya dari air menuju tepi sungai. Aku dan Doni menunggu di atas. Sampai di tepi sungai, tubuh Wulan basah kuyup. Sepintas kulihat lengan Robby menyentuh buah dada Wulan. Karena Wulan memakai T-Shirt basah, aku dapat melihat dengan jelas lekuk-lekuk tubuh Wulan yang sangat menggairahkan.

     

     

    Wulan merintih memegangi lutut kanannya. Aku dan Doni terpaku tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tapi Robby yang pernah ikut kegiatan penyelamatan dengan sigap membuka ikat pinggang Wulan lalu mencopot celana jeans Wulan sampai lutut. Wulan berteriak sambil mempertahankan celananya agar tidak melorot. Sungguh, saat itu aku tidak tahu apa sebenarnya yang hendak Robby lakukan terhadap Wulan. Segalanya berjalan begitu cepat dan aku tidak menyimpan tuduhan negatif terhadap Robby. Aku hanya menduga, Robby hendak memeriksa luka Wulan. Tapi dengan melorotnya jeans Wulan sampai ke lutut, kami dapat melihat dengan jelas celana dalam wulan yang berwarna off-white (putih kecoklatan) dan berenda. Kontan penisku bangun.

     

     

    Robby memerintahkan aku dan Doni memegangi kedua tangan Wulan. Seperti dihipnotis, kami menurut saja. Wulan semakin meronta sambil menghardik, “Rob, apa-apaan sih.., Lepas.., lepas! Atau saya teriak”.

     

     

    Doni secepat kilat membungkam mulut Wulan dengan kedua telapak tangannya. Robby setelah berhasil mencopot celana jeans Wulan, sekarang mencoba mencopot celana dalam Wulan. Sampai detik ini, akhirnya aku tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Aku tidak berani melarang Robby dan Doni, karena selain aku sudah merasa terlibat, aku juga sangat terangsang saat melihat kemaluan Wulan yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting.

     

    Wulan semakin meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tanganku dan bungkaman Doni membuat usahanya sia-sia belaka. Robby segera berlutut di antara kedua belah paha Wulan. Tangan kirinya menekan perut Wulan, tangan kanannya membimbing penisnya menuju kemaluan Wulan. Wulan semakin meronta, membuat Robby kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya. Doni mengambil inisiatif. Dia lalu duduk mengangkangi tepat di atas dada Wulan sambil tangannya terus membungkam mulut Wulan. Tiba-tiba Wulan berteriak keras sekali.

     

     

    Rupanya Robby berhasil merobek selaput dara Wulan dengan penisnya. Secara cepat Robby menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Untuk beberapa menit lamanya Wulan meronta, sampai akhirnya dia diam pasrah. Yang dia lakukan hanya menangis terisak-isak.

     

    Doni melepaskan telapak tangannya dari mulut Wulan karena dia merasa Wulan tidak akan berteriak lagi. Lalu dia mencoba menarik T-Shirt Wulan ke atas. Di luar dugaan, Wulan kali ini tidak mengadakan perlawanan, hingga Doni dan aku dapat melepaskan T-Shirt dan BH-nya. Luar biasa, tubuh Wulan dalam keadaan telanjang bulat sangat membangkitkan birahi. Tubuhnya mulus, dan buah dadanya sangat montok. Mungkin ukurannya 36B.

     

     

    Doni segera menjilati puting susu Wulan, sementara aku melihat Robby semakin kesetanan mengoyak-ngoyak vagina Wulan yang beberapa saat yang lalu masih perawan. Aku sangat terangsang, lalu aku mulai memaksa mencium bibir Wulan. Ugh, nikmat sekali bibirnya yang dingin dan lembut itu. Aku melumat bibirnya dengan sangat bernafsu. Aku tidak tahu apa yang sedang Wulan rasakan. Aku hanya melihat, matanya polos menerawang jauh langit di atas sana yang menguning pertanda malam akan segera tiba. Tangisnya sudah agak mereda, tapi aku masih dapat mendengar isak tangisnya yang tidak sekeras tadi. Mungkin dia sudah sangat putus asa, shock, atau mungkin juga menikmati perlakuan kasar kami.

     

     

    Tiba-tiba aku mendengar Robby menjerit tertahan. Tubuhnya mengejang. Dia menyemprotkan sperma banyak sekali ke dalam vagina Wulan. Setengah menit kemudian Robby beranjak pergi dari tubuh Wulan lalu tergeletak kelelahan di samping kami. Doni menyuruhku mengambil giliran kedua. Aku bangkit menuju Vagina Wulan. Sepintas aku melihat sperma Robby mengalir ke luar dari mulut vagina Wulan. Warnanya putih kemerahan. Rupanya bercak-bercak merah itu berasal dari darah selaput dara (hymen) Wulan yang robek. Tanpa kesulitan aku berhasil memasukkan penis ke dalam vaginanya. Rasanya nikmat sekali. Licin dan hangat bercampur menjadi satu. Dengan cepat aku mengocok-ngocok penisku maju mundur. Aku mendekap tubuh Wulan.

    Payudaranya beradu dengan dadaku. Dengan ganas aku melumat bibir Wulan. Doni dan Robby menyaksikan atraksiku dari jarak dua meter. Beberapa menit kemudian aku merasakan penisku sangat tegang dan berdenyut-denyut. Aku sudah mencoba menahan agar ejakulasi dapat diperlama, tapi sia-sia. Spermaku keluar banyak sekali di dalam vagina Wulan. Aku peluk erat Tubuh Wulan sampai dia tidak dapat bernafas.

     

     

    Setelah puas, aku berikan giliran berikutnya kepada Doni. Aku lalu duduk di samping Robby memandangi Doni yang dengan sangat bernafsu menikmati tubuh Wulan. Karena lelah, kurebahkan tubuhku telentang sambil memandangi langit yang semakin menggelap.

     

    Beberapa menit kemudian Doni ejakulasi di dalam vagina. Setelah Doni puas, ternyata Robby bangkit kembali nafsunya. Dia menghampiri Wulan. Tapi kali ini dia malah membalikkan tubuh Wulan hingga tengkurap. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuatnya.

     

     

    Ternyata Robby hendak melakukan anal seks. Wulan menjerit saat anusnya ditembus penis Robby. Mendengar itu Robby malah semakin kesetanan. Dia menjambak rambut Wulan ke belakang hingga muka Wulan menengadah ke atas. Dengan sigap Doni menghampiri tubuh Wulan. Aku melihat Doni dengan sangat kasar meremas-remas buah dada Wulan. Wulan mengiba, “Aduhh.., sudah dong Ro.., ampun.., sakit Rob”. Tapi Robby dan Doni tidak menghiraukannya.

     

     

    “Oh, sempit sekali”, teriak Robby mengomentari lubang dubur Wulan yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Robby menarik penisnya aku lihat dubur Wulan monyong. Sebaliknya saat Robby menusukkan penisnya, dubur Wulan menjadi kempot. Tidak lama, Robby mengalami ejakulasi yang kedua kalinya. Setelah puas, sekarang giliran Doni menyodomi Wulan. Melihat itu aku jadi kasihan juga terhadap Wulan. Di matanya aku melihat beban penderitaan yang amat berat, tapi sekaligus aku juga melihat sisa-sisa ketegarannya menghadapi perlakuan ini.

     

     

    Setelah Doni puas, Robby dan Doni menyuruhku menikmati tubuh Wulan. Tapi tiba-tiba timbul rasa kasihan dalam hatiku. Aku katakan bahwa aku sudah sangat lelah dan hari sudah menjelang gelap. Kami sepakat kembali ke perkemahan. Robby dan Doni segera berpakaian lalu beranjak meninggalkan kami sambil menenteng kayu bakar. Wulan dengan tertatih-tatih mengambil celana dalam, jeans, lalu mengenakannya. Aku tanyakan apakah Wulan mau mandi dulu, dan dia hanya menggeleng. Dalam keremangan senja aku masih dapat melihat matanya yang indah berkaca-kaca. Kuambil T-Shirtnya. Karena basah, aku mengepak-ngepakkan agar lebih kering, lalu aku berikan T-Shirt itu bersama-sama dengan BH-nya. Robby dan Doni menunggu kami di atas tebing sungai. Setelah Wulan dan aku lengkap berpakaian, kami beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Robby dan Doni berjalan tujuh meter di depanku dan Wulan.

     

     

    Di perkemahan, Fadli dan Lia menunggu kami dengan cemas. Lalu kami mengarang cerita agar peristiwa itu tidak menyebar. Untunglah Fadli dan Lia percaya, dan Wulan hanya diam saja.

     

     

    Tepat tengah malam di saat orang lain merayakan pergantian tahun baru, kami melewatinya dengan hambar. Tidak banyak keceriaan kala itu. Kami lebih banyak diam, walau Fadli berusaha mencairkan keheningan malam dengan gitarnya.

     

     

    Esoknya, pagi-pagi sekali Wulan minta segera pulang. Kami maklum lalu segera membongkar tenda. Untunglah sesampainya di kota kami, Wulan merahasiakan peristiwa ini. Tapi tiga bulan berikutnya Wulan menghubungiku dan dia dengan memohon meminta aku bertanggung jawab atas kehamilannya. Aku sempat kaget karena belum tentu anak yang dikandungnya itu adalah anakku. Tapi raut wajahnya yang sangat mengiba, membuatku kasihan lalu menyanggupi menikahinya.

     

     

    Satu bulan berikutnya kami resmi menikah. Wulan minta agar aku memboyongnya meninggalkan kota ini dan mencari pekerjaan di kota lain. Sekarang “anak kami” sudah dapat berjalan. Lucu sekali. Matanya indah seperti mata ibunya. Kadang terpikir untuk mengetahui anak siapa sebenarnya “anak kami” ini. Tapi kemudian aku menguburnya dalam-dalam. Aku khawatir kebahagiaan rumah tangga kami akan hancur bila ternyata kenyataan pahitlah yang kami dapati.

     

     

    Akhir Desember 1997 kami menikmati pergantian tahun baru di rumah saja. Peristiwa ini kembali menguak kenangan buruknya. Matanya berkaca-kaca. Aku memeluk dan membelai rambutnya. Beberapa menit kemudian, dalam dekapanku dia mengaku bahwa sebelum peristiwa itu terjadi, sebenarnya dia sudah jatuh cinta padaku. Dia ikut mencari kayu bakar karena dia ingin bisa dekat denganku.

     

    Ya Tuhan, aku benar-benar menyesal. Pengakuannya ini membuat hatiku pedih tak terkira. film porno


    0 0


    cerita hot Saya, sebut saja Ratna (23), seorang sarjana ekonomi. Usai tamat kuliah, saya bekerja pada salah satu perusahaan jasa keuangan di Solo. Sebagai wanita, terus terang, saya juga tidak bisa dikatakan tidak menarik. Kulit tubuh saya putih bersih, tinggi 163 cm dan berat 49 kg. Sementara ukuran bra 34B.

    Cukup bahenol, kata rekan pria di kantor. Sementara, suami saya juga ganteng. Rio namanya. Umurnya tiga tahun diatas saya atau 26 tahun. Bergelar insinyur, ia berkerja pada perusahaan jasa konstruksi. Rio orangnya pengertian dan sabar.

     

     

    Karena sama-sama bekerja, otomatis pertemuan kami lebih banyak setelah sepulang atau sebelum berangkat kerja. Meski begitu, hari-hari kami lalui dengan baik-baik saja. Setiap akhir pekan–bila tidak ada kerja di luar kota–seringkali kami habiskan dengan makan malam di salah satu resto ternama di kota ini. Dan tidak jarang pula, kami menghabiskannya pada sebuah villa di Tawangmangu.

     

     

    Cerita Seks Terbaru - Soal hubungan kami, terutama yang berkaitan dengan ‘malam-malam di ranjang’ juga tidak ada masalah yang berarti. Memang tidak setiap malam. Paling tidak dua kali sepekan, Rio menunaikan tugasnya sebagai suami. Hanya saja, karena suami saya itu sering pulang tengah malam, tentu saja ia tampak capek bila sudah berada di rumah. Bila sudah begitu, saya juga tidak mau terlalu rewel. Juga soal ranjang itu.

     

     

    Bila Rio sudah berkata, “Kita tidur ya,” maka saya pun menganggukkan kepala meski saat itu mata saya masih belum mengantuk. Akibatnya, tergolek disamping tubuh suami–yang tidak terlalu kekar itu-dengan mata yang masih nyalang itu, saya sering-entah mengapa-menghayal. Menghayalkan banyak hal. Tentang jabatan di kantor, tentang anak, tentang hari esok dan juga tentang ranjang.

     

     

    Bila sudah sampai tentang ranjang itu, seringkali pula saya membayangkan saya bergumulan habis-habisan di tempat tidur. Seperti cerita Ani atau Indah di kantor, yang setiap pagi selalu punya cerita menarik tentang apa yang mereka perbuat dengan suami mereka pada malamnya.

     

     

    Tapi sesungguhnya itu hanyalah khayalan menjelang tidur yang menurut saya wajar-wajar saja. Dan saya juga tidak punya pikiran lebih dari itu. Dan mungkin pikiran seperti itu akan terus berjalan bila saja saya tidak bertemu dengan Karyo. Pria itu sehari-hari bekerja sebagai polisi. Usianya mungkin sudah 50 tahun. Gemuk, perut buncit dan hitam.

     

     

    Begini ceritanya, saya bertemu dengan pria itu. Suatu malam sepulang makan malam di salah satu resto favorit kami, entah mengapa, mobil yang disopiri suami saya menabrak sebuah sepeda motor. Untung tidak terlalu parah betul. Pria yang membawa sepeda motor itu hanya mengalami lecet di siku tangannya. Namun, pria itu marah-marah.

     

     

    “Anda tidak lihat jalan atau bagaimana. Masak menabrak motor saya. Mana surat-surat mobil Anda? Saya ini polisi!” bentak pria berkulit hitam itu pada suami saya.

     

     

    Mungkin karena merasa bersalah atau takut dengan gertakan pria yang mengaku sebagai polisi itu, suami saya segera menyerahkan surat kendaraan dan SIM-nya. Kemudian dicapai kesepakatan, suami saya akan memperbaiki semua kerusakan motor itu esok harinya. Sementara motor itu dititipkan pada sebuah bengkel. Pria itu sepertinya masih marah. Ketika Rio menawari untuk mengantar ke rumahnya, ia menolak.

     

     

    “Tidak usah. Saya pakai becak saja,” katanya.

     

    Esoknya, Rio sengaja pulang kerja cepat. Setelah menjemput saya di kantor, kami pun pergi ke rumah pria gemuk itu. Rumah pria yang kemudian kami ketahui bernama Karyo itu, berada pada sebuah gang kecil yang tidak memungkinkan mobil Blazer suami saya masuk.

     

    Terpaksalah kami berjalan dan menitipkan mobil di pinggir jalan. Rumah kontrakan Pak Karyo hanyalah rumah papan. Kecil. Di ruang tamu, kursinya sudah banyak terkelupas, sementara kertas dan koran berserakan di lantai yang tidak pakai karpet.

     

     

    “Ya beginilah rumah saya. Saya sendiri tinggal di sini. Jadi, tidak ada yang membersihkan,” kata Karyo yang hanya pakai singlet dan kain sarung.

     

     

    Setelah berbasa basi dan minta maaf, Rio mengatakan kalau sepedamotor Pak Karyo sudah diserahkan anak buahnya ke salah satu bengkel besar. Dan akan siap dalam dua atau tiga hari mendatang. Sepanjang Rio bercerita, Pak Karyo tampak cuek saja. Ia menaikkan satu kaki ke atas kursi. Sesekali ia menyeruput secangkir kopi yang ada di atas meja.

     

     

    “Oh begitu ya. Tidak masalah,” katanya.

     

    Saya tahu, beberapa kali ia melirikkan matanya ke saya yang duduk di sebelah kiri. Tapi saya pura-pura tidak tahu. Memandang Pak Karyo, saya bergidik juga. Badannya besar meski ia juga tidak terlalu tinggi. Lengan tangannya tampak kokoh berisi. Sementara dadanya yang hitam membusung. Dari balik kaosnya yang sudah kusam itu tampak dadanya yang berbulu. Jari tangannya seperti besi yang bengkok-bengkok, kasar.

     

     

    Karyo kemudian bercerita kalau ia sudah puluhan tahun bertugas dan tiga tahun lagi akan pensiun. Sudah hampir tujuh tahun bercerai dengan istrinya. Dua orang anaknya sudah berumah tangga, sedangkan yang bungsu sekolah di Bandung. Ia tidak bercerita mengapa pisah dengan istrinya.

     

     

    Pertemuan kedua, di kantor polisi. Setelah beberapa hari sebelumnya saya habis ditodong saat berhenti di sebuah perempatan lampu merah, saya diminta datang ke kantor polisi. Saya kemudian diberi tahu anggota polisi kalau penodong saya itu sudah tertangkap, tetapi barang-barang berharga dan HP saya sudah tidak ada lagi. Sudah dijual si penodong.

     

     

    Saat mau pulang, saya hampir bertabrakan dengan Pak Karyo di koridor kantor Polsek itu. Tiba-tiba saja ada orang di depan saya. Saya pun kaget dan berusaha mengelak. Karena buru-buru saya menginjak pinggiran jalan beton dan terpeleset. Pria yang kemudian saya ketahui Pak Karyo itu segera menyambar lengan saya.

     

    Akibatnya, tubuh saya yang hampir jatuh, menjadi terpuruk dalam pagutan Pak Karyo. Saya merasa berada dalam dekapan tubuh yang kuat dan besar. Dada saya terasa lengket dengan dadanya. Sesaat saya merasakan getaran itu. Tapi tak lama.

     

     

    “Makanya, jalannya itu hati-hati. Bisa-bisa jatuh masuk got itu,” katanya seraya melepaskan saya dari pelukannya. Saya hanya bisa tersenyum masam sambil bilang terimakasih.

     

    Ketika Pak Karyo kemudian menawari minum di kantin, saya pun tidak punya alasan untuk menolaknya. Sambil minum ia banyak bercerita. Tentang motornya yang sudah baik, tentang istri yang minta cerai, tentang dirinya yang disebut orang-orang suka menanggu istri orang. Saya hanya diam mendengarkan ceritanya.

     

     

    Mungkin karena seringkali diam bila bertemu dan ia pun makin punya keberanian, Pak Karyo itu kemudian malah sering datang ke rumah. Datang hanya untuk bercerita. Atau menanyai soal rumah kami yang tidak punya penjaga. Atau tentang hal lain yang semua itu, saya rasakan, hanya sekesar untuk bisa bertemu dengan berdekatan dengan saya. Tapi semua itu setahu suami saya lho. Bahkan, tidak jarang pula Rio terlibat permainan catur yang mengasyikkan dengan Pak Karyo bila ia datang pas ada Rio di rumah.

     

     

    Ketika suatu kali, suami saya ke Jakarta karena ada urusan pekerjaan, Pak Karyo malah menawarkan diri untuk menjaga rumah. Rio, yang paling tidak selama sepakan di Jakarta, tentu saja gembira dengan tawaran itu. Dan saya pun merasa tidak punya alasan untuk menolak.

     

     

    Meski sedikit kasar, tapi Pak Karyo itu suka sekali bercerita dan juga nanya-nanya. Dan karena kemudian sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri, saya pun tidak pula sungkan untuk berceritanya dengannya. Apalagi, keluarga saya tidak ada yang berada di Solo. Sekali waktu, saya keceplosan. Saya ceritakan soal desakan ibu mertua agar saya segera punya anak. Dan ini mendapat perhatian besar Pak Karyo. Ia antusias sekali. Matanya tampak berkilau.

     

     

    “Oh ya. Ah, kalau yang itu mungkin saya bisa bantu,” katanya. Ia makin mendekat.

     

    “Bagaimana caranya?” tanya saya bingung.

     

    “Mudah-mudahan saya bisa bantu. Datanglah ke rumah. Saya beri obat dan sedikit diurut,” kata Pak Karyo pula.

     

     

    Dengan pikiran lurus, setelah sebelumnya saya memberitahu Rio, saya pun pergi ke rumah Pak Karyo. Sore hari saya datang. Saat saya datang, ia juga masih pakai kain sarung dan singlet. Saya lihat matanya berkilat. Pak Karyo kemudian mengatakan bahwa pengobatan yang didapatkannya melalui kakeknya, dilakukan dengan pemijatan di bagian perut. Paling tidak tujuh kali pemijatan, katanya. Setelah itu baru diberi obat. Saya hanya diam.

     

     

    “Sekarang saja kita mulai pengobatannya,” ujarnya seraya membawa saya masuk kamarnya. Kamarnya kecil dan pengap. Jendela kecil di samping ranjang tidak terbuka. Sementara ranjang kayu hanya beralaskan kasur yang sudah menipis.

     

     

    Pak Karyo kemudian memberikan kain sarung. Ia menyuruh saya untuk membuka kulot biru tua yang saya pakai. Risih juga membuka pakaian di depan pria tua itu.

     

     

    “Gantilah,” katanya ketika melihat saya masih bengong.

     

     

    Inilah pertama kali saya ganti pakaian di dekat pria yang bukan suami saya. Di atas ranjang kayu itu saya disuruh berbaring.

     

    “Maaf ya,” katanya ketika tangannya mulai menekan perut saya.

     

     

    Terasa sekali jari-jari tangan yang kasar dan keras itu di perut saya. Ia menyibak bagian bawah baju. Jari tangannya menari-nari di seputar perut saya. Sesekali jari tangannya menyentuh pinggir lipatan paha saya. Saya melihat gerakannya dengan nafas tertahan. Saya berasa bersalah dengan Rio.

     

     

    “Ini dilepas saja,” katanya sambil menarik CD saya. Oops! Saya kaget.

     

    “Ya, mengganggu kalau tidak dilepas,” katanya pula.

     

     

    Tanpa menunggu persetujuan saya, Par Karyo menggeser bagian atasnya. Saya merasakan bulu-bulu vagina saya tersentuh tangannya. CD saya pun merosot. Meski ingin menolak, tapi suara saya tidak keluar. Tangan saya pun terasa berat untuk menahan tangannya.

     

     

    Tanpa bicara, Pak Karyo kembali melanjutkan pijatannya. Jari tangan yang kasar kembali bergerilya di bagian perut. Kedua paha saya yang masih rapat dipisahkannya. Tangannya kemudian memijati pinggiran daerah sensitif saya. Tangan itu bolak balik di sana. Sesekali tangan kasar itu menyentuh daerah klitoris saya. Saya rasa ada getaran yang menghentak-hentak. Dari mulut saya yang tertutup, terdengar hembusan nafas yang berat, Pak Karyo makin bersemangat.

     

     

    “Ada yang tidak beres di bagian peranakan kamu,” katanya.

     

     

    Satu tangannya berada di perut, sementara yang lainnya mengusap gundukan yang ditumbuhi sedikit bulu. Tangannya berputar-putar di selangkang saya itu. Saya merasakan ada kenikmatan di sana. Saya merasakan bibir vagina saya pun sudah basah. Kepala saya miring ke kiri dan ke kanan menahan gejolak yang tidak tertahankan.

     

     

    Tangan kanan Pak Karyo makin berani. Jari-jari mulai memasuki pinggir liang vagina saya. Ia mengocok-ngocok. Kaki saya menerjang menahan gairah yang melanda. Tangan saya yang mencoba menahan tangannya malah dibawanya untuk meremas payudara saya. Meski tidak membuka BH, namun remasan tangannya mampu membuat panyudara saya mengeras.

     

     

    Uh, saya tidak tahu kalau kain sarung yang saya pakai sudah merosot hingga ujung kaki. CD juga sudah tanggal. Yang saya tahu hanyalah lidah Pak Karyo sudah menjilati selangkang saya yang sudah membanjir. Terdengar suara kecipak becek yang diselingi nafas memburu Pak Karyo.

     

     

    Ini permainan yang baru yang pertama kali saya rasaran. Rio, suami saya, bahkan tidak pernah menyentuh daerah pribadiku dengan mulutnya. Tapi, jilatan Pak Karyo benar-benar membuat dada saya turun naik. Kaki saya yang menerjang kemudian digumulnya dengan kuat, lalu dibawanya ke atas. Sementara kepalanya masih terbenam di selangkangan saya.

     

    Benar-benar sensasi yang sangat mengasyikan. Dan saya pun tidak sadar kalau kemudian, tubuh saya mengeras, mengejang, lalu ada yang panas mengalir di vagina saya. Aduh, saya orgasme! Tubuh saya melemas, tulang-tulang ini terasa terlepas.

     

     

    Saya lihat Pak Karyo menjilati rembesan yang mengalir dari vagina. Lalu ditelannya. Bibirnya belepotan air kenikmatan itu. Singletnya pun basah oleh keringat. Saya memejamkan mata, sambil meredakan nafas. Sungguh, permainan yang belum pernah saya alami. Pak Karyo naik ke atas ranjang.

     

     

    “Kita lanjutkan,” katanya.

     

    Saya disuruhnya telungkup. Tangannya kembali merabai punggung saya. Mulai dari pundah. Lalu terus ke bagian pinggang. Dan ketika tangan itu berada di atas pantat saya, Pak Karyo mulai melenguh. Jari tangannya turun naik di antara anus dan vagina. Berjalan dengan lambat. Ketika pas di lubang anus, jarinya berhenti dengan sedikit menekan. Wow, sangat mengasyikan. Tulang-tulang terasa mengejang. Terus terang, saya menikmatinya dengan mata terpejam.

     

     

    Bila kemudian, terasa benda bulat hangat yang menusuk-nusuk di antara lipatan pantat, saya hanya bisa melenguh. Itu yang saya tunggu-tunggu. Saya rasakan benda itu sangat keras. Benar. Saat saya berbalik, saya lihat kontol Pak Karyo itu. Besar dan hitam. Tampak jelas urat-uratnya. Bulunya pun menghitam lebat.

     

     

    Mulut saya sampai ternganga ketika ujung kontol Pak Karyo mulai menyentuh bibir vagina saya. Perlahan ujungnya masuk. Terasa sempit di vagina saya. Pak Karyo pun menekan dengan perlahan. Ia mengoyangnya. Bibir vagina saya seperti ikut bergoyang keluar masuk mengikuti goyangan kontol Pak Karyo yang tahan lama.

     

    Hampir sepuluh menit Pak Karyo yang tahan lama asik dengan goyangannya. Saya pun meladeni dengan goyangan. Tubuh kami yang sudah sama-sama telanjang, basah dengan keringat. Tahan lama juga stamina Pak Karyo. Belum tampak tanda-tanda itunya akan ‘menembak’.

     

     

    Padahal, saya sudah kembali merasakan ujung vagina saya memanas. Tubuh saya mengejang. Dengan sedikit sentakan, maka muncratlah. Berkali-kali. Orgasme yang kedua ini benar-benar terasa memabukkan. Liang vagina saya makin membanjir. Tubuh saya kehilangan tenaga. Saya terkapar.

     

     

    Saya hanya bisa diam saja ketika Pak Karyo yang tahan lama masih menggoyang. Beberapa saat kemudian, baru itu sampai pada puncaknya. Ia menghentak dengan kuat. Kakinya menegang. Dengan makin menekan, ia pun memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina saya. Saya tidak kuasa menolaknya. Tubuh besar hitam itu pun ambruk diatas tubuh saya. Luar biasa tahan lama permainan polisi yang hampir pensiun itu. Apalagi dibandingkan dengan permainan Rio yang kurang tahan lama.

     

    Sejak saat itu, saya pun ketagihan dengan permainan Pak Karyo yang tahan lama. Kami masih sering melakukannya. Kalau tidak di rumahnya, kami juga nginap di hotel. Meski, kemudian Pak Karyo juga sering minta duit, saya tidak merasa membeli kepuasan syahwat kepadanya. Semua itu saya lakukan, tanpa setahu Rio.

     

     

    Dan saya yakin Rio juga tidak tahu samasekali. Saya merasa berdosa padanya. Tapi, entah mengapa, saya juga butuh belaian keras Pak Karyo yang tahan lama itu. Entah sampai kapan. cerita hot


(Page 1) | 2 | newer